
KEPALA Eksekutif Hong Kong, John Lee, memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh kompleks perumahan yang tengah menjalani renovasi besar menyusul kebakaran dahsyat yang melanda kota tersebut.
“Pemerintah telah segera mengatur inspeksi terhadap semua perumahan yang sedang menjalani perbaikan besar di seluruh Hong Kong untuk memeriksa keamanan perancah dan material bangunan,” ujar Lee dalam pernyataan melalui Facebook pada Kamis.
Pemerintah belum merinci berapa banyak kompleks perumahan yang masuk dalam pemeriksaan ini. Namun, Hong Kong kota berpenduduk 7,5 juta jiwa dikenal memiliki salah satu konsentrasi gedung pencakar langit dan hunian vertikal tertinggi di dunia.
Hong Kong dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Untuk mengakomodasi jumlah penduduk yang besar di area yang sempit, kota ini mengandalkan hunian vertikal dan unit-unit kecil, termasuk subdivided flats yang banyak dihuni warga berpenghasilan rendah. Kondisi ini kerap membuat bangunan padat dan minim ventilasi, sehingga meningkatkan kerentanan saat terjadi kebakaran.
Selain kepadatan penduduk, banyak gedung apartemen di Hong Kong berusia puluhan tahun. Pemeliharaan yang tidak merata serta penggunaan bahan bangunan yang kurang aman dalam proyek renovasi turut memperbesar potensi bahaya.
Pada kasus kebakaran di Wang Fuk Court, ahli keselamatan menyebut penggunaan perancah bambu serta bahan renovasi yang mudah terbakar sebagai penyebab api menjalar begitu cepat.
Tekanan ekonomi membuat sebagian warga tinggal di hunian tidak standar, seperti subdivided flats atau kamar-kamar kecil yang dibagi dari satu unit besar. Area ini sering kali memiliki jalur evakuasi terbatas, sistem pemadam internal yang minim, serta pemasangan instalasi listrik yang kurang sesuai standar, sehingga menambah risiko kebakaran fatal. (*/S-01)







