Perusahaan Jepang Menganut Kultur Long Life Employment

PERUSAHAAN Jepang menganut kultur long life employment. Perusahaan sangat menghargai loyalitas karyawan yang telah bekerja bertahun-tahun.

Setiap karyawan juga dilatih untuk memahami langsung kondisi lapangan bahkan hingga tingkat manajerial.

“Saya dulu diajarkan untuk tidak malu-malu terjun ke bawah. Justru kalau kita tidak mengenal lapangan, ada laporan masuk kita tidak paham,” ungkap Satria Gentur Pinandita, di Yogyakarta, Rabu (23/10).

Satria Gentur Pinandita adalah Direktur & Deputi Factory Manager PT. Ajinomoto Indonesia dan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM).

Satria menceritakan ia ikut membersihkan pabrik ketika training dan berpindah-pindah cabang perusahaan.

Perlahan tapi pasti, karirnya semakin menaik karena ketekunan dan sikap disiplin yang ia terapkan.

BACA JUGA  Menjelajahi Bangkai Kapal Perang Dunia II di Perairan Tulamben Bali

Dalam budaya kerja perusahaan-perusahaan Jepang, ujarnya, selain tingkat lay-off rendah, perusahaan Jepang juga menerapkan kerja berkelompok.

Sistem kerjanya berbasis kelompok, ujarnya maka setiap pekerjaan diserahkan pada kelompok kerja dan dinilai sebagai hasil kelompok.

Ia membenarkan memang ada beberapa orang yang cocok dengan sistem kerja seperti ini. Namun ada juga yang lebih cocok di perusahaan Eropa dan Amerika cenderung mengacu pada kompetensi individu.

“Hampir seluruh perusahaan Jepang seperti itu. Penting juga untuk memperhatikan adaptabilitas perusahaan,” kata Satria.

“Sebab zaman cepat berubah. Bukan perusahaan kuat yang bertahan, tapi perusahaan adaptif,” lanjutnya.

Menurut dia kemampuan adaptabilitas juga harus dimiliki oleh individu. Seseorang harus mampu berubah setelah melihat peluang dan tantangan zaman.

BACA JUGA  PKT UGM Ingatkan Risiko Kencing Tikus Saat Musim Hujan

Ketika ditanya soal harapannya untuk UGM, Satria menginginkan hal yang sama. UGM sebagai universitas harus bisa beradaptasi dengan perubahan.

Pengembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dengan adanya kemajuan teknologi. Karenanya, UGM bisa berfokus untuk membentuk lulusan tepat sesuai dengan nilai yang dimiliki.

“Semoga UGM dan mahasiswanya itu bisa beradaptasi dengan kondisi dunia saat ini. Universitas harus memikirkan lulusannya seperti apa 10-15 tahun ke depan,” pungkasnya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

WAKIL Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X  resmi membuka gelaran Jogja Fashion Week (JFW) XXI 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Sleman, pada Kamis (13/08). Ajang itu diharapkan jadi…

Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

MENTERI Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sudah mengusulkan satu nama untuk calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Usulan itu sudah disampaikan melalui Surat Presiden ke pimpinan DPR…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Xavi Hernandez Antusias Ditunjuk Jadi Arsitek Belanda

  • August 13, 2026
Xavi Hernandez Antusias Ditunjuk  Jadi Arsitek  Belanda

BKHIT Canangkan Gerakan Bebas Botol Plastik di Lingkungan Kerja

  • August 13, 2026
BKHIT Canangkan Gerakan Bebas Botol Plastik di Lingkungan Kerja

DKD Garda Prabowo Jatim Apresiasi Aksi Ketua DKC Garda Prabowo

  • August 13, 2026
DKD Garda Prabowo Jatim Apresiasi Aksi Ketua DKC Garda Prabowo

Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Penista Agama

  • August 13, 2026
Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Penista Agama

JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

  • August 13, 2026
JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

Tinjau Perlinsos Digital, Menkomdigi Pastikan Bansos Tepat Sasaran dan Bebas KKN

  • August 13, 2026
Tinjau Perlinsos Digital, Menkomdigi Pastikan Bansos Tepat Sasaran dan Bebas KKN