
SEORANG mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir UGM, Marchelino Chrisrichy Cosmo Hutama, terpilih untuk mengikuti Nuclear Innovation Bootcamp (NIB) 2026 yang diselenggarakan oleh Nuclear Innovation Alliance pada 26 Juli – 8 Agustus 2026 di McMaster University, Hamilton, Ontario, Kanada.
Marchelino merupakan satu-satunya peserta asal Indonesia di antara 26 peserta terpilih dari 13 negara yang berpartisipasi dalam program ini.
Nuclear Innovation Bootcamp 2026 mengusung tema ‘Nuclear Excitation in Canada and Beyond’ yang menangkap semangat pesatnya kemajuan sistem energi nuklir serta menantang para peserta untuk berinovasi di garis depan kebangkitan teknologi ini.
Kegiatan ini bertujuan melatih keterampilan peserta secara komprehensif untuk berinovasi di bidang energi nuklir sambil melaksanakan proyek kelompok yang dibimbing langsung oleh para ahli.
Latar belakang beragam
Nuclear Innovation Bootcamp tahun ini diikuti oleh 26 peserta dengan latar belakang yang beragam, terdiri atas 8 mahasiswa sarjana, 12 mahasiswa pascasarjana, dan 6 profesional muda.
Marcelino mengatakan keikutsertaannya dalam Nuclear Innovation Bootcamp ini, dirinya berkesempatan memperdalam keilmuannya di bidang teknik nuklir melalui sesi pembelajaran di kelas, perancangan proyek, dan kunjungan lapangan ke berbagai fasilitas nuklir di Ontario, Kanada.
Dalam kunjungan lapangan, Marchelino mempelajari secara langsung sistem manajemen energi dan pemanfaatan reaktor riset di lingkungan kampus melalui kunjungan ke fasilitas reaktor nuklir riset dan laboratorium pemanenan energi McMaster University.
“Kita mempelajari siklus bahan nuklir, sejarah, dan pemanfaatan reaktor Canada Deuterium Uranium dalam menghasilkan energi listrik di Kanada,” katanya, Senin (24/8).
Karakter unik
Kanada kata Marchelino merupakan salah satu pemimpin global dalam teknologi nuklir berkat pengembangan reaktor.
Reaktor ini memiliki karakteristik unik karena dapat menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar dan deuterium oksida (air berat) sebagai moderator sehingga pengoperasiannya tidak bergantung pada pengayaan uranium seperti yang dibutuhkan oleh banyak desain reaktor lainnya.
Dalam kegiatan tersebut Marchelino juga berkesempatan mengamati proses pembangunan Small Modular Reactor (SMR) di Darlington, yang merupakan proyek SMR pertama yang sedang dibangun di Kanada dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2030.
Tak hanya itu, Marchelino juga berkesempatan mempelajari desain dan sistem pengelolaan limbah nuklir melalui penyimpanan geologi dalam di Pusat Demonstrasi Pengelolaan Limbah Nuklir milik The Nuclear Waste Management Organization (NWMO) Kanada.
Aplikasi di lokasi terpencil
Selanjutnya, Marchelino juga melakukan kunjungan ke fasilitas milik Westinghouse Canada yang menguji komponen eVinci, mikroreaktor nuklir generasi lanjut untuk aplikasi di lokasi terpencil.
Di fasilitas ini, ia dikenalkan dengan berbagai komponen dan instrumen yang digunakan dalam perakitan reaktor nuklir.
“Mengikuti Nuclear Innovation Bootcamp menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan perjalanan karier saya. Mungkin selama kuliah saya lebih banyak mempelajari teori, tetapi di sini saya dapat mengamati dan mempelajari secara langsung bagaimana sistem energi nuklir diterapkan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Selama bootcamp ini, Marchelino juga merancang proyek inovasi nuklir bersama dua rekannya, Mubin Hossain Omio dari Bangladesh dan Maxwell Patterson dari Amerika Serikat.
Platform deteksi radiasi
Proyek yang mereka beri nama “RADIAVIS” ini merupakan sebuah platform deteksi radiasi yang ringkas, terjangkau, dan mudah digunakan, yang mengintegrasikan sistem deteksi radiasi canggih dengan perangkat lunak untuk memvisualisasikan radiasi secara real-time dalam bentuk 3D melalui teknologi AR/VR yang dapat diakses melalui gawai pengguna.
Proyek ini mereka kembangkan sejak minggu pertama bootcamp dan dipresentasikan pada hari terakhir dalam kompetisi pitching antarpeserta.
Meskipun harus bersaing dengan tim-tim lainnya, RADIAVIS mendapatkan banyak apresiasi karena dinilai logis dan realistis untuk diterapkan, memiliki manfaat yang luas, serta menawarkan potensi pasar yang menjanjikan.
“Inovasi ini sangat layak direalisasikan karena memiliki potensi pasar yang besar. Fasilitas nuklir dapat memanfaatkannya untuk memantau keselamatan dan keamanan sumber radioaktif, sekaligus mendukung upaya pencegahan proliferasi nuklir,” ujar Joe Zic, Chief Nuclear Officer, McMaster University.
Peluang baru
Bagi Marchelino, pengalaman meninjau langsung pembangkit listrik tenaga nuklir di Kanada menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan akademik dan profesionalnya.
Selain dapat memperdalam pengetahuan dan mengembangkan kemampuan di bidang nuklir, program ini juga membuka berbagai peluang baru bagi perjalanan kariernya di masa mendatang melalui bimbingan langsung dari para ahli dan jejaring yang kuat dengan sesama peserta dari berbagai negara.
Ia berharap pengalaman yang diperolehnya melalui NIB 2026 dapat menginspirasi mahasiswa Indonesia untuk terus berinovasi dan mengembangkan karya-karya kreatif demi mendukung kemajuan teknologi nuklir di Indonesia dan dunia. (AGT/M-01)








