Pengamat Apresisi Konsolidasi Prabowo dengan 800 Pati TNI-Polri

LANGKAH Presiden Prabowo Subianto yang mengumpulkan sekitar 800 perwira tinggi (Pati) TNI dan Polri di Istana Negara, Rabu (7/10/2026) patut diapresiasi. Pasalnya pertemuan bisa menjadi momentum untuk menyatukan persepsi mengenai arah kebijakan nasional sekaligus memperkuat kesiapan TNI dan Polri menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks.

Hal itu diungkapkan Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting. Menurut Ginting, pertemuan yang berlangsung sekitar lima jam tersebut memiliki arti strategis karena tidak sekadar menjadi agenda rutin Presiden bersama jajaran pimpinan institusi pertahanan dan keamanan.

“Pertemuan Presiden dengan sekitar 800 perwira tinggi TNI dan Polri ini patut diapresiasi. Ini menunjukkan keseriusan Presiden dalam membangun konsolidasi pertahanan dan keamanan nasional sekaligus memastikan adanya kesamaan visi menghadapi tantangan ke depan,” kata Ginjing dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (08/10/2026).

Kualitas SDM

Presiden Prabowo Subianto saat menerima sekitar 800 perwira tinggi (Pati) TNI dan Polri di Istana Negara, Rabu (7/10/2026). (Dok.Ist)

Ia menilai, pesan Presiden Prabowo mengenai pentingnya profesionalisme, peningkatan pendidikan dan latihan, penguasaan teknologi, kemampuan menghadapi perang hibrida, drone, teknologi informasi serta ancaman siber merupakan arahan yang sangat relevan dengan perkembangan ancaman keamanan modern.

Menurutnya, perang dan konflik masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah pasukan maupun persenjataan konvensional. Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penentu.

BACA JUGA  Polri akan Gelar One Way Nasional pada Minggu

“Militer dan kepolisian masa depan membutuhkan personel yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga mampu berpikir strategis, menguasai teknologi dan memahami dinamika geopolitik,” ujarnya.

Ginting juga mengapresiasi penekanan Presiden agar TNI dan Polri tidak mengedepankan ego sektoral. Menurut dia, kompleksitas ancaman keamanan saat ini memang membutuhkan koordinasi lintas institusi yang semakin kuat.

Tetap dalam koridor

Presiden Prabowo Subianto saat menerima sekitar 800 perwira tinggi (Pati) TNI dan Polri di Istana Negara, Rabu (7/10/2026). (Dok.Ist)

Terorisme, kejahatan siber, perdagangan manusia, narkotika, konflik sosial, bencana, ancaman terhadap objek vital hingga perang hibrida membutuhkan sinergi antara berbagai lembaga negara.

Namun, Ginting mengingatkan bahwa penguatan sinergi harus tetap berada dalam koridor pembagian kewenangan yang jelas.

“TNI mempunyai mandat utama dalam pertahanan negara, sedangkan Polri mempunyai mandat utama dalam keamanan dan ketertiban masyarakat serta penegakan hukum. Karena itu, sinergi harus dibangun melalui koordinasi, bukan tumpang tindih kewenangan,” jelasnya.

Ia menegaskan, TNI tidak boleh menjadi polisi dan Polri tidak boleh berubah menjadi militer. Pembagian fungsi tersebut merupakan bagian penting dari desain negara demokratis pascareformasi.

BACA JUGA  Gubernur BI Mundur, Presiden segera Usulkan Pengganti

Soliditas kepada konstitusi dan hukum

Presiden Prabowo Subianto saat menerima sekitar 800 perwira tinggi (Pati) TNI dan Polri di Istana Negara, Rabu (7/10/2026). (Dok.Ist)

Menurut Ginting, pesan Presiden Prabowo mengenai soliditas TNI-Polri juga harus dimaknai sebagai soliditas dalam menjalankan konstitusi, hukum dan kepentingan bangsa, bukan loyalitas personal kepada penguasa.

“Presiden memang membutuhkan TNI dan Polri yang solid. Tetapi soliditas itu harus berarti solid dalam menjalankan konstitusi dan hukum, bukan solid dalam kepentingan politik praktis,” katanya.

Ginting menilai pertemuan Presiden dengan para jenderal, laksamana dan marsekal tersebut merupakan bentuk konsolidasi vertikal yang penting menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Presiden tidak hanya berkomunikasi dengan Panglima TNI dan Kapolri, tetapi menyampaikan arahan langsung kepada lapisan elite tertinggi kedua institusi tersebut, termasuk sejumlah purnawirawan TNI dan Polri.

“Dari perspektif politik dan pertahanan keamanan, pertemuan ini dapat dibaca sebagai konsolidasi vertikal Presiden dengan elite pertahanan dan keamanan. Hampir dua tahun pemerintahan berjalan, tentu diperlukan penyamaan persepsi mengenai arah kebijakan nasional,” ujarnya.

Stabilitas nasional

Ia menilai langkah tersebut sekaligus menunjukkan perhatian Presiden terhadap stabilitas nasional, profesionalisme institusi serta kesiapsiagaan menghadapi perubahan lingkungan strategis.

BACA JUGA  Presiden Perintahkan Penghapusan Kuota Impor

Meski demikian, Ginting menekankan bahwa profesionalisme TNI dan Polri tidak cukup hanya dimaknai sebagai disiplin dan loyalitas. Profesionalisme juga harus mencakup meritokrasi, kompetensi, netralitas politik, akuntabilitas, transparansi dan kepatuhan terhadap hukum.

Karena itu, ia menyebut taklimat Presiden kepada sekitar 800 Pati TNI-Polri sebagai konsolidasi strategis yang perlu diarahkan pada penguatan institusi negara.

“Ini merupakan konsolidasi strategis. Namun konsolidasi yang sehat dalam demokrasi bukan konsolidasi kekuasaan. Konsolidasi harus diarahkan pada profesionalisme, kesiapan pertahanan dan keamanan, supremasi hukum serta loyalitas kepada konstitusi,” tegas Ginting.

Kepentingan bangsa

Ginting mengingatkan bahwa TNI dan Polri merupakan institusi negara yang harus berdiri untuk kepentingan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.

“TNI dan Polri bukan milik pemerintah yang sedang berkuasa. Keduanya adalah institusi negara yang bekerja untuk kepentingan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya. (*/A-01)

Admin

Related Posts

Putusan MK Soal Ijazah Gibran Tunjukkan Kelemahan Verifikasi Pencalonan

PUSAT Studi Hukum dan Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait persoalan syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka dalam pencalonan Wakil Presiden Tahun 2024 menunjukkan…

MK Putuskan tidak Terima Gugatan Ijazah Gibran

MAJELIS Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan gugatan terkait keabsahan syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka saat menjadi calon wakil presiden (cawapres) pada Pilpres 2024 yang diajukan Denny Indrayana dan kawan-kawan (dkk),…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Rayakan HUT Jatim, 350 SMK Beri Layanan Servis Gratis Sepeda Motor

  • October 8, 2026
Rayakan HUT Jatim, 350 SMK Beri Layanan Servis Gratis Sepeda Motor

Klub Indonesia Unjuk Daya Saing di Asia, Raih Hasil Positif

  • October 8, 2026
Klub Indonesia Unjuk Daya Saing di Asia, Raih Hasil Positif

Angkutan Retail Kalog Catat Kinerja Tertinggi pada Triwulan III

  • October 8, 2026
Angkutan Retail Kalog Catat Kinerja Tertinggi pada Triwulan III

Pengamat Apresisi Konsolidasi Prabowo dengan 800 Pati TNI-Polri

  • October 8, 2026
Pengamat Apresisi Konsolidasi Prabowo dengan 800 Pati TNI-Polri

Perguruan Tinggi Diharap Siap Hadapi Perubahan dan Inovatif

  • October 8, 2026
Perguruan Tinggi Diharap Siap Hadapi Perubahan dan Inovatif

Pemkot Bandung Tegaskan PKL tak Boleh Kuasai Trotoar

  • October 8, 2026
Pemkot Bandung Tegaskan PKL tak Boleh Kuasai Trotoar