Di Balik Kelebihan Produksi Gas Metana TPST Bantargebang

PAKAR BIOREFINERY Universitas Gadjah Mada Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng., M.S., Ph.D., mengatakan metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi.

Gas ini umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik pada kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, maupun limbah industri pangan dengan kadar air tinggi.

“Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” kata Hanif, Senin (18/5).

Dalam kasus TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, saat ini terdapat tumpukan sampah organik dalam jumlah besar. Hal itu akan terbentuk zona-zona yang minim oksigen, terutama pada bagian dalam dan bawah timbunan sampah.

Aktivitas mikroorganisme

Kondisi lembap akibat air hujan, porositas yang rendah, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan yang ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik.

“Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” jelasnya.

BACA JUGA  Bantar Gebang Longsor lagi, Alarm Keras Bagi Pemkot DKI

Hanif menambahkan bahwa metana pada dasarnya merupakan bagian alami dari siklus karbon di bumi dan secara alami diproduksi dalam proses biodegradasi bahan organik.

Emisi gas rumah kaca

Namun, permasalahan lingkungan muncul ketika emisi metana meningkat secara berlebihan akibat akumulasi limbah organik yang tidak terkelola dan tidak termanfaatkan secara optimal.

“Mengingat potensi pemanasan global metana lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, pelepasan metana dari TPA menjadi salah satu isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca,” paparnya.

Dari perspektif teknik kimia dan konversi energi, pemanfaatan gas metana dari TPA dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih.

Proses tersebut dilakukan melalui teknologi penangkapan gas metana (methane capture), misalnya menggunakan jaringan pipa vertikal maupun horizontal yang dipasang di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas yang terbentuk di dalam landfill.

Sumber energi

Hanif menjelaskan bahwa gas metana yang terkumpul kemudian dapat dialirkan menuju unit pemurnian maupun pembangkit listrik berbasis biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.

BACA JUGA  Bantar Gebang Longsor lagi, Alarm Keras Bagi Pemkot DKI

Selain penerapan teknologi methane capture, Hanif menekankan bahwa upaya pencegahan melalui pemilahan sampah dan pengurangan limbah organik yang masuk ke TPA juga sangat penting.

Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana.

Oleh karena itu, pemanfaatan metana sebagai sumber energi perlu diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan guna mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.

Dukungan lintas sektoral

Hanif juga menilai bahwa optimalisasi pemanfaatan gas metana di TPA tidak dapat hanya mengandalkan operator pengelola sampah maupun sektor industri semata.

Diperlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha penyedia energi seperti PLN, untuk membangun infrastruktur dan sistem pemanfaatan gas landfill secara terintegrasi.

“Tingginya potensi produksi metana di TPST Bantargebang dinilai dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam mendorong pengurangan emisi sekaligus pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.

BACA JUGA  Bantar Gebang Longsor lagi, Alarm Keras Bagi Pemkot DKI

Terbesar di Asia Tenggara

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, kerap disebut sebagai TPST terbesar di kawasan Asia Tenggara sekaligus penghasil metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina.

Kedua tempat pembuangan sampah tersebut tertangkap oleh satelit Carbon Mapper sebagai produsen metana terbesar hingga mencapai lebih dari 6 ton perjam.

Hal itu mengemuka dalam laporan Emmett Institute, Pusat studi hukum dan kebijakan lingkungan serta perubahan iklim, Fakultas Hukum University of California merilis daftar nama 25 tempat pembuangan sampah dengan produksi metana terbesar di sepanjang tahun 2025. (AGT/A-01)

Admin

Related Posts

Faunaland  Mulai Melakukan Proses Revitalisasi Bandung Zoo

FAULAND langsung bergerak cepat. Setelah ditetapkan sebagai pengelola Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo, mereka melakukan proses transisi dan revitalisasi. Tujuannya untuk mempersiapkan kembalinya salah satu ruang konservasi, edukasi dan…

Inilah Penyebab Banyak Orang Indonesia Jatuh Miskin di Usia Senja

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat 41,75% lansia di Indonesia berada dalam kelompok rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah. Hal itu membuat lansia terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kerentanan ekonomi.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Australia Kubur Impian Skuat Garuda Muda

  • June 12, 2026
Australia Kubur Impian Skuat Garuda Muda

Borneo Resmi Tunjuk Mauro Jeronimo Jadi Suksesor Fabio Lefundes

  • June 11, 2026
Borneo Resmi Tunjuk  Mauro Jeronimo Jadi Suksesor Fabio Lefundes

Bareskrim Sita Pabrik Pemurnian Emas Ilegal di Sidoarjo

  • June 11, 2026
Bareskrim Sita Pabrik Pemurnian Emas Ilegal di Sidoarjo

URC Sleman Tangkap Pencuri Spesialis Kabel BTS

  • June 11, 2026
URC Sleman Tangkap Pencuri Spesialis Kabel BTS

Kalog Angkut 1.658.622 Ton Barang pada Mei

  • June 11, 2026
Kalog Angkut 1.658.622 Ton Barang pada Mei

Faunaland  Mulai Melakukan Proses Revitalisasi Bandung Zoo

  • June 11, 2026
Faunaland  Mulai Melakukan Proses Revitalisasi Bandung Zoo