
ADA momen tertentu dalam sejarah sinema ketika wajah seorang aktor menyatu dengan semangat sebuah era. Bagi banyak orang Amerika, dan juga penonton internasional, wajah Robert Redford di All the President’s Men (1976) adalah wajah kepercayaan publik pada jurnalisme.
Bukan wajah pahlawan super, bukan wajah tentara gagah berani, melainkan wajah seorang reporter yang sabar menelpon narasumber, mengetik naskah, dan merajut potongan informasi yang bertebaran. Sebuah wajah yang tampak biasa, tapi menyimpan kekuatan moral: keyakinan bahwa kebenaran bisa diungkap dengan kerja keras, kesabaran, dan keberanian.
Film yang disutradarai Alan J. Pakula ini, dibintangi Redford sebagai Bob Woodward dan Dustin Hoffman sebagai Carl Bernstein, lahir dari buku nonfiksi karya dua wartawan Washington Post yang membongkar skandal Watergate dan akhirnya menjatuhkan Presiden Richard Nixon. Dalam sejarah film politik Hollywood, jarang ada karya yang begitu detail, begitu “antidrama” justru karena kesetiaannya pada realisme jurnalisme.
Dan di tengah itu semua, Redford berdiri sebagai pusat perhatian meski bukan sebagai “bintang” dalam pengertian glamor, melainkan sebagai aktor-produser yang membuat proyek ini mungkin terjadi.
All the President’s Men dan jurnalisme investigasi
Bagi Redford, film ini adalah proyek serius. Ia tidak sekadar aktor, tetapi juga produser yang berinisiatif membeli hak adaptasi buku karya Woodward dan Bernstein. Redford ingin memastikan kisah Watergate tidak hanya menjadi arsip berita, melainkan juga diabadikan dalam bahasa film yang jujur dan detail.
Keberhasilan All the President’s Men bukan pada drama politik di gedung kekuasaan, melainkan pada rutinitas sederhana jurnalis: menelepon narasumber, menelusuri dokumen, mengetik di ruang redaksi.
Redford membangun sosok Woodward sebagai wartawan gigih, tenang, namun penuh keraguan yang akhirnya menemukan kekuatan dalam kerja kolektif. Chemistry-nya dengan Hoffman membuat kisah investigasi terasa hidup dan menegangkan.
Film ini memenangkan empat Oscar, sekaligus mengukuhkan Redford sebagai aktor sekaligus produser yang serius dengan isu-isu politik. Lebih dari itu, All the President’s Men melahirkan generasi baru jurnalis yang terinspirasi oleh idealisme Woodward dan Bernstein.
Relevansi film ini tetap terasa hingga kini, di era media sosial dan banjir disinformasi. Pesan yang dibawa Redford sederhana tapi kuat: jurnalisme, jika dijalankan dengan integritas, mampu menjadi benteng terakhir demokrasi.
Robert Redford, lewat All the President’s Men, meninggalkan warisan bahwa film bisa lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi pengingat: kebenaran harus diperjuangkan meski penuh tekanan jalan menuju ke sana. (*/S-01)








