Dosen UGM Raih Grant Penelitian Internasional U’Good

DOSEN Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Dr. Wenty Marina Minza bersama tim Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP), berhasil meraih hibah penelitian senilai Rp3,2 miliar dari program internasional U’Good.

Program ini didanai oleh tiga lembaga global, yakni The National Research Foundation (NRF) Afrika Selatan, Fondation Botnar Swiss, dan Human Science Research Council (HSRC) Afrika Selatan.

Fokus utama U’Good adalah mendukung riset yang menyoroti isu pemuda dan relational wellbeing. Penelitian yang diusulkan tim CICP berjudul “Vulnerable Youth: Navigating Meaningful Livelihood in Indonesia”.

Pemuda kelompok rentan

Riset ini akan menggali bagaimana pemuda dari kelompok rentan di Indonesia memaknai kehidupan yang bermakna (meaningful livelihood), tidak hanya dari sisi pribadi, tetapi juga dalam kaitannya dengan hubungan sosial dan lingkungan sekitar.

BACA JUGA  Pemprov Jateng Hibahkan Lahan 26,8 Hektar ke Kejati untuk Diklat dan Rumah Sakit

Kelompok rentan tersebut mencakup anak muda yang tinggal di wilayah rawan bencana, konflik agama, hidup dengan HIV/AIDS, gangguan kesehatan mental, disabilitas, hingga yang mengalami pengangguran kronis. “Pemuda-pemuda ini sangat bergantung pada social network, terutama karena akses mereka terhadap pendidikan dan pekerjaan sangat terbatas,” ujar Wenty, Kamis di Yogyakarta.

Menurut dia, pendekatan relational wellbeing menekankan pentingnya jaringan sosial, dukungan komunitas, dan institusi sebagai fondasi utama dalam membangun kesejahteraan. Hal ini menjadi semakin penting mengingat Indonesia akan menghadapi puncak bonus demografi pada tahun 2030, yang bisa menjadi peluang besar jika kerentanan ini bisa diatasi dengan tepat.

Lima wilayah

Dikatakan, proyek ini akan dilaksanakan di lima wilayah yang mewakili konteks kerentanan berbeda yakni di Daerah Istimewa Yogyakarta tentang kesehatan mental dan HIV/AIDS, lalu di Sumatera Barat mengenai penyandang disabilitas, Nusa Tenggara Timur terkait pengangguran.

BACA JUGA  Pendekatan Resiliensi Kewilayahan Dinilai belum Optimal

Selanjutnya riset di Maluku Utara mengenai bencana alam dan Kalimantan Barat mengenai konflik etnis dan agama.

“Penelitian dirancang berlangsung selama tiga tahun, dimulai dengan persiapan pada Juli 2025, dilanjutkan dengan scoping review hingga akhir tahun, pengembangan alat ukur di awal 2026, dan riset lapangan secara mixed-method hingga Desember 2026,” katanya.

Lintas institusi

Tim peneliti terdiri dari berbagai akademisi lintas institusi, antara lain Praditya Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., sebagai Co-PI, Dr. Roy Huijsman dari Erasmus University Amsterdam, Ali Mashuri, S.Psi., M.Sc., Ph.D., dari Universitas Brawijaya, dan Dr. Amalinda Savirani, M.A., dariFISIPOL UGM.

Selain itu, mitra non-akademik seperti Kampung Halaman Foundation dan Yakkum Emergency Unit akan berperan penting dalam menjangkau kelompok sasaran di tiap daerah.

BACA JUGA  Polisi Sleman Tangkap Pelaku Aksi Kekerasan Jalanan

“Misalnya, Yakkum akan membantu menggerakkan pemuda rentan untuk aktif dalam proses riset, sedangkan Dr. Roy akan memberi pandangan global agar konteks Indonesia bisa dibaca dalam diskusi akademik internasional,” tambah Wenty.

Konferensi internasional

Hasil riset ini direncanakan akan disebarluaskan melalui presentasi di konferensi internasional, penerbitan artikel ilmiah, pameran foto dan visualisasi data secara daring maupun luring, hingga penyusunan policy brief yang inklusif.

“Riset ini juga menekankan partisipasi aktif pemuda, yang akan dilibatkan sebagai penulis bersama dan mitra riset dalam setiap tahapan,” ujarnya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyoroti dilema dan ketidakadilan yang dihadapi insan pers di tengah perkembangan media sosial. Di satu sisi, jurnalis dituntut menjunjung tinggi etika, kebenaran, dan independensi.…

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

INDONESIA menghadapi beban dengue yang masih tinggi. Pada 2025, Indonesia tercatat menempati urutan kedua di dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

  • October 29, 2026
Silmy Karim Didakwa  Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

  • October 29, 2026
Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

  • October 29, 2026
Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

  • October 29, 2026
Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

  • October 29, 2026
Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

  • October 29, 2026
Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue