Kelahiran Anak Gajah di Taman Satwa Bukti Kesuksesan Pelestarian Ex Situ

SEEKOR bayi gajah sumatra lahir di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung pada 5 juni lalu. Kelahiran anak gajah sumatra itu menambah deret keberhasilan di lembaga konservasi tersebut setelah sebelumnya berhasil mengembangbiakkan harimau sumatra.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. Dr. drh. Wisnu Nurcahyo menilai keberhasilan tersebut merupakan pencapaian penting, terutama karena kasus reproduksi gajah sumatera di lembaga konservasi tidak mudah untuk dilakukan.

Selain masa hamil yang panjang, pengembangbiakkan gajah juga menghadapi berbagai macam tantangan dalam menjaga keragaman genetik dan perkawinan sedarah.

“Saya kira kelahiran bayi gajah ini merupakan suatu keberhasilan yang baik untuk kelangsungan konservasi. Gajah itu masa kehamilannya lama, bisa 18 sampai 22 bulan, sehingga pengembangbiakkannya tidak mudah dilakukan di lembaga konservasi,” jelasnya.

Risiko gangguan kesehatan

Dikatakan, perkawinan sedarah atau inbreeding pada gajah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, keguguran, kelahiran prematur, hingga kematian anak satwa.

Sebaliknya, perkawinan antara individu yang tidak memiliki hubungan kekerabatan akan menghasilkan nilai konservasi yang lebih tinggi karena memperkaya keragaman genetik populasi.

BACA JUGA  Burger Sapi untuk Tingkatkan Produksi Susu Sapi

“Kalau dari jantan dan betina itu beda, bukan saudara, itu memberikan nilai konservasi yang tinggi sehingga genetiknya baru. Keberhasilan konservasinya juga lebih tinggi. Tetapi kalau perkawinan antar saudara ini tidak bagus karena dapat mengakibatkan penyakit, abortus, prematur, dan sebagainya ” ujarnya.

Keberhasilan yang dicapai Lembah Hijau, ujarnya menunjukkan adanya pengamatan dan pendampingan yang baik dari dokter hewan maupun mahout dalam mengelola reproduksi gajah.

Waktu reproduksi

Keberhasilan tersebut, jelasnya tidak hanya ditentukan oleh keberadaan pasangan jantan dan betina, tetapi juga kemampuan pengelola mengenali waktu reproduksi yang tepat sehingga proses perkawinan dapat berlangsung secara alami.

“Berarti ada pengamatan yang dilakukan oleh dokter hewan dan pawang gajah sehingga pada saat betinanya siap dikawini dan jantannya juga mau, maka terjadi perkawinan,” katanya.

Dikatakan, konservasi ex situ memiliki fungsi yang berbeda dibandingkan dengan konservasi di habitat alaminya (in situ). Satwa yang lahir dan besar di lembaga konservasi, imbuhnya telah beradaptasi dengan pola hidup yang berbeda, sehingga tidak disarankan untuk dilepaskan kembali ke alam liar.

BACA JUGA  Fakultas Psikologi UGM Bebaskan Biaya UKT untuk Satu Mahasiswa Baru SNBP

“Satwa dari ex situ sangat tidak disarankan untuk dilepas di alam liar karena kehidupannya sudah mendapatkan makanan dari pengelola dan tidak bisa mencari makan sendiri,” jelasnya.

Pelajari kehidupan satwa liar

Namun, katanya lembaga konservasi tetap memiliki peran penting sebagai sarana menyelamatkan dan melindungi satwa, serta sebagai wadah pendidikan konservasi bagi masyarakat. Melalui lembaga konservasi, masyarakat dapat mempelajari berbagai aspek kehidupan satwa liar mulai dari anatomi, perilaku, pakan, hingga biologi reproduksinya secara lebih dekat.

“Untuk pendidikan konservasi, eksitu ini sangat bagus karena masyarakat bisa mempelajari satwa secara langsung dan memahami bagaimana konservasi dilakukan dengan baik,” tuturnya.

Dikatakan keberhasilan breeding yang ada di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, dapat menjadi contoh bagi lembaga konservasi lain di Indonesia. Akan tetapi, adanya keberhasilan tersebut hanya dapat diraih apabila pengelola benar-benar memperhatikan kesejahteraan satwa melalui penyediaan lingkungan yang nyaman, menjamin kesehatannya, hingga ketersediaan pakan yang terjamin.

BACA JUGA  Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Menurun

“Kalau tempatnya nyaman, pakannya tersedia, kesehatannya terjamin, air dan tempat bermain memadai, mereka akan berkembang biak dengan baik,” ujarnya.

Kesejahteraan hewan

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengembangbiakan satwa langka tidak dapat dilepaskan dari komitmen pengelola dalam memenuhi kesejahteraan satwa secara menyeluruh.

Menurutnya, kesejahteraan satwa harus menjadi prioritas utama agar tujuan konservasi dapat tercapai secara berkelanjutan. “Jangan hanya mau tiket masuknya. Jangan hanya dieksploitasi saja, tetapi pakan, kesejahteraan hewan, kesehatan, lingkungan, dan kandangnya harus diperhatikan,” pungkas Wisnu. (Agt/D-01)

Dyah Soekasto

Related Posts

Siamang; si Penjaga Ekosistem Rimba Sumatera yang Terancam Punah

SIAMANG (Symphalangus syndactylus) adalah primata endemik Sumatera. Ia terkenal dengan suara khasnya yang punya daya jangkau jauh sehingga dapat terdengar di seluruh penjuru hutan Sumatera. Sayangnya, keberadaan Siamang kini semakin…

Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan

SEKOLAH sejatinya bukan sekadar tempat anak belajar membaca, berhitung, dan mengejar nilai akademis. Di sekolah, anak juga belajar mengenali diri, membangun pertemanan, menghargai perbedaan, serta mengelola emosi. Namun, proses tersebut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Persija Kembali ke Puncak Klasemen, Garudayaksa dan Isenmulang Buat Kejutan

  • November 7, 2026
Persija Kembali ke Puncak Klasemen, Garudayaksa dan Isenmulang Buat Kejutan

Cianjur Tambah Medali Emas di Porprov XV Jabar dari Muaythai

  • November 7, 2026
Cianjur Tambah Medali Emas di Porprov XV Jabar dari Muaythai

Gandeng ITB, Pemkot Bandung Luncurkan Program Angkot to School

  • November 6, 2026
Gandeng ITB, Pemkot Bandung Luncurkan Program Angkot to School

Diduga Korupsi untuk Judol, Pimpinan Cabang Bank Pemerintah di Sleman Ditangkap

  • November 6, 2026
Diduga Korupsi untuk Judol, Pimpinan Cabang Bank Pemerintah di Sleman Ditangkap

Puluhan Kades dari Kalsel Studi Tiru ke Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo 

  • November 6, 2026
Puluhan Kades dari Kalsel Studi Tiru ke Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo 

Festival Literasi Sergai Dorong Generasi Muda Cerdas Digital dan Gemar Membaca

  • November 6, 2026
Festival Literasi Sergai Dorong Generasi Muda Cerdas Digital dan Gemar Membaca