UN Women Sebut Dampak Gempa untuk Perempuan di Myanmar

UN Women dan UNFPA (Kelompok Kerja Gender dalam Kemanusiaan) menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan dan anak perempuan di Myanmar terdampak gempa.

Bahkan sebelum gempa terjadi, lebih dari sepertiga penduduk Myanmar, termasuk 10,4 juta perempuan dan anak perempuan sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.

UN Women, badan di bawah PBB yang fokus pada perempuan dan UNFPA memberikan pernyataan tantangan utama dihadapi perempuan dan anak perempuan pascagempa di Myanmar, Rabu (3/4):

1. Risiko Kekerasan Berbasis Gender Meningkat

Dengan rumah dan infrastruktur yang hancur, perempuan dan anak perempuan terpaksa tinggal di kamp pengungsian yang penuh sesak dan tenda darurat tanpa privasi dan keamanan. Banyak yang tinggal di luar ruangan hanya dengan selimut atau kain sebagai sekat, dengan penerangan yang terbatas. Tanpa akses ke layanan bagi korban kekerasan berbasis gender, banyak penyintas yang tidak bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

BACA JUGA  Pemerintah Myanmar Umumkan Masa Berkabung Nasional

2. Pemisahan Keluarga dan Ancaman terhadap Anak-Anak

Anak-anak yang terpisah dari keluarga dan pengasuh mereka, serta tinggal di tempat penampungan yang penuh sesak, menghadapi risiko lebih tinggi mengalami kekerasan, perdagangan manusia, dan migrasi tidak aman. Risiko ini lebih tinggi bagi anak perempuan, yang dapat mengalami kekerasan seksual atau dipaksa menikah dini.

3. Gangguan Layanan Kesehatan Mengancam Kesehatan Reproduksi Perempuan

Banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan rusak atau hancur, sementara yang masih berdiri kewalahan menghadapi banyaknya korban. Jalan yang rusak dan kelangkaan bahan bakar membuat perempuan semakin sulit mendapatkan layanan kesehatan.
Dampaknya:

  • Korban kekerasan berbasis gender tidak dapat mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan.
  • Persalinan dan layanan kesehatan ibu menjadi lebih berisiko.

4. Kekurangan Air Bersih, Sanitasi, dan Kebersihan

Perempuan dan anak perempuan kesulitan mendapatkan toilet dan tempat mandi yang aman, sehingga sulit menjaga kebersihan, terutama saat menstruasi, hamil, atau setelah melahirkan.

  • Di satu kamp pengungsian sementara, hanya ada 14 toilet untuk 1.200 orang.
  • Air minum terkontaminasi karena pompa listrik tidak berfungsi, meningkatkan risiko penyakit.
BACA JUGA  Korban Gempa Myanmar Sudah Lebih dari 1.000

5. Risiko Kelaparan dan Malnutrisi bagi Perempuan dan Anak Perempuan

  • Pasokan makanan semakin berkurang, sementara pasar yang berfungsi sangat sedikit.
  • Harga pangan diperkirakan meningkat, dan karena perempuan sering bertanggung jawab memberi makan keluarga, mereka lebih rentan mengalami kekurangan gizi.
  • Kepala keluarga perempuan kesulitan mendapatkan bantuan darurat dan sumber penghasilan untuk bertahan.

6. Dampak Mental yang Mendalam

Hampir semua orang yang terdampak bencana mengalami tekanan psikologis. Sekitar 1 dari 5 orang akan mengalami gangguan kesehatan mental jangka panjang, tetapi hanya 2% yang mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Bagi perempuan dan remaja perempuan di Myanmar, dampak psikologisnya sangat berat. Mereka menghadapi trauma kehilangan rumah dan orang tercinta, serta berjuang untuk bertahan hidup dan merawat keluarga mereka. Trauma baru ini terjadi di tengah tekanan akibat konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan ekonomi yang sudah mereka hadapi sebelumnya.

BACA JUGA  Gempa Bumi Myanmar Tewaskan 144 Orang

Gempa bermagnitudo 7,7 di dekat Mandalay dan Sagaing, disusul oleh gempa bermagnitudo 6,4 di bagian selatan menyebabkan 2.800 orang tewas, 4.600 orang terluka, dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Gempa bumi di Myanmar telah memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sulit. Dukungan global sangat dibutuhkan untuk membantu perempuan dan anak perempuan yang terdampak bencana ini. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Presiden Prabowo Ingin Tingkatkan Kerja Sama dengan Rusia

SEBAGAI negara yang sudah bersahabat sejak lama, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk terus meningkatkan kerja sama dengan Rusia. Dalam jamuan santap siang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia,…

Ukraina Sebut 8 WNI Jadi Tentara Rusia, Kemlu Lakukan Verifikasi

KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemlu) RI mengaku tengah memverifikasi informasi mengenai warga negara Indonesia (wni) yang direkrut jadi tentara Rusia. Saat ini Kemenlu terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. “Informasi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Dari Noken Papua hingga Batik Jawa Hiasi Etelase Nusantara di Panggung MTQ Nasional 2026

  • September 14, 2026
Dari Noken Papua hingga Batik Jawa Hiasi Etelase Nusantara di Panggung MTQ Nasional 2026

Pameran MTQ Nasional di Jateng Catat Transaksi sekitar Rp500 Juta per Hari

  • September 14, 2026
Pameran MTQ Nasional di Jateng Catat Transaksi sekitar Rp500 Juta per Hari

Pemkot Bandung Lakukan Pengawasan Khusus pada Tiga SPPG

  • September 14, 2026
Pemkot Bandung Lakukan Pengawasan Khusus pada Tiga SPPG

Polri dan Jurnalis Gelar Doa Bersama untuk Korban Kapal Virgo dan 5 Wartawan Hilang

  • September 14, 2026
Polri dan Jurnalis Gelar Doa Bersama untuk Korban Kapal Virgo dan 5 Wartawan Hilang

Presiden Resmi Melantik Suahasil Nazara Jadi Menkeu Gantikan Purbaya

  • September 14, 2026
Presiden Resmi Melantik Suahasil Nazara Jadi Menkeu Gantikan Purbaya

Buaya Berukuran Besar di Tepi Sungai Sidoarjo Kagetkan Rombongan Guru

  • September 14, 2026
Buaya Berukuran Besar di Tepi Sungai Sidoarjo Kagetkan Rombongan Guru