Festival Sakura di Dekat Gunung Fuji Dibatalkan

PEMERINTAH Jepang membatalkan festival bunga sakura terkenal yang digelar di dekat Gunung Fuji dengan alasan kekhawatiran atas lonjakan jumlah wisatawan dan perilaku buruk pengunjung.

Festival tahunan yang telah berlangsung sekitar satu dekade di Taman Arakurayama Sengen itu biasanya menarik hingga 200 ribu pengunjung setiap tahun. Acara tersebut dikenal dengan panorama Gunung Fuji yang ikonik, panggung pertunjukan, serta deretan stan kuliner khas daerah.

Tahun ini, jumlah wisatawan diperkirakan meningkat tajam seiring melemahnya nilai tukar yen yang membuat Jepang menjadi destinasi lebih terjangkau bagi turis mancanegara.

Keputusan pembatalan ini menyusul berbagai regulasi yang sebelumnya telah diterapkan otoritas setempat di kawasan Gunung Fuji untuk mengendalikan kepadatan pengunjung.

BACA JUGA  Safe by The Bell: Tragedi Pahalgam Khasmir

Saat musim sakura mekar, wisatawan memadati dek observasi Taman Arakurayama Sengen untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji yang dibingkai bunga sakura, dengan Pagoda Chureito berlantai lima sebagai latar depan.

Namun, pemerintah daerah menyebut masalah kemacetan, gangguan terhadap warga, serta penumpukan sampah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Dilaporkan pula terjadi sejumlah pelanggaran, seperti masuk ke rumah warga tanpa izin untuk menggunakan toilet, hingga buang air besar di kebun pribadi.

Di jalan-jalan sekitar taman, kerumunan wisatawan bahkan disebut mendorong anak-anak sekolah hingga terpaksa turun dari trotoar, memicu kekhawatiran orang tua terkait keselamatan.

Dilansir dari euronews.com, lonjakan kunjungan ini dipicu kombinasi pelemahan yen dan viralnya lokasi tersebut di media sosial sebagai spot foto favorit wisatawan.

BACA JUGA  Perolehan Medali Olimpiade 2024 Paris, Jepang Belum Tergeser

“Bagi Kota Fujiyoshida, Gunung Fuji bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari cara hidup kami,” ujar Wali Kota Shigeru Horiuchi kepada media lokal.

“Namun saya merasakan krisis yang serius karena di balik keindahan pemandangan itu, kehidupan tenang dan martabat warga kami justru terancam,” tambahnya. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Eropa Siapkan Rencana jika AS Jadi Keluar dari NATO

ANCAMAN Amerika Serikat untuk meninggalkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ditanggapi serius oleh negara-negara Eropa. Mereka pun menyusun rencana untuk bertahan jika AS benar-benar menarik diri dari NATO. Rencana itu…

IndonesiaNext Telkomsel Cetak 9 Ribu Mahasiswa Talenta Digital Bersertifikat

SAAT memasuki satu dekade, IndonesiaNEXT dari Telkomsel telah menjangkau sekitar 96.000 mahasiswa dan mencetak lebih dari 9.000 talenta digital bersertifikat dari 705 perguruan tinggi di 38 provinsi di Indonesia. Penyelenggarakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

2.995 Peserta Ikuti UTBK UPN Veteran Yogyakarta

  • April 16, 2026
2.995 Peserta Ikuti UTBK UPN Veteran Yogyakarta

Sasar Santri, Satlantas Polresta Sidoarjo Tekankan Budaya Safety Riding

  • April 16, 2026
Sasar Santri, Satlantas Polresta Sidoarjo Tekankan Budaya Safety Riding

Waduh! Pria Lebih Rentan Terkena Hemofilia

  • April 16, 2026
Waduh! Pria Lebih Rentan Terkena Hemofilia

Kasau Hadiri Wisuda Perwira Remaja Sarjana Terapan Pertahanan

  • April 16, 2026
Kasau Hadiri Wisuda Perwira Remaja Sarjana Terapan Pertahanan

Baru Enam Hari Jadi Ketua Ombudsman, Hery Susanto Ditahan Kejagung

  • April 16, 2026
Baru Enam Hari Jadi Ketua Ombudsman, Hery Susanto Ditahan Kejagung

UI-Kemen PPPA Sepakat Beri Perlindungan Korban Kekerasan Seksual di FHUI

  • April 16, 2026
UI-Kemen PPPA Sepakat Beri Perlindungan Korban Kekerasan Seksual di FHUI