
TIM Tenaga Cadangan Kesehatan–Emergency Medical Team (TCK-EMT) Batch 2 Kementerian Kesehatan RI melaksanakan imunisasi tambahan campak atau measles and rubella (MR) di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Hingga 8 Januari 2026, imunisasi tambahan campak telah dilakukan di dua fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meureudu, dengan total sasaran sebanyak 1.211 anak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 42 anak atau sekitar 3,5 persen telah menerima imunisasi tambahan. Sementara capaian kumulatif Outbreak Response Immunization (ORI) di Kabupaten Pidie Jaya sejak pencanangan tercatat mencapai 489 anak atau sekitar 11,6 persen.
Dalam pelaksanaannya, tim mencatat sejumlah kendala di lapangan, di antaranya cuaca hujan yang memengaruhi kehadiran sasaran, kondisi akses jalan yang berlumpur, serta adanya penolakan dari anak-anak yang takut disuntik atau belum memperoleh izin dari orang tua.
Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pemerintah daerah guna memastikan pelayanan kesehatan masyarakat pascabencana tetap berjalan optimal. Pendampingan dilakukan melalui pelayanan medis, penanganan kegawatdaruratan, hingga upaya pencegahan penyakit melalui program imunisasi.
Untuk pelayanan kesehatan kuratif, fokus diarahkan ke sejumlah puskesmas dan RSUD Pidie Jaya guna menjamin akses layanan kesehatan bagi masyarakat tetap tersedia.
Pelayanan kesehatan dilaksanakan di beberapa fasilitas, antara lain Puskesmas Meurah Dua, Puskesmas Meureudu, Puskesmas Ulim, Puskesmas Jangka Buya, dan Puskesmas Blang Kuta.
Imunisasi tambahan campak dan ayanan gawat darurat
Selain layanan rawat jalan, tim juga melakukan koordinasi serta penguatan layanan kegawatdaruratan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Pidie Jaya.
PIC Pidie Jaya, Endang Burni Prasetyowati, menyampaikan bahwa di IGD RSUD Pidie Jaya, tim TCK-EMT bersama tenaga kesehatan setempat telah menangani sebanyak 31 pasien, baik dewasa maupun anak-anak.
“Kasus yang ditangani meliputi kegawatdaruratan pernapasan seperti pneumonia dan asma eksaserbasi akut, penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi emergensi, serta diabetes melitus dengan komplikasi, hingga kasus trauma dan luka,” ujarnya.
Endang menambahkan, seluruh pasien telah menjalani proses triase sesuai tingkat kegawatdaruratan dan mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan, mulai dari pemberian oksigen, pemasangan infus, pemeriksaan EKG, penanganan luka, hingga pemantauan tanda-tanda vital. (*/S-01)







