
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyakit menular campak di lokasi pengungsian yang masih menampung ratusan ribu warga terdampak bencana.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemantauan penyakit di pengungsian dilakukan setiap hari melalui sistem pelaporan terintegrasi. Data tersebut digunakan sebagai dasar penyesuaian distribusi obat-obatan, tenaga medis, dan tenaga kesehatan.
“Pemantauan dilakukan harian, sehingga obat-obatan dan tenaga kesehatan bisa disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatra di Grha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).
Berdasarkan hasil pemantauan, penyakit yang paling banyak ditemukan di lokasi pengungsian meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare. “Obat-obatan kita sesuaikan dengan jenis penyakit yang paling banyak muncul,” katanya.
Selain penyakit umum, Kemenkes memberi perhatian khusus terhadap penyakit menular dengan tingkat penularan tinggi, terutama campak.
“Penyakit menular yang kita amati dengan sangat dekat dan paling kita waspadai adalah campak,” ujar Menkes Budi.
Ia menjelaskan, campak memiliki tingkat penularan yang sangat cepat dan berisiko menimbulkan wabah di lingkungan pengungsian yang padat. Saat ini, Kemenkes telah mengidentifikasi kasus campak di lima kabupaten terdampak bencana. Deteksi dini dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas, khususnya pada anak-anak.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah telah menjalankan program imunisasi khusus di wilayah yang terdeteksi kasus campak.
“Kita sudah melakukan imunisasi program khusus yang mulai berjalan sejak minggu ini,” jelasnya.
Imunisasi difokuskan pada anak-anak di lokasi pengungsian serta wilayah dengan risiko penularan tinggi. Upaya pencegahan penyakit menular ini menjadi bagian penting dari penanganan bencana guna menjaga kondisi kesehatan masyarakat tetap terkendali selama masa pemulihan. (*/S-01)







