
PENELITI Pusat Kajian Geografi Kepulauan dan Pembangunan UGM Dr. Agung Satriyo Nugroho mengemukakan hasil riset sepuluh tahun tim Ekspedisi ARE mengenai resiliensi kawasan kepulauan.
Ia menyoroti bahwa pendekatan resiliensi selama ini masih terfokus pada individu sehingga aspek kewilayahan belum terkelola secara optimal.
Penelitian mereka kemudian menghasilkan konsep resiliensi regional yang memberi perhatian pada ketangguhan pulau kecil sebagai satu kesatuan sistem.
“Resiliensi di konteks wilayah masih belum banyak dilakukan sehingga perlu pendekatan baru yang bersifat kewilayahan,” jelas Agung.
dalam Diskusi Pemikiran Bulaksumur dikutip dari rilis tertulis yang diterima www.mimarindonesia.com di Yogyakarta, Sabtu pagi
Agung menjelaskan bahwa banyak pulau kecil di tengah Nusantara yang belum tergarap padahal menjadi ruang hidup masyarakat maritim yang padat dan rentan.
Melalui Ekspedisi ARE, timnya mengeksplorasi kondisi wilayah tersebut dan menyusun konsep ketahanan berbasis survival strategy. Ia menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, pangan, energi, komunikasi dan ruang perlindungan.
“Pulau kecil itu harus dieksekusi menggunakan survival strategy agar masyarakat tetap bertahan ketika terjadi bencana,” tegasnya. (AGT/N-01)








