
KTT Mesir dihadiri pemimpin Mesir, Yordania dan Prancis menyerukan tekanan internasional terhadap Israel unttuk mengakhiri serangan mematikan di Jalur Gaza.
Seruan ini disampaikan dalam KTT di Kairo, Senin (7/4) mengenai situasi di Gaza yang dihadiri oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Raja Yordania Abdullah II.
Ketiga pemimpin tersebut menyerukan kepada komunitas internasional untuk “mendorong dihentikannya perang Israel di Gaza. Mengembalikan gencatan senjata dan melaksanakan semua tahapannya.
Serta melanjutkan aliran bantuan kemanusiaan yang cukup untuk menghentikan krisis dihadapi warga Gaza yang makin memburuk.
Ketiga pemimpin itu menekankan pentingnya upaya internasional yang terpadu, terutama dari negara-negara Uni Eropa seperti Prancis untuk mendukung rencana rekonstruksi Arab bagi Gaza.
Mereka juga menyerukan jalur politik yang mengarah pada pendirian negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Serta terciptanya perdamaian dan keamanan yang langgeng di kawasan, dan penghentian eskalasi konflik.
KTT Kairo berlangsung Senin (7/4) bersamaan dengan militer Israel meningkatkan serangannya terhadap wilayah Palestina.
Hampir 1.400 orang telah tewas dan 3.400 lainnya terluka akibat serangan udara sejak 18 Maret, meskipun telah ada perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
KTT Kairo dan pesan Sekjen PBB
KTT berlangsung sehari setelah Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengunjungi perbatasan Rafah di Sinai utara, Mesir. Satu-satunya perbatasan yang terbuka dengan Gaza.
“Di sana saya melihat sebuah paradoks, sebuah bencana kemanusiaan yang terjadi secara nyata di depan mata,” kata Guterres dikutip dari laman UN.
Guterres mencatat bahwa ratusan truk yang penuh dengan makanan dan pasokan penting lainnyaberada di sisi Mesir. Sementara di seberang perbatasan, dua juta orang di Gaza hidup tanpa air, makanan, bahan bakar, listrik, dan obat-obatan.
Ia mengatakan bahwa keluhan dan penderitaan rakyat Palestina adalah sah dan telah berlangsung lama.
Guterres juga menyerukan agar dunia tidak melupakan satu-satunya dasar yang realistis untuk perdamaian dan stabilitas sejati, yaitu solusi dua negara bagi rakyat Israel dan Palestina. “Waktunya telah tiba untuk bertindak,” katanya.
“Bertindak untuk mengakhiri mimpi buruk yang mengerikan ini. Bertindak untuk membangun masa depan yang layak bagi impian anak-anak Palestina, Israel, kawasan, dan dunia kita,” pungkasnya. (*/S-01)









