Penanganan Tepat Kasus Keracunan Makanan di Sekolah

MARAKNYA kasus keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama di kalangan pelajar, menjadi perhatian serius. Tak hanya soal pengawasan makanan, namun juga pentingnya pengetahuan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama pada korban yang diduga mengalami keracunan.

Masih banyak masyarakat, termasuk guru dan tenaga kependidikan, yang belum memahami perbedaan antara alergi makanan dan keracunan makanan, sehingga sering kali penanganan di lapangan tidak tepat.

“Sering kali saat terjadi kasus di sekolah, siswa yang mengalami gejala keracunan hanya dikumpulkan di satu ruangan sambil menunggu pertolongan lebih lanjut,” ujar Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K), Kamis (17/10).

Prof. Tri menjelaskan, alergi makanan dan keracunan makanan memiliki penyebab dan mekanisme yang sangat berbeda.

BACA JUGA  610 Mahasiswa UGM Raih Beasiswa LPDP 2025

“Alergi makanan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu dalam makanan. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi bisa menimbulkan biduran, sesak napas, hingga gangguan pencernaan,” jelasnya.

Sementara itu, keracunan makanan terjadi akibat masuknya kuman atau zat berbahaya dari makanan atau minuman yang dikonsumsi. Gejala biasanya berupa sakit perut, muntah, dan diare, yang muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah makan.

Menurutnya, sebagian besar kasus keracunan bersifat ringan, tetapi bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Beberapa bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E. coli) menjadi penyebab umum dengan mekanisme yang berbeda.

“Salmonella bisa menembus asam lambung dan menyerang dinding usus, sedangkan E. coli penghasil toksin Shiga dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat,” ujarnya.

BACA JUGA  Mencegah Alzheimer Dengan Rumus MAS OK

Dalam konteks Program MBG di sekolah, Prof. Tri menekankan pentingnya penanganan cepat ketika siswa menunjukkan gejala keracunan.

“Langkah pertama adalah mencegah dehidrasi dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Jika muntah masih terjadi, minum sedikit demi sedikit, dan segera cari pertolongan medis bila kondisi memburuk,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa demam yang muncul saat keracunan merupakan mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi.

“Peningkatan suhu tubuh membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan mengoptimalkan kerja sistem imun,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Tri menegaskan pentingnya pengawasan ketat pada seluruh rantai produksi makanan dalam Program MBG, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.

BACA JUGA  Pemerintah Perlu Data Akurat Potensi Geothermal di Indonesia

“Setiap tahap bisa menjadi titik masuk bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan dengan disiplin,” tegasnya.

Di akhir penjelasannya, ia menekankan bahwa pemahaman masyarakat tentang perbedaan alergi dan keracunan, serta upaya pencegahan, menjadi kunci menghindari risiko fatal.

“Kata kuncinya adalah menjaga mutu bahan, mematuhi standar kebersihan, dan bertindak cepat saat gejala muncul,” pungkasnya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) berduka atas wafatnya Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch., Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB dan salah seorang tokoh penting dalam perkembangan pendidikan desain interior…

1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy

AJANG olahraga lari Borobudur 100 tidak hanya menjadi ajang unjuk kebugaran, tetapi juga sarana untuk menggalang kepedulian sosial, guna mendukung kebutuhan medis dan harian anak-anak penyandang cerebral palsy. Project Director…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polresta Sleman Selidiki Kasus Pembuangan Bayi

  • September 27, 2026
Polresta Sleman Selidiki Kasus Pembuangan Bayi

Muzani Tegaskan UUD 1945 tak Bisa Diubah Secara Gegabah

  • September 27, 2026
Muzani Tegaskan UUD 1945 tak Bisa Diubah Secara Gegabah

Sleman Siap Gelar Musyawarah Kalurahan Pergantian Lurah Antarwaktu

  • September 27, 2026
Sleman Siap Gelar Musyawarah Kalurahan Pergantian Lurah Antarwaktu

Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

  • September 27, 2026
Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

  • September 27, 2026
Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit

  • September 27, 2026
Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit