
BANDARA Internasional Juanda di Kabupaten Sidoarjo memperkuat langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada keselamatan dan kelancaran penerbangan.
Memasuki awal tahun 2026, potensi cuaca ekstrem menjadi perhatian serius dalam operasional bandara. Sebelumnya, cuaca ekstrem berupa angin puting beliung terjadi pada Kamis (8/1) dan menyebabkan sejumlah fasilitas bandara terdampak.
Peristiwa tersebut mengakibatkan puluhan pohon tumbang, peralatan di terminal kargo rusak, serta sejumlah kendaraan parkir mengalami kerusakan. Dampak cuaca ekstrem itu juga memaksa tiga penerbangan dialihkan ke Bandara Ahmad Yani Semarang.
Sebagai langkah antisipasi, Bandara Internasional Juanda kini melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Lanudal Juanda, Otoritas Bandar Udara Wilayah III, AirNav Surabaya, BMKG Juanda, maskapai penerbangan, serta ground handling. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan operasional bandara tetap berjalan sesuai dengan ketentuan keamanan dan keselamatan penerbangan.
General Manager Bandara Internasional Juanda Muhammad Tohir mengatakan, pihaknya memperkuat mekanisme mitigasi dengan meningkatkan koordinasi secara real-time bersama BMKG Juanda terkait informasi cuaca ekstrem.
“Sebagai langkah antisipasi, Bandara Internasional Juanda memperkuat mekanisme mitigasi berupa peningkatan koordinasi real-time dengan BMKG Juanda, pengetatan pemeriksaan periodik fasilitas di kawasan terminal maupun sisi udara, serta memastikan penerapan standard operating procedure (SOP) dalam penanganan cuaca ekstrem,” ujar Tohir, Kamis (15/1).
Ia menegaskan, seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memastikan layanan kebandarudaraan tetap memenuhi aspek keamanan, keselamatan, dan pelayanan, yang menjadi prioritas utama Bandara Internasional Juanda. (OTW/S-01)







