Quiet Quitting: Cara Gen Z Melawan Budaya Kerja Tanpa Batas

FENOMENA  quiet quitting kini ramai dibicarakan di dunia kerja, terutama di kalangan generasi Z. Istilah ini memang terdengar ekstrem, seolah-olah seseorang diam-diam berhenti kerja. Padahal, maknanya jauh lebih sederhana: quiet quitting adalah keputusan untuk bekerja secukupnya, sesuai dengan tanggung jawab dan jam kerja yang sudah disepakati. Tidak lebih, tidak kurang.

Para pelaku quiet quitting bukanlah pemalas. Mereka tetap datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tapi menolak untuk terus “on” setelah jam kerja berakhir atau terjebak dalam budaya lembur tanpa henti. Mereka memilih untuk menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental daripada mengejar pengakuan lewat kerja berlebihan.

Fenomena ini muncul sebagai reaksi terhadap budaya kerja lama yang dikenal dengan istilah hustle culture, pandangan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan bekerja sekeras mungkin, bahkan sampai mengorbankan waktu pribadi. Banyak Gen Z yang melihat budaya ini sudah tidak relevan di era sekarang, terutama setelah pandemi Covid-19 yang membuka mata banyak orang tentang pentingnya kesehatan, keluarga, dan waktu istirahat.

BACA JUGA  Indeks Kehidupan Beragama 2025: Gen Z Paling Toleran

Di sisi lain, quiet quitting juga menjadi bentuk protes halus terhadap sistem kerja yang sering kali tidak memberi penghargaan setimpal. Ketika kontribusi ekstra tidak diakui atau tidak dibayar, sebagian pekerja memilih untuk menarik batas yang jelas: bekerja secukupnya sesuai kontrak.

Bagi perusahaan, fenomena ini bisa menjadi alarm. Bukan karena karyawannya malas, tapi karena mereka mulai kehilangan rasa keterikatan dan makna dalam pekerjaannya. Jawabannya bukan dengan menekan, tapi dengan mendengarkan. Memberi ruang dialog, fleksibilitas, dan kompensasi yang adil akan jauh lebih efektif daripada mendorong semangat “kerja keras tanpa henti”.

Quiet quitting bukan sekadar tren media sosial. Ini adalah sinyal bahwa generasi baru sedang mendefinisikan ulang arti bekerja: bukan untuk hidup bekerja, tapi bekerja untuk hidup. (*/S-01)

BACA JUGA  Bahasa Gaul Gen Z dan Alpha Lagi Viral di TikTok

Siswantini Suryandari

Related Posts

FH UII Peringkat 1 PTS Nasional Versi THE WUR

FAKULTAS Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) meraih peringkat pertama tingkat nasional untuk kategori perguruan tinggi swasta (PTS) dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) by Subject Law…

PSHK UII Soroti Penggantian Calon Hakim Konstitusi Usulan DPR

DPR RI mengganti nama calon Hakim Konstitusi (MK) usulannya dari Inosentius Samsul menjadi Adies Kadir. Pergantian ini menuai sorotan karena Adies sebelumnya pernah dinonaktifkan sebagai anggota DPR RI terkait kehadirannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tim SAR Temukan Tiga Bodypack Korban Longsor di Hari Keenam

  • January 29, 2026
Tim SAR Temukan Tiga Bodypack Korban Longsor di Hari Keenam

Gilas Garuda Jaya, Samator Jaga Asa ke Final Four Proliga

  • January 29, 2026
Gilas Garuda Jaya, Samator Jaga Asa ke Final Four Proliga

KLH Gandeng ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

  • January 29, 2026
KLH Gandeng  ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

Aktivis Perempuan Kecam Pembongkaran Pagar Mutiara Regency

  • January 29, 2026
Aktivis Perempuan Kecam Pembongkaran Pagar Mutiara Regency

Curi Peralatan Foto, Ibu dan Anak Ditangkap

  • January 29, 2026
Curi Peralatan Foto, Ibu dan Anak Ditangkap

Polisi Tetapkan Pelaku Eksploitasi Anak Jadi Tersangka

  • January 29, 2026
Polisi Tetapkan Pelaku Eksploitasi Anak Jadi Tersangka