
MAHASISWA Fakultas Teknik Program Studi Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menunjukkan keahlian permak busana dalam ajang Pra-Konaspi XII yang diikuti delegasi dari 12 perguruan tinggi negeri Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia.
Di hadapan para pimpinan perguruan tinggi LPTK, mahasiswa memperagakan secara langsung proses permak pakaian, mulai dari kaos, baju batik, hingga celana. Layanan dilakukan di lokasi kegiatan sehingga peserta dapat langsung mencoba hasil penyesuaian sebelum digunakan dalam rangkaian acara.
Para mahasiswa menangani proses secara menyeluruh, mulai dari pengukuran, penyesuaian pola, hingga tahap penyelesaian akhir.
Konsep layanan on the spot ini menjadi daya tarik tersendiri dalam forum yang dihadiri para pemangku kebijakan pendidikan tersebut.
Salah satu mahasiswa, Endah Nurviana Sari, mengatakan keterlibatannya dalam kegiatan ini menjadi pengalaman belajar berbeda karena berhadapan langsung dengan pengguna jasa dari berbagai latar belakang.
“Biasanya kami praktik di laboratorium dengan ukuran standar. Di sini kami harus bekerja cepat, rapi, dan tetap nyaman dipakai karena langsung digunakan peserta,” ujarnya, Selasa (27/1).
Permak busana on the spot
Mahasiswa lainnya, Nila Anggraini Mafiya, menambahkan tantangan terbesar adalah mengatur waktu dan menjaga ketelitian di tengah banyaknya peserta. Namun, pengalaman tersebut justru melatih kemampuan kerja tim dan komunikasi.
“Rasanya bangga ketika melihat hasil jahitan kami langsung dikenakan oleh peserta,” kata mahasiswa asal Malang, Jawa Timur itu.
Dosen Prodi Pendidikan Tata Busana FT UNY, Awwali Ibnu Wardaya, M.Pd., yang mendampingi kegiatan, menyampaikan bahwa dosen tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga terlibat langsung dalam proses menjahit bersama mahasiswa.
“Kami ingin mahasiswa merasakan suasana kerja nyata, sekaligus melihat bagaimana dosen juga terlibat langsung dalam proses, mulai dari pengukuran hingga penyelesaian,” ujarnya.
Media pembelajaran
Menurut Awwali, layanan permak ini menjadi media pembelajaran kontekstual yang efektif karena mahasiswa tidak hanya menerapkan keterampilan teknis, tetapi juga etika pelayanan, manajemen waktu, dan komunikasi dengan klien.
“Ini bukan hanya soal hasil jahitan, tetapi juga bagaimana mahasiswa berinteraksi dengan klien dan menjaga kualitas kerja,” tambahnya.
Salah satu peserta Pra-Konaspi XII, Hilma dari Universitas Negeri Padang, mengaku terkesan dengan layanan permak on-the-spot tersebut.
“Baru kali ini kami menjumpai layanan permak baju di tempat sehingga dapat langsung digunakan saat acara. Ide yang sangat bagus dan bisa diterapkan di institusi lain,” ujarnya.
Melalui keterlibatan dalam Pra-Konaspi XII, mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Busana FT UNY memperoleh pengalaman praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dalam berbagai agenda kampus sebagai sarana pembelajaran aplikatif dan berkelanjutan. (AGT/S-01)









