
PEMERINTAH mengintegrasikan skrining kanker serviks (leher rahim) ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) guna mempercepat deteksi dini dan menekan keterlambatan penanganan kanker serviks. Integrasi ini mencakup pemeriksaan DNA HPV serta metode pengambilan sampel mandiri (self-sampling) untuk meningkatkan partisipasi perempuan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, mulai 2026 skrining kanker leher rahim dalam Program CKG akan disertai tindak lanjut yang jelas bagi peserta dengan hasil positif.
“Integrasi skrining ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis merupakan respons nyata pemerintah untuk mencegah keterlambatan penanganan dan progresivitas lesi pra-kanker,” ujar Dante.
Skrining kanker serviks dengan pemeriksaan DNA HPV
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan pemeriksaan DNA HPV, termasuk melalui metode self-sampling, menjadi solusi atas rendahnya minat perempuan menjalani pemeriksaan konvensional.
“Dengan metode self-sampling, perempuan dapat mengambil sampel sendiri dengan pendampingan petugas kesehatan, sehingga lebih mudah, nyaman, dan dapat diterima,” jelasnya, Rabu (27/1).
Selain itu, pemeriksaan DNA HPV juga akan dikembangkan dalam paket medical check-up (MCU) di fasilitas kesehatan, seiring kebijakan integrasi MCU ke dalam Program CKG yang mulai diterapkan pada 2026.
Program CKG dibiayai pemerintah
Program CKG sepenuhnya dibiayai pemerintah. Sementara itu, BPJS Kesehatan akan berperan dalam tahap rujukan dan pengobatan lanjutan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Untuk memastikan hasil skrining segera ditindaklanjuti, penanganan lesi pra-kanker, termasuk terapi ablasi termal, telah disiapkan di fasilitas layanan primer seperti puskesmas.
Pemerintah berharap kebijakan ini dapat memperluas akses skrining, meningkatkan partisipasi perempuan, serta memperkuat upaya eliminasi kanker leher rahim pada 2030. (*/S-01)







