Film sebagai Medium Cerita Warga

Di salah satu ruas gang sempit di kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat, ada sebagian warganya yang berprofesi sebagai penjual gado-gado. Mereka bekerja secara kolaboratif untuk memproduksi penganan tersebut. Misalnya, siapa yang bertugas meracik bumbu, siapa yang kebagian membuat lontong/ketupat. Setelah masak, kemudian mereka berpencar berjualan dengan gerobak ke sekitaran kawasan Jakarta Barat.

Kiprah para pedagang kecil itu terekam dalam film dokumenter ‘Gado-gado di Gang Buntu’, yang diputar pada acara nonton bareng di Teater Salihara, di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, pada Selasa (25/11/2025). Selain film itu, ada juga karya lainnya garapan komunitas warga Cempaka Putih yang berjudul ‘Odong-odong. Kereta di Jalan Kota’.

Salah satu film peserta program Titik Temu Jakarta 500

Acara pembuatan dan pemutaran film ini merupakan bagian Perayaan Partisipatif Warga menyongsong Jakarta  yang akan berusia 500 tahun pada 2027. Event ini diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Bappeda dan Dinas Kebudayaan, bersama jejaring komunitas warga. Selain nonton bareng, juga digelar diskusi film Cerita Warga yang menghadirkan Ketua Asosiasi Sutradara Indonesia, Agung Sentausa dan Sugar Nadia, selaku Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta

BACA JUGA  Warga Pekanbaru Diminta Laporkan Pedagang Jual Minyakita di Atas HET

Kegiatan yang merupakan bagian Program Titik Temu Jakarta 500 ini menampilkan 18 film pendek dan 56 konten media sosial yang diproduksi oleh warga dari enam kelurahan perintis: Lenteng Agung, Cempaka Putih Timur, Duri Kepa, Marunda, Cipinang Besar Utara, dan Pulau Panggang.

“Mereka sebelumnya telah mengikuti Pelatihan Produksi Cerita Warga dan pendampingan intensif yang berlangsung sepanjang Oktober hingga November 2025,” ujar Heni Wiradimaja, salah satu dari perwakilan Titik Temu.

Menurut Heni acara ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi warga sebagai penutur utama dalam membaca, memahami, dan menyampaikan realitas sosial-budaya di lingkungannya, sekaligus memperkuat upaya menjadikan Jakarta sebagai kota yang tumbuh melalui partisipasi dan kreativitas bersama.

Rangkaian kegiatan menuju penayangan di Salihara berangkat dari proses pelumbungan, ketika warga melakukan pembacaan ulang atas lingkungan hidupnya, mengumpulkan pengetahuan lokal, memetakan isu, dan menyusun gagasan bersama.

BACA JUGA  Lim Ji Yeon Ahlinya Chemistry Wanita

Tahapan ini kemudian berkembang menjadi proses cipta bersama melalui
penulisan naskah, pengambilan gambar, hingga penyusunan cerita secara kolaboratif dengan memanfaatkan
perangkat sederhana seperti telepon selular dan bentuk gawai lainnya.

Selama pendampingan produksi, warga diperkenalkan pada metode kerja baku dalam dunia film, mulai dari penulisan skenario hingga penyuntingan gambar. Hasil karya kemudian dipanen dan diapresiasi lebih awal dalam Mini Festival di enam kelurahan pada 22–23 November 2025, sebelum akhirnya dipertemukan dalam satu ruang tayang melalui nonton bareng dan diskusi di Teater Salihara.

Acara bonton bareng dan diskusi di Salihara menjadi puncak dari seluruh rangkaian proses tersebut. Dalam forum yang mempertemukan partisipan, pegiat film, perangkat kelurahan, masyarakat umum, hingga pejabat di lingkup Pemprov DKI Jakarta, karya-karya warga menjadi dasar refleksi mengenai pentingnya menempatkan warga sebagai produsen
pengetahuan dan narasi budaya kota.

BACA JUGA  Ballerina Bersinar di Tengah Penantian Kembalinya John Wick

Diskusi berkembang pada bagaimana pengalaman warga dapat memperkaya ekosistem kreatif Jakarta, sekaligus mendukung agenda Jakarta Kota Sinema yang sedang dirintis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Proses ini menunjukkan bahwa film dan konten berbasis warga bukan hanya
sarana ekspresi, tetapi juga medium demokratisasi budaya yang membuka ruang dialog antarkomunitas warga dan pemangku kepentingan,” ujar Agung, dalam sesi diskusi.

Program Titik Temu Jakarta 500 memperlihatkan bahwa masa depan sinema kota dapat bertumbuh dari
ruang-ruang kecil yang dikelola secara kolaboratif dan penuh rasa memiliki.
“Jakarta Kota Sinema berbasis warga kini bukan lagi sebatas gagasan, melainkan kenyataan yang sedang dibangun bersama melalui praktik publikasi budaya warga yang terus berkembang,” tegas Nadia. (Adi/N-1)

Adiyanto

Related Posts

Operasional 1.512 SPPG di Pulau Jawa Dihentikan Sementara

UNTUK meningkatkan pelayanan mereka terhadap standar operasional, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional 1.512 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di wilayah II. Hal tersebut diungkapkan Direktur Pemantauan dan Pengawasan…

BPOM Kembali Temukan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

RAMADAN sejatinya menjadi berkah bagi para pelaku usaha untuk menjual jajanan buka puasa. Sayangnya, masih saja ada oknum pedagang nakal yang mencampurkan jajanan mereka dengan zat berbahaya. Padahal pemerintah kerap…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Operasional 1.512 SPPG di Pulau Jawa Dihentikan Sementara

  • March 12, 2026
Operasional 1.512 SPPG di Pulau Jawa Dihentikan Sementara

BPOM Kembali Temukan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

  • March 11, 2026
BPOM Kembali Temukan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

KPK Tahan Bupati Rejang Lebong Hingga Akhir Bulan

  • March 11, 2026
KPK Tahan Bupati Rejang Lebong Hingga Akhir Bulan

Kolaborasi Desainer Deden dan Brand Scraf Kisera Pukau Pengunjung

  • March 11, 2026
Kolaborasi Desainer Deden dan Brand Scraf Kisera Pukau Pengunjung

Pemkot Bandung dan KPK Perkuat Pencegahan Korupsi

  • March 11, 2026
Pemkot Bandung dan KPK Perkuat Pencegahan Korupsi

26.692 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Mudik Lebaran 

  • March 11, 2026
26.692 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Mudik Lebaran