
PAMERAN lukisan bertajuk Oldies yang akan digelar di Monumen Jogja Kembali (Monjali) pada 17-30 September akan memajang karya 55 perupa.
Pameran ini menampilkan karya-karya orang yang selama ini memiliki reputasi. Yang pertama, sosok yang membuka pameran lukisan dengan 55 perupa ini adalah seorang bintang dua kepolisian bergelar profesor Prof. Dr. Irjen Pol Chryshnanda Dwilaksana.
Chryshnanda adalah jenderal yang seniman.Yang kedua, yakni para pendidik yang bergelar profesor. Ada Prof. Dr. Trie Hartiti Retnowati, dan Prof Dr I Wayan Suardana dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Tema Oldies sebenarnya bisa dimaknai dalam dua sisi. Pertama, dimaksudkan merujuk pada nostalgia terhadap masa lalu, khususnya era 50-an hingga 70-an. Kedua, bisa pula merujuk pada para perupa peserta yang usianya sudah berumur.
Para perupa ingin menghidupkan kembali semangat kreativitas, merangsang para seniman untuk bereksplorasi dan menghasilkan karya-karya seni.
Kurator Pameran Dr. Hadjar Pamadhi mengungkap pameran karya seni Oldies ini seperti lagu-lagu yang terhimpun dalam Golden Oldies Indonesia tahun 1950-1960 seperti Chrisye, Nike Ardila, Rhoma Irama, Achmad Albar, Benyamin dan yang lain-lain.
“Itulah dunia oldies lagu, maka serasa lagu Oldies Seni Rupa; karya-karya yang masuk sebagai imajinasi perupa adalah dunia realis,” ungkap Hadjar Pamadhi, seorang sebagai pelukis Rajah.
Para perupa Oldies ini, menerjemahkan dunia realis menjadi realisme semu, realisme sosial, bahkan surealisme. Para perupa ini merepresentasikan menjadi dua kategori: seni representasional dan nonrepresentasional.
Juragan Erwan dalam tulisan pengantar pameran menuliskan fantasi dan imajinasi para perupa dalam berkarya pun banyak yang mengarah pada upaya reflektif masa lalu, dan mengungkap isu-isu sosial yang relevan dengan konteks masa kini.
Ada pula yang mengangkat lawasan, sesuatu yang kuno, yang old.Upaya reflektif masa lalu diangkat oleh Christina Anggriyani (Siapakah Aku Ini), Dwi Retno Sri Ambarwati (Wanita Penjaga Kehidupan), Andaru Priyoko (Narima ing Pandum) dan Erwan Widyarto (Menjalani Takdir).
Sedangkan tema lawasan terlihat pada Bank Indonesia Jogja karya Agus Winarto. Atau I Will Survive karya Agung Suhastono yang memvisualkan sepeda onta.
Jika oldies adalah masa lalu, lawan dari kontemporer atau kekinian, maka banyak perupa yang mengangkat soal masa lalu seperti tarian, tokoh wayang maupun kehidupan sosial jual beli pasar tradisional. (AGT/N-01)









