Ngalap Berkah Perajin Kue Keranjang di Tasikmalaya saat Imlek

PERAJIN kue keranjang khas Imlek atau yang juga dikenal dengan nama kue jawadah korang di Jalan Selakaso, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat selalu semringah saban kali menyambut Imlek.

Betapa tidak? Sebab  pada moment itulah mereka biasanya banjir pesanan. Pesanan itu bahkan bukan saja datang dari masyarakat keturunan Tionghoa yang di wilayah sekitar, melainkan juga datang dari berbagai daerah, termasuk warga pribumi.

Seorang perajin kue keranjang, Mensen, 60, mengatakan, jelang tahun baru imlek memang memang menjadi berkah bagi dirinya. Sebab saat itu produksinya meningkat dan otomatis omset merekapun merangkak.

Kue keranjang atau juga kadang disebut juga Dodol Cina itu, kata dia dijual bukan saja bagi masyarakat di Kota Tasikmalaya, tapi luar daerah.

Pertahankan tradisi

Menurut Mansen, usaha yang dirintis sejak 1950 secara turun temurun itu selalu berusaha memelihara resep warisan nenek moyang dengan menggunakan tepung beras ketan putih dan gula pasir.

“Pada Imlek tahun ini memproduksi kue tidak beda dari tahun sebelumnya dengan bahan baku sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton berupa tepung beras ketan putih dan gula pasir diolah oleh lima orang pekerja,” ujar Mensen,

BACA JUGA  HDCI Tasikmalaya Bagikan 2.500 Nasi Kotak untuk Berbuka

“Pembuatan kue jawadah ini sama seperti memproduksi dodol. Selama perayaan tahun baru imlek setiap tahun selalu tetap dipertahankan. Dan pada perayaan imlek tahun ini ada peningkatan,” lanjutnya, Selasa (28/1/2025).

Ia mengatakan, jelang Imlek penjualan meningkat sejak beberapa minggu dibuka. Banyak pesanan hingga pekerjanya harus berupaya mengolah adonan. Namun, usaha yang dilakukan tetap memproduksinya dengan mempertahankan tradisi Imlek dan bersaing dengan perajin baru kue keranjang.

Bahan baku mahal

“Produksi kue jawadah tahun ini jumlah pembeli berubah dan mengalami kenaikan dari sebelumnya. Malah yang menurun jumlah produksinya, karena harga bahan baku berupa tepung beras ketan dan gula pasir merangkak naik seperti harga ketan Rp 25 ribu per kg dan gula pasir Rp17.500 perkg. Namun, jelang tahun baru ini tetap dipertahankan meski saya hampir batal produksi kue keranjang karena harga bahan baku mahal,” ujarnya.

Menurutnya, produksi kue jawadah korang yang dilakukan sudah 75 tahun lalu tetap berusaha menjaga tradisi. Konsekuensinya dalam 1 kilogram bahan baku membaginya dua, tiga, empat ukuran. Karena, penjualan kue jawadah yang dijual sekarang ini seharga Rp 40 ribu per kg untuk semua ukuran dan tidak dijual satuan.

BACA JUGA  Belasan Pelajar di Rajapolah Tasikmalaya Diduga Keracunan Menu MBG

“Produksi kue jawadah yang kami lakukan tidak berani turunkan kualitas, karena takut mengecewakan para pelanggan. Untuk kue yang diproduksi masih bertahan dan bisa dikreasi dengan digoreng atau dimakan langsung dan untuk pembungkus plastik agar bisa lepas cukup dengan membasahi tangan kita dan mengusapnya,” paparnya.

Makna kue keranjang

Menurut dia, kue keranjang yang dia produksi menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga Hom Sen. Produksi kue keranjang di rumah biasa disebut Nian Gao atau dalam dialek Hokkian adalah Ti Kwe terbuat dari dari bahan alami mulai tepung beras ketan dan gula pasir.

“Bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang salah satu hidangan yang wajib ada pada saat tahun baru imlek karena dipercaya membawa keberuntungan. Kue keranjang yang punya tekstur lengket melambangkan persaudaraan erat. Adapun rasa manis simbol suka cita, kebahagiaan dan terasa kenyal sebagai bentuk kegigihan dalam hidup, sedangkan daya tahannya untuk melambangkan kesetiaan,” tuturnya.

BACA JUGA  Terinspirasi Gibran, Ketua HIPMI Tasikmalaya Siap Maju Jadi Calon Wali Kota

Proses pembuatan

Aceng Wahyudi, 49, pekerja kue keranjang mengatakan, pengolahan kue jawadah di tahun ini memang mengalami peningkatan dan usaha rumahan ini kebanjiran pesanan hingga banyak pembeli datang ke warung Mensen atau keluarga Hom Sen.

Namun, produksi kue keranjang khas imlek setiap tahun selalu ada dan cara pengolahannya sendiri menyiapkan tepung beras ketan putih dan gula pasir.

“Cara membuat kue keranjang atau dodol ini cukup menyiapkan bahan baku berupa gula pasir, tepung beras ketan putih dan prosesnya diolah hingga tambah air gula pasir secara merata. Selanjutnya, adonan dimasukan ke dalam keranjang yang sudah dilapisi plastik bening dan bahan baku 1 kg membagi satu, dua, tiga, empat ukuran dan di kukus selama 12 hingga 15 jam, setelah matang diangkat, disimpan supaya dingin, plastiknya dipotong dan siap dijual,” pungkasnya. (YY/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Ibu dan Dua Anak Terkubur Longsor di Tanah Sepenggal, Seorang Meninggal

SEORANG ibu bersama anaknya terkubur bencana tanah longsor yang menimpa sebuah rumah di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, Rabu (13/5). Namun berkat kerja keras Tim SAR…

Perkuat Identitas Budaya, PSNB Ajak Pemkab Sidoarjo Lestarikan Seni Nusantara

PAGUYUBAN Pencinta Seni Nusantara dan Estetika Budaya (PSNB) menggalang sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo sebagai upaya pelestarian seni tradisional di wilayah tersebut. Untuk itu mereka beraudiensi dengan Wakil Bupati Sidoarjo…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bekuk Al-Rayyan 3-1, Hyundai Capital Lolos ke Semifinal AVC

  • May 13, 2026
Bekuk Al-Rayyan 3-1, Hyundai Capital Lolos ke Semifinal AVC

Program Terpujilah GURU dari Sumedang Dirilis Telkomsel

  • May 13, 2026
Program Terpujilah GURU dari  Sumedang Dirilis Telkomsel

Awal Gemilang Bhayangkara di AVC Men’s Volleyball Champions League

  • May 13, 2026
Awal Gemilang Bhayangkara di AVC Men’s Volleyball Champions League

Ibu dan Dua Anak Terkubur Longsor di Tanah Sepenggal, Seorang Meninggal

  • May 13, 2026
Ibu dan Dua Anak Terkubur Longsor di Tanah Sepenggal, Seorang Meninggal

Bandara Juanda Sabet Penghargaan WISCA 2026

  • May 13, 2026
Bandara Juanda Sabet Penghargaan WISCA 2026

Perkuat Identitas Budaya, PSNB Ajak Pemkab Sidoarjo Lestarikan Seni Nusantara

  • May 13, 2026
Perkuat Identitas Budaya, PSNB Ajak Pemkab Sidoarjo Lestarikan Seni Nusantara