Sejarah Nian Gao atau Kue Keranjang Khas Imlek

KUE keranjang atau Nian Gao merupakan penganan khas Tahun Baru Imlek yang telah berusia ribuan tahun. Kudapan ini berasal dari Tiongkok dan jejaknya diyakini telah ada sejak era Dinasti Zhou.

Pada awalnya, kue ini dibuat sebagai sesaji untuk Dewa Dapur agar menyampaikan laporan baik tentang keluarga kepada Kaisar Langit. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue keranjang melambangkan harapan akan peningkatan rezeki, persatuan keluarga, keberuntungan, sekaligus simbol ketekunan.

Berdasarkan cerita rakyat, kue ini digunakan untuk “menyuap” Dewa Dapur atau Cau Kun Kong agar memberikan laporan tahunan yang menyenangkan ke Surga, sehingga keluarga yang bersangkutan diyakini akan dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan di tahun mendatang.

BACA JUGA  Libur Panjang, Volume Kendaraan di Tol Trans Sumatra Naik 29%

Versi sejarah lain menyebutkan kue ini berkaitan dengan kisah Wu Zixu pada periode 771–476 SM. Dikisahkan, sang jenderal membangun fondasi tembok kota Suzhou menggunakan tepung ketan untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan saat terjadi pengepungan.

Secara harfiah, “Nian Gao” berarti kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali saat Imlek. Kata “Nian” bermakna tahun (dan terdengar seperti kata lengket), sementara “Gao” berarti kue atau tinggi. Makna tersebut menjadi simbol harapan agar kehidupan, karier, dan kemakmuran meningkat dari tahun ke tahun.

Kue keranjang terbuat dari tepung ketan dan gula merah, lalu dicetak dalam wadah berbentuk keranjang bambu. Bentuk keranjang ini dipercaya melambangkan rezeki yang terus mengalir dan tidak terputus.

BACA JUGA  Pertunjukkan Barongsai di Stasiun Yogyakarta Sambut Imlek

Dalam tradisi Imlek, selain dijadikan sesaji, kue keranjang juga dibagikan kepada keluarga dan kerabat sebagai simbol mempererat silaturahmi.

Hingga kini, kue keranjang tetap menjadi hidangan wajib yang melambangkan kebahagiaan, manisnya kehidupan, serta kuatnya ikatan keluarga dalam perayaan Imlek di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Persib dan Grey Art Gallery Hasilkan Positive Movement Sabtu Bersama Ayah

POSITIVE Movement Persib turut meramaikan Cultura Persib melalui kegiatan bertema ‘Sabtu Bersama Ayah’ di Grey Art Gallery Braga Kota Bandung, Sabtu (4/7). Kali ini, PT. Persib Bandung Bermartabat mengajak para…

Pemkot Bandung Bangun 220 Titik Pengolahan Sampah Berbasis Kewilayahan 

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah melalui pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah berbasis kewilayahan. Langkah itu menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Warga Jabar Diimbau Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026

  • July 7, 2026
Warga Jabar Diimbau Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026

Wagub Jabar Minta Ombudsman Awasi ASN Terlibat Judol

  • July 7, 2026
Wagub Jabar Minta Ombudsman Awasi ASN Terlibat Judol

UII Gelar Wisuda Sekolah Lansia Standar 1

  • July 7, 2026
UII Gelar Wisuda Sekolah Lansia Standar 1

UIN Sunan Kalijaga Lepas 3.725 Mahasiswa untuk KKN

  • July 7, 2026
UIN Sunan Kalijaga Lepas 3.725 Mahasiswa untuk KKN

UGM Pastikan tidak Ada Penambahan Kuota Mahasiswa Baru

  • July 7, 2026
UGM Pastikan tidak Ada Penambahan Kuota Mahasiswa Baru

Akan Dikunjungi Prabowo dan PM India, Jam Operasional Candi Prambanan Disesuaikan

  • July 7, 2026
Akan Dikunjungi Prabowo dan PM India, Jam Operasional Candi Prambanan Disesuaikan