Tradisi Unik Sambut HUT RI di Gang Stones, Kota Bandung 

UNTUK menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Gang Stones di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, menggelar berbagai kegiatan.

Gang stones atau yang sering masyarakat kenal sebagai gang yang memiliki identitas tersendiri yang memiliki keterikatan dengan satu band asal inggris yaitu Rolling stones.

Salah satu yang paling ikonik yaitu logo Rolling Stones, lidah menjulur.  Warga yang tinggal di Gang Stones memiliki tradisi turun temurun dalam mencintai dan menyukai band asal Inggris tersebut.

Semangat kebersamaan dan identitas tersebut kemudian bisa terlihat dengan cara warga menyambut dan memeriahkan HUT ke-81 RI. Mereka menghias tembok tembok sekitar Gang Stones dengan tema kemerdekaan yang di kombinasikan dengan band Rolling Stones.

Ketua RW 06, Ari Friansyah berharap, mural di Gang Stones bisa membuat warga semakin kompak. “Mudah-mudahan ini jadi jalan kita berkolaborasi ke depannya,” ucapnya.

Not So Morning Club Kenalkan Budaya Berkain

Masih berkaitan dengan peringatan HUT ke-81 RI,  komunitas jalan kaki Not So Morning Club menggelar kegiatan “Agustusan di Belitung” di kawasan Belitung, Kota Bandung, Minggu (16/8).

BACA JUGA  Kunjungi Putra Sayuti Melik, KSP Pastikan Negara Lindungi Lansia

Kegiatan tersebut memadukan morning walk, permainan khas Agustusan, serta penggunaan kain dan batik sebagai dress code.

Konsep berkain menjadi salah satu cara komunitas mengenalkan budaya Indonesia dalam suasana yang santai dan dekat dengan kehidupan anak muda. Penggunaan kain juga tidak hanya ditempatkan pada acara formal, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

“Konsep berkain menjadi pengalaman yang menarik, karena anak muda saat ini cukup jarang menggunakan kain dalam kegiatan sehari-hari. Menurut saya sangat menarik dan unik. Di masa remaja kita jarang banget pakai kain, bahkan malu juga. Dengan konsep kayak gini bikin kita lebih tertarik dalam budaya-budaya Indonesia,” terang Rizki salah seorang peserta kegiatan.

Dinormalisasi

Hal serupa disampaikan Rija, bahwa budaya berkain perlu terus diperkenalkan dan dinormalisasi di kalangan generasi muda. Ia menilai kain tetap dapat digunakan dengan gaya yang modern dan tidak terbatas pada acara tertentu.

BACA JUGA  Sambut HUT RI, KAI Logistik  Hadirkan Promo 'Merdeka Ongkir'

“Budaya berkain hampir redup oleh budaya-budaya luar. Lebih baik kita normalisasikan, berkain itu tetap bisa stylish, tetap bisa keren untuk bermain atau jalan-jalan,” jelasnya.

Sementara itu, Andi, salah satu peserta mengatakan, konsep berkain dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya Indonesia dapat dikenalkan melalui aktivitas yang sederhana.

“Konsep berkain hari ini lumayan unik. Kita diingatkan lagi kalau memang kebudayaan kita itu ya berkain,” terangnya.

Games dan lomba

Selain mengenakan kain, kegiatan Agustusan Not So Morning Club juga diisi dengan berbagai games dan lomba khas 17 Agustus.

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari kegiatan untuk menghadirkan suasana perayaan kemerdekaan sekaligus mempererat kebersamaan antarpeserta.

Azhar, salah satu anggota yang telah cukup lama mengikuti Not So Morning Club menjelaskan, kegiatan Agustusan tetap mempertahankan morning walk sebagai aktivitas utama komunitas, tetapi dikemas dengan permainan bernuansa kemerdekaan.

BACA JUGA  Kunjungi Putra Sayuti Melik, KSP Pastikan Negara Lindungi Lansia

“Karena kebetulan temanya Agustusan, kegiatan yang biasanya fun games kita buat seperti lomba. Tapi core event-nya tetap morning walk karena itu memang rutinitas kita selama weekend,” tuturnya.

Mengenal budaya

Bagi peserta, konsep tersebut membuat perayaan kemerdekaan terasa lebih santai sekaligus memberikan kesempatan untuk mengenal budaya Indonesia.

Kegiatan juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu, bergerak bersama, dan menikmati suasana Agustusan. Melalui kegiatan ini, Not So Morning Club turut menunjukkan bahwa pengenalan budaya dapat dilakukan melalui aktivitas yang sederhana dan menyenangkan.

Budaya berkain dihadirkan tidak hanya sebagai simbol perayaan, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas masyarakat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (zahra/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Warga Tolak Rencana Pemasangan Pagar Besi di Exit Tol Banyurejo

PULUHAN warga menggelar aksi di pintu keluar (exit tol) Banyurejo di Kapanewon Tempel, Sleman, Minggu. Warga yang tergabung dalam Forum Warga Terdampak Exit Tol Banyurejo tersebut memprotes rencana pemasangan pagar…

Semangati Kontingen Pramuka Daerahnya di Jamnas XII, Bupati Sleman Datang ke Cibubur

BUPATI Sleman, Harda Kiswaya, mengunjungi kontingen Pramuka Kabupaten Sleman yang tengah berpartisipasi dalam ajang Jambore Nasional XII 2026 di Cibubur, Jakarta, pada Sabtu (15/8). Dalam kunjungannya tersebut Harda didampingi Kepala…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Warga Tolak Rencana Pemasangan Pagar Besi di Exit Tol Banyurejo

  • August 16, 2026
Warga Tolak Rencana Pemasangan Pagar Besi di Exit Tol Banyurejo

Tradisi Unik Sambut HUT RI di Gang Stones, Kota Bandung 

  • August 16, 2026
Tradisi Unik Sambut HUT RI di Gang Stones, Kota Bandung 

Semangati Kontingen Pramuka Daerahnya di Jamnas XII, Bupati Sleman Datang ke Cibubur

  • August 16, 2026
Semangati Kontingen Pramuka Daerahnya di Jamnas XII, Bupati Sleman Datang ke Cibubur

Perkuat Digitalisasi Inklusif, BI Gelar Pekan QRIS Nasional Serentak

  • August 16, 2026
Perkuat Digitalisasi Inklusif, BI Gelar Pekan QRIS Nasional Serentak

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

  • August 15, 2026
Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

  • August 15, 2026
Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT