Satgasus Harus Dukung Iklim Usaha, Bukan Tambah Birokrasi

PEMBENTUKAN  Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Optimalisasi Penerimaan Negara dinilai sebagai langkah positif, selama pelaksanaannya efektif dan tidak tumpang tindih dengan lembaga yang sudah ada.

Hal ini disampaikan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Dr. Eddy Junarsin.

“Pembentukan institusi seperti Satgasus ini wajar dan bahkan lazim di negara-negara maju. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kejelasan mandat dan koordinasi antar lembaga,” ujarnya di Yogyakarta, Sabtu (12/7).

Eddy mencontohkan praktik di Amerika Serikat, di mana lembaga pajak seperti Internal Revenue Service (IRS) bisa bekerja sama dengan FBI, Department of Justice, bahkan CIA dalam kasus-kasus besar. Namun, ia menekankan, Indonesia harus memastikan tidak terjadi tumpang tindih kewenangan di lapangan.

BACA JUGA  Fakultas Filsafat UGM Tuan Rumah SIT Study Abroad Indonesia

“Apakah Satgasus ini mengambil alih fungsi BPK atau BPKP? Bagaimana relasinya dengan kepolisian dalam pengawasan sektor pertanian dan kemaritiman? Ini harus dijelaskan secara gamblang,” tegasnya.

Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan sekadar membentuk lembaga baru, tetapi bagaimana menciptakan sistem pengawasan keuangan negara yang efisien dan adil. Ia juga menyoroti pentingnya menyederhanakan sistem perpajakan untuk mendukung pertumbuhan usaha.

“Kalau dunia usaha berkembang, dampaknya besar terhadap penerimaan pajak. Tax ratio bisa meningkat. Fokusnya bukan menambah birokrasi, tapi menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat,” paparnya.

Terkait pernyataan Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah bahwa Satgasus dibentuk untuk menindaklanjuti kasus korupsi dan penyalahgunaan kewenangan dalam penerimaan negara, Eddy mengingatkan pentingnya prinsip efisiensi dan kepastian hukum.

BACA JUGA  Anggito Abimanyu Pidato Pengukuhan Sebagai Guru Besar

“Semua lembaga bisa saling mendukung, tapi jangan sampai justru menambah beban bagi pelaku usaha. Net regulatory effect-nya harus positif,” tambahnya.

Ia berharap pengawasan penerimaan negara tetap berjalan dalam koridor efisiensi, akuntabilitas, dan profesionalisme. “Pembentukan Satgasus harus benar-benar memberi nilai tambah, bukan sekadar menambah struktur,” tutupnya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Mengapa Angka Kemiskinan BPS dan Bank Dunia Berselisih Jauh

TERJADI perbedaan jumlah penduduk miskin  Indonesia antara data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dengan data yang dimiliki Bank Dunia. BPS menyebut tingkat kemiskinan di Indonesia pada Maret 2026 sebesar…

Selandia Baru Siap Pasok Sperma Sapi ke DIY

SELANDIA Baru siap memasok semen (sperma) sapi pejantan untuk mendukung pengembangan bibit sapi unggul di DI Yogyakarta Gagasan tersebut menjadi salah satu peluang kerja sama yang dibahas dalam pertemuan Duta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Basarnas Terus Lakukan Pencarian Korban Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8

  • September 13, 2026
Basarnas Terus Lakukan Pencarian  Korban Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8

Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Jateng Berlangsung Meriah

  • September 13, 2026
Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Jateng Berlangsung Meriah

Wabup Sleman Dorong Kampus Lahirkan Lulusan Berkarakter

  • September 13, 2026
Wabup Sleman Dorong Kampus Lahirkan Lulusan Berkarakter

Polisi Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

  • September 12, 2026
Polisi  Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

  • September 12, 2026
Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

  • September 12, 2026
Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara