
MILISI Hizbullah mengaku menyerang sejumlah markas intelijen militer Israel di Tel Aviv. Hizbullah menyebut serangan mereka menargetkan pangkalan Glilot yang menjadi markas unit intelijen militer Israel, Unit 8200, dan menargetkan markas besar badan intelijen Mossad.
Selain menyasar Unit 8200, Hizbullah juga mengklaim menyerang markas Mossad Israel di pinggiran Tel Aviv.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan pihaknya berhasil mencegat sejumlah roket yang diluncurkan ke wilayahnya. Otoritas Israel juga melaporkan salah satu proyektil dari Lebanon menghantam jalanan dan memicu korban luka.
Peluncuran roket ini terjadi di saat pasukan militer Israel melancarkan invasi darat ke Lebanon selatan pada Selasa (1/10) dini hari.
Serbuan darat itu sedikitnya menewaskan 10 orang dan melukai lima orang di Daoudiya. IDF mengklaim serangan darat itu menargetkan desa-desa di sekitar perbatasan, yang menimbulkan ancaman terhadap komunitas Israel di wilayah utara.
Disebutkan militer Israel bahwa operasi darat di Lebanon dimulai pada Senin (30/9) malam, dengan melibatkan pasukan terjun payung dan komando dari divisi elite ke-98, yang dikerahkan ke dekat perbatasan utara dari Jalur Gaza sejak dua pekan lalu.
Penderitaan besar
Sementara itu, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mengaku khawatir invasi darat Israel ke Lebanon itu akan mengakibatkan penderitaan bagii warga sipil.
“Kami sangat prihatin dengan meluasnya permusuhan di Timur Tengah dan potensinya untuk menenggelamkan seluruh kawasan dalam bencana kemanusiaan dan hak asasi manusia,” kata juru bicara OHCHR Liz Throssell.
Throssell memperingatkan bahwa situasi dapan mengerikan terhadap warga sipil, dan bisa cepat meluas hingga melibatkan negara-negara lain di kawasan tersebut.
“Dengan meningkatnya kekerasan bersenjata antara Israel dan Hizbullah, konsekuensi bagi warga sipil sudah sangat mengerikan,” katanya. (BBC/Al Jazeera/N-01)









