
DI antara ribuan mahasiswa baru UNY yang mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), ada dua penyandang disabiliras. Mereka adalah Aditya Wahyu Pratama dan Waffa Alwan Hilmi, dua mahasiswa baru penyandang disabilitas yang menjalani PKKMB dengan pengalaman dan semangat masing-masing.
Aditya Wahyu Pratama, mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY, merupakan mahasiswa tunanetra asal Magetan, Jawa Timur. Dalam mengikuti PKKMB, Aditya mendapatkan dukungan dari relawan pendamping, senior di himpunan, serta panitia.
Dukungan tersebut membantunya mengikuti rangkaian kegiatan sebagai mahasiswa baru. FISIP UNY juga memberikan sejumlah dukungan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, di antaranya melalui fasilitator yang siap memberikan bantuan.
Mahasiswa dengan disabilitas juga diberikan penanda berupa pita ungu, sementara bagi mahasiswa tertentu tersedia fleksibilitas untuk mengikuti kegiatan secara daring maupun luring sesuai kondisi masing-masing.
Pengalaman baru
Bagi Aditya, mengikuti PKKMB merupakan pengalaman baru sekaligus menjadi bagian berkesan dari awal kehidupannya sebagai mahasiswa. Ia memilih Pendidikan Sejarah karena memiliki ketertarikan untuk mempelajari sejarah secara lebih mendalam.
“Harapan saya, saya ingin menjadi orang yang memiliki pemikiran ke depannya, pemikiran kritis, bagaimana menjadi mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis untuk kemajuan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Semangat yang sama juga ditunjukkan Waffa Alwan Hilmi, mahasiswa baru penyandang tunarungu dari Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY. Selama mengikuti PKKMB, Waffa merasa terbantu dengan arahan kakak-kakak pemandu serta pendampingan dari pelatihan Kawan Tuli Lukisan.
Tertarik seni lukis
Bagi Waffa, salah satu momen paling berkesan selama kegiatan adalah saat mengikuti pameran lukisan Anak Seruker. Ketertarikannya pada seni lukis menjadi salah satu alasan Waffa memilih Program Studi Pendidikan Kriya.
“Momen paling berkesan yaitu waktu pameran lukisan Anak Seruker, karena saya suka melukis dan itu alasan saya masuk Pendidikan Kriya,” tulis Waffa saat diwawancarai melalui media tertulis.
Setelah resmi menjadi bagian dari keluarga besar FBSB UNY, Waffa berharap dapat menjalani kehidupan perkuliahan dengan baik. “Senang dan semoga Waffa bisa survive di FBSB,” tulisnya.
Kisah Aditya dan Waffa menunjukkan bahwa pengalaman PKKMB bukan sekadar pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga menjadi ruang awal bagi setiap mahasiswa untuk merasa diterima, mendapatkan dukungan, dan mulai mengenali potensi dirinya.
Pendampingan dan fasilitas khusus
Bagi keduanya, langkah pertama sebagai mahasiswa UNY telah dimulai. Aditya ingin mengembangkan kemampuan berpikir kritis, sementara Waffa membawa kecintaannya pada seni lukis untuk berkembang melalui Pendidikan Kriya.
Dukungan lingkungan kampus yang inklusif menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Melalui pendampingan dan fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, UNY menghadirkan ruang belajar yang dapat diakses dan dijalani oleh setiap mahasiswa.
PKKMB di FISIP dan FBSB UNY 2026 menjadi awal perjalanan baru bagi Aditya dan Waffa. Lebih dari sekadar mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru, kehadiran keduanya menjadi bukti bahwa UNY terus membangun lingkungan kampus yang inklusif dan ramah difabel. Di kampus ini, setiap mahasiswa memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, berkarya, serta mewujudkan cita-cita. (AGT/A-01)






