
PROSES evakuasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) resmi ditutup setelah seluruh korban dan kotak hitam (black box) berhasil ditemukan.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyampaikan, total 10 jenazah telah ditemukan dalam insiden tersebut. Dari jumlah itu, tujuh kantong jenazah hasil evakuasi terbaru telah diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri dan masih dalam proses identifikasi.
Sementara itu, tiga jenazah yang sebelumnya telah teridentifikasi telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Black box beserta sejumlah serpihan pesawat telah diserahkan kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna kepentingan investigasi lebih lanjut.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Muhammad Agung Bramantya, Ph.D., mengatakan penemuan black box akan sangat membantu dalam mengungkap penyebab kecelakaan.
Menurutnya, Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat memberikan gambaran detail mengenai kondisi pesawat serta percakapan di kokpit sebelum kejadian.
“Pembacaan black box membutuhkan waktu beberapa hari hingga dua minggu. Namun tetap diperlukan analisis mendalam oleh KNKT agar hasilnya benar-benar akurat,” ujarnya, Senin (26/1).
Mengacu pada informasi awal KNKT, kecelakaan diduga terjadi akibat kesalahan navigasi terhadap kondisi medan di sekitar lokasi kejadian.
Black box ungkap peristiwa kecelakaan
Bramantya menilai kemungkinan kesalahan tersebut dipengaruhi oleh cuaca buruk, seperti kabut tebal dan hujan deras, yang dapat menurunkan jarak pandang pilot.
“Kabut tebal menyebabkan visibilitas rendah sehingga pilot lebih mengandalkan instrumen navigasi. Pada sistem yang belum sepenuhnya otomatis, potensi kesalahan interpretasi instrumen atau gangguan komunikasi dengan ATC tetap ada,” jelasnya.
Ia berharap hasil analisis black box nantinya dapat menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan prosedur penerbangan.
“Hasil investigasi akan menjadi dasar ilmiah untuk merumuskan rekomendasi keselamatan, baik melalui perbaikan prosedur navigasi, peningkatan pelatihan awak pesawat dalam menghadapi situasi ekstrem, maupun penguatan teknologi mitigasi,” katanya.
Dalam jangka panjang, ia juga mendorong peningkatan sistem Air Traffic Control (ATC), sistem pemantauan cuaca, serta kelengkapan peralatan dan kesiapan tim SAR guna mempercepat respons jika terjadi insiden serupa di masa mendatang. (AGT/S-01)







