Edelweiss, Bunga Pegunungan yang Kini Dilindungi Hukum

EDELWEISS adalah bunga putih berbentuk bintang yang tumbuh di pegunungan Asia dan Eropa. Bunga ini mampu bertahan dalam kondisi ekstrem seperti ketinggian, suhu beku, angin kencang, hingga paparan radiasi UV berkat lapisan rambut halus tebal di permukaannya. Nama “Edelweiss” berasal dari bahasa Jerman yang berarti “putih mulia”.

Selain melambangkan keberanian dan keindahan, Edelweiss juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik karena kandungan antioksidannya. Namun, bunga ini sempat hampir punah akibat pemetikan berlebihan sehingga kini dilindungi oleh undang-undang di negara-negara seperti Swiss.

Bunga edelweiss dikenal sebagai “bunga abadi” karena bentuknya yang khas dan daya tahannya yang luar biasa. Meski sebenarnya tetap bisa layu dan mati seperti tumbuhan lain, edelweiss memiliki kelopak berbentuk bintang dengan rambut halus putih keperakan yang membuatnya tampak selalu segar.

BACA JUGA  Kebakaran Bar di Resor Ski Swiss, 40 Orang Tewas

Bahkan ketika dikeringkan, bunga ini hampir tidak berubah warna maupun bentuk, sehingga terlihat seolah tidak pernah layu. Inilah yang membuat edelweiss menjadi simbol cinta abadi, keteguhan, dan keabadian dalam banyak budaya.

Keistimewaannya ini juga menjadikan edelweiss dilindungi oleh hukum di beberapa negara, termasuk di kawasan pegunungan Indonesia, agar tidak punah akibat perburuan berlebihan.

Dengan nama ilmiah Leontopodium alpinum memiliki kumpulan bunga kecil berwarna kuning yang dikelilingi 5–15 daun berbulu putih berbentuk bintang (bracts).

Hidup di lingkungan pegunungan tinggi dengan kondisi ekstrem. Berasal dari Asia dan bermigrasi ke Pegunungan Alpen sejak Zaman Es. Penyerbukannya dibantu oleh lalat.

Bunga tersebut menjadi lambang  kemurnian dan kesetiaan, sering diberikan sebagai tanda cinta.

BACA JUGA  Gasak Hongaria, Jerman Segel Tiket ke Babak 16 Besar

Menjadi bunga nasional di beberapa negara dan muncul pada berbagai logo serta lambang resmi, termasuk Swiss Tourism. Pada Perang Dunia I dan II, prajurit Alpen membawa Edelweiss sebagai pengingat kampung halaman.

Siswantini Suryandari

Related Posts

Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Bentunya mirip capung, tapi jenis serangga ini memiliki karakteristk berbeda terutama dalam hal cara terbang. Lalat capung, demikian serangga ini sering disebut, dapat bergerak vertikal, berbalik, dan melayang kembali ke…

Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

KEPALA Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Haris Martapa membenarkan hujan deras yang disertai angin kencang pada Rabu sore menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Dikatakan Haris, di Niten, Nogotirto, Gamping, Sleman akibat hujan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

  • April 30, 2026
Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

  • April 30, 2026
Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Imbangi Atletico di Madrid, Arsenal di Atas Angin

  • April 30, 2026
Imbangi Atletico di Madrid, Arsenal di Atas Angin

Bekuk Persik Kediri, Borneo Rebut Posisi Puncak

  • April 29, 2026
Bekuk Persik Kediri, Borneo Rebut Posisi Puncak

Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

  • April 29, 2026
Sejumlah Pohon di Sleman Bertumbangan akibat Hujan Deras

Gubernur Jabar Bakal Tindak Ormas Penguasa Perlintasan Kereta

  • April 29, 2026
Gubernur Jabar Bakal Tindak Ormas Penguasa Perlintasan Kereta