Festival Sakura di Dekat Gunung Fuji Dibatalkan

PEMERINTAH Jepang membatalkan festival bunga sakura terkenal yang digelar di dekat Gunung Fuji dengan alasan kekhawatiran atas lonjakan jumlah wisatawan dan perilaku buruk pengunjung.

Festival tahunan yang telah berlangsung sekitar satu dekade di Taman Arakurayama Sengen itu biasanya menarik hingga 200 ribu pengunjung setiap tahun. Acara tersebut dikenal dengan panorama Gunung Fuji yang ikonik, panggung pertunjukan, serta deretan stan kuliner khas daerah.

Tahun ini, jumlah wisatawan diperkirakan meningkat tajam seiring melemahnya nilai tukar yen yang membuat Jepang menjadi destinasi lebih terjangkau bagi turis mancanegara.

Keputusan pembatalan ini menyusul berbagai regulasi yang sebelumnya telah diterapkan otoritas setempat di kawasan Gunung Fuji untuk mengendalikan kepadatan pengunjung.

BACA JUGA  Populasi Warga Asing di Jepang Melonjak Capai 3,95 Juta Orang

Saat musim sakura mekar, wisatawan memadati dek observasi Taman Arakurayama Sengen untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji yang dibingkai bunga sakura, dengan Pagoda Chureito berlantai lima sebagai latar depan.

Namun, pemerintah daerah menyebut masalah kemacetan, gangguan terhadap warga, serta penumpukan sampah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Dilaporkan pula terjadi sejumlah pelanggaran, seperti masuk ke rumah warga tanpa izin untuk menggunakan toilet, hingga buang air besar di kebun pribadi.

Di jalan-jalan sekitar taman, kerumunan wisatawan bahkan disebut mendorong anak-anak sekolah hingga terpaksa turun dari trotoar, memicu kekhawatiran orang tua terkait keselamatan.

Dilansir dari euronews.com, lonjakan kunjungan ini dipicu kombinasi pelemahan yen dan viralnya lokasi tersebut di media sosial sebagai spot foto favorit wisatawan.

BACA JUGA  Empat Pakar Hukum UII Hadiri IP Collegium Tokyo 2026

“Bagi Kota Fujiyoshida, Gunung Fuji bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari cara hidup kami,” ujar Wali Kota Shigeru Horiuchi kepada media lokal.

“Namun saya merasakan krisis yang serius karena di balik keindahan pemandangan itu, kehidupan tenang dan martabat warga kami justru terancam,” tambahnya. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

BENCANA gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,4  mengguncang Kolombia bagian barat pada Senin waktu setempat. Akibatnya sebanyak 111 orang tewas  dalam bencana tersebut. Menurut Kolombia, Presiden Abelardo De la Espriella, pihaknya…

Jumlah Korban Meninggal saat Gempa di Jepang Jadi 38 Orang

GEMPA bumi bermagnitudo 7,1 yang melanda Jepang, pekan lalu, masih menyisakan duka. Ribuan warga disebut masih bertahan di tempat-tempat pengungsian. Sementara itu, jumlah korban tewas meningkat menjadi 38 orang. Menurut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

  • August 15, 2026
Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

  • August 15, 2026
Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

Korban Meninggal Dunia akibat Gempa M 7,7 di NTT Terus Bertambah

  • August 15, 2026
Korban Meninggal Dunia akibat Gempa M 7,7 di NTT Terus Bertambah

Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Gangguan Kegiatan Keagamaan di GMS Bantul

  • August 15, 2026
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Gangguan Kegiatan Keagamaan di GMS Bantul

Gunung Merapi Alami 1.205 Gempa dan 98 Awan Panas Guguran

  • August 15, 2026
Gunung Merapi Alami 1.205 Gempa dan 98 Awan Panas Guguran

Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Divonis 6,5 Tahun Penjara

  • August 15, 2026
Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Divonis 6,5 Tahun Penjara