
PEKARANGAN rumah meski tidak luas sejatinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan sendiri. Salah satunya dapat dimakfaatkan untuk membuat satu kolam kecil dan rak tanaman.
Gagasan sederhana inilah yang dibawa mahasiswa kelompok KKN 33444 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kepada masyarakat Sanggrahan Kidul, Bendungan, Kulon Progo.
Melalui kegiatan sosialisasi penguatan ketahanan pangan, mahasiswa KKN mengenalkan sistem terintegrasi hidroponik dan budidaya lele. Program tersebut dirancang untuk mengubah pekarangan rumah menjadi ruang produktif yang tidak hanya menghasilkan sayuran dan ikan, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.
Ketua kelompok KKN Sanggrahan Kidul, Grita Yuliustius Baktian Isa Mahendra mengatakan pemanfaatan pekarangan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk membangun ketahanan pangan dari lingkungan paling dekat.
“Ketahanan pangan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kami ingin menunjukkan bahwa dari satu rumah dan satu pekarangan pun masyarakat sudah bisa mulai menghasilkan pangan sendiri. Harapannya, setelah memahami konsepnya, masyarakat dapat mengembangkan sistem ini sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing,” ujar Grita, Senin di Yogyakarta.
Hidroponik dan aquaponik
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa pekarangan dapat menghasilkan berbagai kebutuhan pangan, mulai dari sayuran, bumbu dapur, buah, ikan, hingga tanaman obat.
Bahkan, lahan yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan melalui hidroponik vertikal, rak bertingkat, pot, polybag, maupun sistem aquaponik.
Konsep yang diperkenalkan tidak berhenti pada hidroponik. Mahasiswa menggabungkannya dengan budidaya lele melalui sistem aquaponik. Dalam sistem ini, air dari kolam ikan dialirkan menuju tanaman. Limbah ikan kemudian diproses oleh bakteri menjadi nutrisi yang dapat dimanfaatkan tanaman.
Setelah melewati sistem tanaman, air yang lebih bersih kembali ke kolam. Dengan demikian, ikan, tanaman, bakteri, dan air bekerja dalam sebuah ekosistem yang saling terhubung.
Punya nilai ekonomi
Lele dipilih karena relatif mudah dibudidayakan, dapat dipelihara dalam wadah terbatas, familiar bagi masyarakat, sekaligus memiliki nilai ekonomi. Sementara untuk tanaman, masyarakat dikenalkan dengan pakcoy, kangkung, sawi, selada, dan seledri yang dapat menjadi pilihan bagi pemula.
Mahasiswa KKN juga memperkenalkan prototipe sistem aquaponik-hidroponik otomatis. Sistem tersebut menggunakan hidroponik vertikal dengan kapasitas 30 lubang tanaman dan drum ikan berkapasitas 200 liter. Pengoperasiannya didukung pompa, sensor pH, sensor ketinggian air, ESP32, serta pemantauan melalui telepon seluler. Sistem dapat dijalankan secara otomatis maupun manual.
Dalam simulasi yang disampaikan, satu siklus pakcoy diperkirakan berlangsung sekitar 40 hari, sedangkan lele sekitar 70 hari. Dengan asumsi produksi yang digunakan dalam perhitungan, sistem dapat menghasilkan sekitar 8,55 kilogram pakcoy dan 5 kilogram lele. Selain memenuhi kebutuhan keluarga, hasil panen juga dapat dijual apabila terdapat surplus.
Tidak perlu investasi besar
Bagi mahasiswa KKN, program ini menjadi upaya menghadirkan solusi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan investasi besar atau lahan yang luas. Dari sebuah pekarangan, keluarga dapat mulai menanam, memelihara ikan, memenuhi kebutuhan pangan, dan perlahan mengembangkan hasilnya menjadi peluang ekonomi.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kelompok KKN Sanggrahan Kidul yang terdiri atas Adistya Nugraheni, Karissa Zahra Azarine, Fika Salsabila Putri, Rahmatulaila Afifah, Farrel Naufal Nayottama, Grita Yuliustius Baktian Isa Mahendra, Singgih Yogo Pamungkas, Abdul Fattah Rabbani, Zahra Mustika Aulia Nugroho, dan Dina Rahmania.
Semangat tersebut menjadi pesan utama kegiatan KKN Sanggrahan Kidul: ketahanan pangan dimulai dari rumah. Ketika satu keluarga mulai memanfaatkan pekarangannya dan kemudian diikuti keluarga lainnya, langkah kecil tersebut diharapkan dapat tumbuh menjadi kekuatan bersama di tingkat masyarakat. (AGT/L-01)





