
PEMERINTAH melalui Kementerian Kebudayaan RI secara resmi menetapkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional sejak 2025 lalu. Langkah strategis ini menjadi penting guna memperkuat kedudukan keris sebagai salah satu dari 16 warisan budaya tak benda Indonesia yang diakui UNESCO.
Selain itu, peringatan ini menjadi titik balik penting untuk mendefinisikan ulang posisi senjata tradisional Nusantara ini di tengah masyarakat modern.
Kolektor keris sekaligus Akademisi FIB UGM, Abdul Jawat Nur, S.S., M.Hum., menekankan bahwa literasi mengenai keris harus menyasar semua kalangan agar tidak lagi terjebak dalam narasi yang keliru.
Ia menegaskan bahwa keris tidak seharusnya menjadi benda yang eksklusif dan menakutkan. “Keris bisa untuk semua orang. Bahkan, perempuan dahulu juga memiliki keris.
Ageman
“Jangan sampai ada masyarakat yang dengan awam mengatakan bahwa keris itu haram. Keris merupakan budaya adiluhung, terdapat nilai seni, historis dan ekonomi. Kita harus lestarikan,” ungkapnya, Senin (20/4).
Jawat menjelaskan bahwa selain senjata, keris juga berfungsi sebagai ageman, yaitu benda yang memberikan sugesti positif bagi pemakainya. Pemaknaan ini terus berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai senjata perang jarak dekat.
Sebagai ageman, keris secara spesifik disesuaikan dengan profesi pemiliknya. Jawat kemudian mencontohkan para dalang yang kerap mengenakan jenis keris tertentu untuk mendukung profesi mereka.
“Para dalang menggunakan keris Pandawa Cinarito, karena dipercaya mempunyai fungsi untuk melancarkan seseorang berbicara,” jelasnya.
Bertranformasi sesuai jadwal
Memasuki era modern, Jawat menilai fungsi keris kini telah bertransformasi total seiring berkembangnya zaman. Dalam pengamatannya, saat ini hampir tidak ada lagi keris yang diproduksi secara khusus untuk kebutuhan fisik peperangan.
Hal itu mengingat, keris tidak lagi relevan dalam medan tempur modern yang mengandalkan serangan jarak jauh.
“Zaman sudah banyak berubah. Misalnya, dulu keris memiliki panjang 37 cm, kemudian ketika berperang dengan Belanda, konon muncul sejumlah keris yang panjang hingga 1 meter untuk melawan pedang. Kini, keris dibuat berdasarkan permintaan untuk ageman berbagai profesi,” tegasnya.
Panduan beli keris
Terkait beberapa kasus penipuan dalam jual beli keris, Jawat membagikan panduan bagi masyarakat dalam membeli sebuah keris. Sebagai langkah awal, ia menekankan pentingnya memahami pakem, seperti jumlah luk (lekukan) yang maksimal berjumlah 13 untuk keris standar lama.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam mengidentifikasi keris juga dapat ditinjau dari materialnya, yang biasanya terdiri atas perpaduan besi, baja, dan pamor.
“Secara kasat mata kita bisa melihat. Jika warnanya agak abu-abu itu baja, sedangkan yang hitam pekat itu besi. Sedangkan pamornya menggunakan bahan meteorit,” jelasnya.
Meskipun demikian, Jawat mengakui menjaga autentisitas keris di era modern memiliki tantangan yang besar, terutama dengan adanya praktik replikasi oleh perajin keris.
Cerita mistis
Menurutnya, sangat dimungkinkan keris baru dibuat menyerupai keris lama. Ia juga menyoroti fenomena klaim mistis oleh oknum tertentu.
Jawat berpesan, agar masyarakat khususnya generasi muda, tidak dengan mudah terkecoh oleh cerita-cerita yang tidak masuk akal. Menurutnya, hal tersebut tercipta guna menaikkan harga jual.
“Jangan begitu saja percaya dengan cerita-cerita yang aneh. Terlebih harganya yang dijual murah. Tidak mungkin sebuah keris, yang terdapat emas dan berlian, dijual seharga Rp500.000,. Baiknya beli ke kolektor keris saja, atau memesan langsung ke empu,” pungkasnya. (AGT/A-01)







