
PRESIDEN Prabowo Subianto memerintahkan penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul maraknya kasus keracunan.
“SPPG yang bermasalah ditutup sementara untuk dilakukan evaluasi dan investigasi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Minggu (28/9).
Zulhas menegaskan evaluasi mencakup disiplin dan kualitas juru masak, standar sanitasi, sterilisasi alat makan, kualitas air, hingga pengelolaan limbah. “Bagi pemerintah, keselamatan anak adalah prioritas utama. Insiden ini bukan sekadar angka, tetapi menyangkut keselamatan generasi penerus,” tegasnya.
Ia menambahkan, Presiden juga menginstruksikan seluruh kementerian, lembaga, hingga pemangku kepentingan terkait untuk aktif dalam proses perbaikan program MBG.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat hingga 25 September 2025 terdapat 5.914 orang mengalami keracunan MBG. Jumlah itu tersebar di tiga wilayah:
- Wilayah I (Sumatra): 1.307 orang (9 kasus)
- Wilayah II (Jawa): 3.610 orang (41 kasus)
- Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur): 997 orang (20 kasus)
Lima kasus terbesar tercatat di Kota Bandar Lampung (503 korban), Kabupaten Lebong, Bengkulu (467), Kabupaten Bandung Barat (411), Kabupaten Banggai Kepulauan (339), dan Kabupaten Kulon Progo (305).
Data tren BGN menunjukkan lonjakan signifikan pada Agustus–September 2025. Pada Agustus terdapat 1.988 korban dari 9 kasus, sementara September naik menjadi 2.210 korban dari 44 kasus.
Jika dibandingkan dengan data per 22 September 2025 yang mencatat 4.711 korban, berarti ada tambahan 1.203 kasus keracunan hanya dalam tiga hari. (*/S-01)






