Profil Takato Ishida, Gubernur Muda Jepang Viral

SEORANG politisi muda Jepang menjadi sorotan publik bukan hanya karena kemenangannya di pemilihan, tetapi juga karena penampilannya yang dinilai menarik. Ia adalah Takato Ishida (35), kandidat independen yang memenangkan pemilihan gubernur Prefektur Fukui pada 25 Januari lalu.

Kemenangan tersebut menjadikan Takato sebagai gubernur termuda yang saat ini menjabat di Jepang. Ia juga berhasil mengalahkan rival-rival dari kalangan partai mapan yang berusia 60-an tahun, di salah satu prefektur yang dikenal konservatif.

Dikutip dari 8days, Takato bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Jepang pada 2015 dan sempat menjabat sebagai wakil konsul di Konsulat Jenderal Jepang di Melbourne. Ia mengundurkan diri dari kementerian pada Desember 2025 untuk maju dalam pemilihan gubernur.

BACA JUGA  Perusahaan Jepang Menganut Kultur Long Life Employment

Gubernur dengan dua gelar

Secara akademik, Takato meraih dua gelar Bachelor of Arts di bidang Komunikasi Internasional dari Kansai Gaidai University dan Studi Internasional dari Pacific University. ‘

Ia juga memperoleh gelar Master of Science in Foreign Service dari Walsh School of Foreign Service, Georgetown University, pada 2018.

Takato memiliki dua adik, sementara ayahnya merupakan seorang ahli bedah yang pernah berpraktik di London. Hingga kini belum diketahui apakah ia telah menikah atau tengah menjalin hubungan.

Takato Ishida, gubernur charming

Di media sosial, banyak warganet mengomentari penampilannya yang dinilai menawan. Sebagian bahkan secara terbuka mengaku mengaguminya. Namun, di tengah popularitas tersebut, sejumlah lawan politik menuding kemenangan Takato dipengaruhi populisme dan sentimen rasial, dengan alasan citra pribadinya lebih menonjol dibandingkan gagasan kebijakan.

BACA JUGA  Prabowo Ajak Jepang Berpartisipasi Empat Prioritas Pembangunan

Takato juga sempat menuai kontroversi saat kampanye setelah menyebut Jepang sebagai negara yang “homogen secara etnis” dalam sebuah video di media sosial.

Usai kemenangannya, ia mengklarifikasi bahwa pernyataan tersebut dimaksudkan untuk menyuarakan penolakan terhadap “imigrasi yang tidak teratur”, bukan untuk menyangkal keberadaan kelompok masyarakat adat seperti Ainu.

Di sisi lain, para pendukungnya melihat Takato sebagai simbol perubahan generasi dan cerminan kejenuhan pemilih terhadap elite politik lama. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Resmi Bantu Iran, Houthi Serang Israel dengan Rudal Balistik

KELOMPOK milisi Yaman, Houthi, meluncurkan rudal balistik ke arah Israel pada Sabtu. Serangan itu menandai keterlibatan Houthi dalam perang di Timur Tengah. Juru bicara Houthi menyatakan bahwa kelompok tersebut telah…

Serangan ke Iran Diduga Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files

PENYERANGAN Amerika Serikat ke Iran disebut-sebut sebagai upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan isu asusila yang melibatkan dirinya. Pasalnya, skandal yang ada dalam Epstein Files itu mengungkap sejumlah nama…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

UIN Sunan Kalijaga Masuk Ranking V Bidang Hukum Versi Scimago

  • March 30, 2026
UIN Sunan Kalijaga Masuk Ranking V  Bidang Hukum Versi Scimago

Tertular Campak, Dokter Asal Kabupaten Cianjur Wafat 

  • March 30, 2026
Tertular Campak, Dokter Asal Kabupaten Cianjur Wafat 

Para Siswa Sambut Hari Pertama Sekolah dengan Gembira

  • March 30, 2026
Para Siswa Sambut Hari Pertama Sekolah dengan Gembira

Tingkatkan Pelayanan, Manajemen Gembira Loka Zoo Naikkan Harga Tiket

  • March 30, 2026
Tingkatkan Pelayanan, Manajemen Gembira Loka Zoo Naikkan Harga Tiket

Pemprov Jabar Sudah Terapkan WFH

  • March 30, 2026
Pemprov Jabar Sudah Terapkan WFH

Pakar UGM Desak Pemda Buka Ruang Dialog Soal Nasib PPPK

  • March 30, 2026
Pakar UGM Desak Pemda Buka Ruang Dialog Soal Nasib PPPK