Bosscha ITB Dorong Literasi Sains dan Kesadaran Polusi Cahaya

OBSERVATORIUM Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB)menyerahKan tudung lampu kepada masyarakat setempat sebagai simbol komitmen bersama dalam upaya pengurangan polusi cahaya.

Penyerahan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penerapan tata kelola pencahayaan yang lebih baik, ramah lingkungan, dan selaras dengan kebutuhan penelitian astronomi.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano mengatakan, langkah itu penting mengingat peningkatan polusi cahaya di wilayah Lembang mulai berdampak pada kualitas langit malam, yang menjadi prasyarat utama riset astronomi serta bagian dari identitas kawasan wisata ilmiah.

“Bosscha harus tetap menjadi ruang sains dan ruang hidup masyarakat dan Observatorium Bosscha juga merupakan bagian penting dari ITB dan memiliki nilai sejarah serta ilmiah yang besar,” ungkap Irwan dalam acara Open House Observatorium Bosscha 2025 bertema ‘Menata Cahaya, Menjaga Bumi’ pada Sabtu (22/11).

Program diseminasi

Observatorium Bosscha.(Dok.MN)

Acara itu menjadi puncak rangkaian program diseminasi sains Observatorium Bosscha yang didukung oleh Program In-Saintek Kemdiktisaintek.

BACA JUGA  SBM-ITB kini Diakui di Dunia Internasional

Kegiatan ini menghadirkan masyarakat sekitar melalui jalur undangan, mulai dari keluarga, komunitas pendidik, perangkat RW dan desa. Perwakilan kecamatan, Karang Taruna, hingga pelaku UMKM dan wisata di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Observatorium Bosscha kata Irwan adalah aset nasional yang menghadapi tantangan serius. ITB melihat potensi berkembangnya wilayah sekitar, sehingga penting untuk meningkatkan awareness masyarakat dan pemerintah agar kawasan ini bisa berkembang sebagai pusat pendidikan sekaligus wisata.

Dan kolaborasi pemerintah daerah dan industri, telah menjadi bagian dari sejarah Bosscha sejak didirikan.

“Bosscha dibangun pada 1923–1928 melalui kerja sama pemilik lahan, industri teh dan pemerintah daerah kala itu. Kini, kawasan ini telah berkembang bukan hanya pada optik, tetapi juga radio astronomi melalui sistem VGOS. Ini membuka cakrawala riset yang luar biasa,” terangnya.

BACA JUGA  ITB Terima 1.911 Calon Mahasiswa Baru dari Jalur SNBP 2025

Menurut Irwan, pengetahuan sains akan terus berubah, namun esensi ilmu kemanusiaan tetap harus menjadi dasar dalam pengembangan kawasan Bosscha ke depan. Termasuk potensi pengembangan konsep ‘wisata gelap’ (dark tourism) yang memanfaatkan minimnya polusi cahaya sebagai daya tarik ilmiah dan wisata.

Cagar budaya dan aset

Teropong boscha. (Dok.MN)

Sementara itu, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyampaikan dukungan penuh pemerintah daerah dalam menjaga kawasan Bosscha sebagai cagar budaya dan aset nasional.

“Banyak yang belum memahami dampak polusi cahaya. Cahaya yang seharusnya mengarah ke bawah justru menerangi langit, membuat masyarakat sulit melihat bintang. Kami siap berkolaborasi dengan akademisi dan pemerintah pusat untuk menjaga Bosscha,” jelasnya.

Open House tahun ini juga diramaikan oleh Festival STEAM, yang menghadirkan berbagai profesi terkait sains dan teknologi.

BACA JUGA  ITB dan PAAI Gelar Konferensi Internasional Akuifer Pesisir

Pengunjung dapat bertemu ahli geologi dari PVMBG, pemadam kebakaran K3L ITB, ahli gizi RS Santo Borromeus. Dokter hewan BIB Lembang, KPSBU Lembang, Program Studi Astronomi ITB serta KIBA FSRD ITB yang menunjukkan peran desainer dan ilustrator dalam komunikasi sains.

Pusat penelitian

Festival dikemas melalui titik-titik kunjungan yang dapat dieksplorasi secara bebas, termasuk tur fasilitas Bosscha, pengamatan Matahari dan Bulan, Pojok Karir STEAM untuk anak, sesi bercerita, puppet making, hingga aktivitas seni dan eksperimen sains sederhana.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas literasi sains masyarakat sekaligus memperkuat peran Observatorium Bosscha sebagai pusat penelitian, pendidikan, dan pelestarian lingkungan. (zahra/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Risiko Kehamilan Remaja Lebih Tinggi

MASYARAKAT diharapkan meningkatkan kepedulian terhadap risiko kehamilan, terutama pada perempuan usia remaja. Risiko kehamilan pada remaja dinilai lebih tinggi dibandingkan perempuan dewasa. “Risiko ini antara lain preeklamsia, kelahiran prematur, hingga…

Puasa Bisa Turunkan Berat Badan Asal Asupan Terkontrol

RAMADAN kerap dimaknai sebagai momentum memperbaiki pola hidup, termasuk dalam pengaturan makan dan pengendalian berat badan. Waktu konsumsi yang terbatas dari subuh hingga maghrib sering dianggap memberi peluang terjadinya penurunan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Risiko Kehamilan Remaja Lebih Tinggi

  • February 20, 2026
Risiko Kehamilan Remaja Lebih Tinggi

Jateng Panen Raya Serentak, Target Produksi 10,55 Juta Ton GKG

  • February 20, 2026
Jateng Panen Raya Serentak, Target Produksi 10,55 Juta Ton GKG

Sinkhole di Gunungkidul Dipicu Curah Hujan dan Kawasan Karst

  • February 20, 2026
Sinkhole di Gunungkidul Dipicu Curah Hujan dan Kawasan Karst

Pangeran Andrew Dibebaskan Dari Tahanan Tapi Tetap Diselidiki

  • February 20, 2026
Pangeran Andrew Dibebaskan Dari Tahanan Tapi Tetap Diselidiki

Puasa Bisa Turunkan Berat Badan Asal Asupan Terkontrol

  • February 20, 2026
Puasa Bisa Turunkan Berat Badan Asal Asupan Terkontrol

Pemprov Jabar Buka Program Mudik Gratis 2026

  • February 20, 2026
Pemprov Jabar Buka Program Mudik Gratis 2026