
PENGAJAR Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta, Dr. Machya Astuti Dewi, mengungkapkan posisi terbaik Indonesia adalah menjadi negara penyeru resolusi konflik.
Hal itu katanya sangat dimungkinkan mengingat Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang kredibel di mata Iran, namun sekaligus bukan musuh Amerika.
“Indonesia dapat menggunakan identitas sebagai negara Muslim demokratis terbesar di dunia untuk mengambil langkah persuasif ke Iran agar tidak mengarah ke eskalasi konflik mengingat dampaknya akan sangat merugikan perekonomian negara-negara Islam yang mayoritas adalah negara berkembang.”
“Sementara kepada Trump Indonesia perlu meyakinkan bahwa serangan militer dapat memunculkan radikalisme di negara-negara Muslim yang cepat atau lambat dapat merugikan kepentingan ekonomi AS akibat aksi-aksi boikot, jelas Machya di Kampus UPN Veteran Yogyakarta, Kamis.
Ancam energi dan pangan
Dr. Machya melanjutkan, Indonesia juga dapat menggunakan posisinya sebagai salah satu pemimpin Global South untuk menyuarakan bahwa konflik Iran versus Israel-AS dapat menganggu keamanan energi dan pangan dunia.
Harapannya peran Indonesia akan menguat dengan dukungan dari berbagai negara yang sama-sama tidak menginginkan harga minyak dunia melonjak akibat konflik.
Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia dapat mengoptimalkan peran membantu penyelesaian konflik melalui berbagai organisasi internasional.
Resolusi perdamaian
Melalui PBB, katanya Indonesia dapat menggalang dukungan di Sidang Umum PBB. Bahkan jika berhadapan dengan veto Indonesia bisa menghimpun kekuatan negara-negara berkembang (Global South) untuk mengeluarkan resolusi Uniting for Peace.
“Walaupun secara hukum tidak sekuat Dewan Keamanan PBB, namun resolusi ini tetap memberi tekanan moral dan politik yang besar ke seluruh dunia,” tuturnya.
Bisa juga melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Posisi Indonesia di OKI sangat disegani karena dianggap netral dibandingkan negara-negara Timur Tengah.
Negara-negara G20
Melalui OKI, imbuhnya Indonesia dapat menggalang solidaritas sesama Muslim menyerukan agar serangan dihentikan.
Juga Indonesia dapar memanfaatkan posisinya di G20 untuk mengingatkan negara-negara besar bahwa perang Iran versus Israel-AS akan menyebabkan melonjaknya harga minyak dunia, yang berdampak inflasi global.
“Ada harapan dalam posisi Indonesia di Board of Peace dapat meningkatkan kepercayaan dunia akan peran Indonesia dalam menjaga keamanan dunia,” katanya.
Rencana Prabowo jadi mediator
Dr. Machya juga menilai rencana Presiden Prabowo untuk jadi penengah konflik Iran versus Israel-AS sangat menarik dan perlu diapresiasi.
Namun, katayna pertanyaan yang muncul adalah mungkinkah peran itu dilakukan atau efektifkah?Ia menilai, mediasi yang efekif memerlukan mediator kredibel yang dipercaya oleh pihak pihak yang sedang berkonflik.
Terkait dengan Iran, Indonesia memiliki hubungan yang baik, apalagi sama-sama negara Muslim. Sementara dengan AS, Indonesia juga memiliki hubungan baik, meski tidak memiliki kekuatan persuasif terhadap AS.
“Sedangkan dengan Israel, Indonesia bahkan tidak memiliki hubungan diplomatik. Tentu fakta ini menjadi penghalang efektivitas mediasi,“ tuturnya.
Political will
Hal yang perlu diperhatikan, lanjutnya adalah political will dari masing-masing pihak yang sedang berkonflik.
Saat ini pertanyaan mendasarnya adalah apakah Iran, Israel dan AS mau menghentikan serangan dan duduk bersama menyelesaikan masalah? Serangan-serangan masih terus berlangsung dan belum ada sinyal bahwa masing-masing pihak bersedia melakukan perundingan.
“Keinginan presiden Prabowo menjadi mediator menjadi bukti nyata dari sikap Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Namun saat ini masih menjadi teka-teki akankah dapat direalisasikan,” ujarnya. (AGT/N-01)








