UGM Soroti Dampak Penundaan Kenaikan Cukai Rokok

PEMERINTAH memutuskan untuk tidak menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2026. Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hempri Suyatna, menilai keputusan tersebut sebagai kebijakan jangka pendek yang berorientasi pada stabilitas sosial.

“Kebijakan ini diambil untuk meminimalkan dampak sosial yang lebih luas,” ujarnya, Jumat (14/11).

Menurut Hempri, keputusan menunda kenaikan cukai dapat dipahami di tengah kondisi industri yang sedang lesu. Banyak industri padat karya yang tutup dan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena itu, pemerintah dinilai ingin menahan potensi bertambahnya pengangguran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aspek kesehatan publik tidak boleh terabaikan. Edukasi dan kampanye bahaya merokok harus tetap digencarkan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengendalian konsumsi.

BACA JUGA  UGM Sambut 10.629 Mahasiswa Baru Lewat PIONIR 2025

Menanggapi anggapan bahwa kenaikan cukai memicu peredaran rokok ilegal, Hempri berpendapat persoalan tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor. “Merebaknya rokok ilegal tidak semata-mata akibat naiknya cukai. Lemahnya pengawasan dan koordinasi antar lembaga juga berperan,” katanya.

Ia menyoroti perlunya penguatan penegakan hukum dan koordinasi antara Bea Cukai, aparat penegak hukum, lembaga peradilan, hingga institusi kesehatan.

Terkait kesejahteraan petani dan buruh rokok, Hempri menilai kondisi di lapangan belum sebanding dengan kontribusi besar mereka terhadap penerimaan negara. Ia menyebut penelitian mahasiswanya pada 2023 yang menunjukkan kuatnya nilai budaya tembakau sebagai “emas hijau”.

“Meski ekonomi tidak menguntungkan, petani tetap setia menanam karena tembakau dianggap sebagai berkah,” ujarnya.

BACA JUGA  UGM-Universiti Malaya Bahas Inovasi Atasi Malaria dan Dengue

Hempri menilai faktor budaya serta minimnya pendampingan pemerintah membuat program alih profesi berjalan lambat. Ia mendorong pemerintah melihat kebijakan cukai secara multidimensi.

“Analisis sosial, kesehatan, ekonomi, dan budaya perlu dilakukan agar muncul solusi yang menjadi jalan tengah terbaik,” tegasnya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

KAI Logistik Perkuat Keamanan Angkutan B3 Lewat Kereta Api

KAI Logistik terus mengoptimalkan aspek keamanan dan keselamatan dalam pengangkutan komoditas khusus, termasuk Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Layanan ini menjadi alternatif distribusi B3 yang terstandar dan dikelola ketat sesuai…

Jamkrindo Catat Penjaminan Rp35,8 Triliun di Jateng-DIY di 2025

PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) mencatat volume penjaminan sebesar Rp35,8 triliun di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang 2025. Dari total tersebut, sebanyak 577.454 pelaku usaha mikro,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Prof Noorhaidi Siap Bawa UIN Sunan Kalijaga Bereputasi Global

  • February 12, 2026
Prof Noorhaidi Siap Bawa UIN Sunan Kalijaga Bereputasi Global

Sultan Minta Kepala DPMPTSP DIY Ubah Gaya Kepemimpinan

  • February 12, 2026
Sultan Minta Kepala DPMPTSP DIY Ubah Gaya Kepemimpinan

Tolak Keterangan Kusnadi, Khofifah Bantah Terima Fee Ijon Hibah

  • February 12, 2026
Tolak Keterangan Kusnadi, Khofifah Bantah Terima Fee Ijon Hibah

Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Tasikmalaya Naik

  • February 12, 2026
Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Tasikmalaya Naik

UGM Gandeng NVIDIA dan Indosat untuk Kembangkan Riset

  • February 12, 2026
UGM Gandeng NVIDIA dan Indosat untuk Kembangkan Riset

KAI Logistik Perkuat Keamanan Angkutan B3 Lewat Kereta Api

  • February 12, 2026
KAI Logistik Perkuat Keamanan Angkutan B3 Lewat Kereta Api