
PEMERINTAH Kota Bandung bersama berbagai pemangku kepentingan mengukuhkan Forum Multipihak Sistem Pangan (Forum Karasa) sebagai langkah strategis membangun sistem pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan perkotaan. Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Urban Futures.
Forum ini dibentuk di tengah tantangan serius yang dihadapi Kota Bandung. Sebanyak 94,05 persen kebutuhan pangan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Di sisi lain, hampir 60 persen sampah kota merupakan sampah organik, dan sekitar 20 persen di antaranya berupa sisa makanan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menegaskan pentingnya integrasi berbagai program untuk membangun sistem pangan sirkular.
“Sebesar 94,05 persen pangan kita masih bergantung dari luar kota. Di sisi lain, hampir 60 persen sampah Kota Bandung adalah sampah organik, dengan sekitar 20 persen berupa sisa makanan. Karena itu, integrasi program Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dashat menjadi kunci membangun sistem pangan sirkular,” ujarnya, Jumat (13/2).
Forum Karasa untuk Ketahanan Pangan
Di tingkat komunitas, inisiatif pertanian perkotaan juga terus diperkuat. Vania Febriyantie dari Seni Tani menjelaskan pendekatan Community Supported Agriculture (CSA) dikembangkan untuk mendekatkan produsen dan konsumen di Kota Bandung. Selama pelaksanaan Urban Futures pada 2025, tercatat 215 orang bergabung sebagai anggota CSA Seni Tani.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan sistem pangan yang tangguh dan berkeadilan. Ia berharap Forum Karasa—yang mengintegrasikan Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dashat—menjadi ruang sinergi yang aktif dan berkelanjutan.
“Harapannya, Forum Karasa dapat menjadi ruang sinergi yang hidup, mendorong peran aktif masyarakat dan generasi muda, serta mempercepat terwujudnya sistem pangan Kota Bandung yang tangguh, berkeadilan, dan berkelanjutan. Forum ini ke depan bisa diformalkan melalui keputusan wali kota,” ujarnya.
Regional Coordinator Urban Futures, Laily Himayati, memastikan komitmen keberlanjutan kolaborasi tersebut. Pihaknya akan terus mengawal forum agar berjalan secara reguler demi mewujudkan sistem pangan yang lebih adil, berkelanjutan, dan tahan terhadap perubahan iklim.
Dalam forum tersebut, perwakilan Urban Futures menyerahkan kertas kebijakan berisi rekomendasi penguatan ketahanan pangan berkelanjutan, termasuk pembangunan simpul pangan kota dan integrasi ekosistem pangan terpadu dalam agenda pembangunan daerah.
Pada kesempatan yang sama, Majelis Simpang Muda (MSM) membacakan deklarasi dan menyerahkan rekomendasi kepada Pemkot Bandung melalui DKPP. Keterlibatan generasi muda ini menegaskan bahwa sistem pangan berkelanjutan membutuhkan partisipasi aktif lintas generasi. (Rava/S-01)







