
YOGYAKARTA kembali dipadati wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dalam periode singkat, jumlah kunjungan mencapai jutaan orang dan menyebar dari pusat kota, destinasi budaya, hingga kawasan permukiman di sekitar objek wisata.
Geliat pariwisata tersebut memberikan dorongan ekonomi yang signifikan, sekaligus menghadirkan tekanan baru bagi kehidupan perkotaan. Situasi ini menjadikan libur akhir tahun sebagai uji daya tahan Kota Yogyakarta sebagai kota wisata yang selama ini dikenal ramah dan inklusif.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arie Sujito, menilai lonjakan wisatawan mencerminkan daya tarik Yogyakarta yang terus menguat sebagai destinasi wisata nasional. Dampak ekonomi cepat terasa di sektor perdagangan, jasa, hingga usaha kecil yang bergantung pada pariwisata.
Namun, di sisi lain, kepadatan pengunjung membawa konsekuensi sosial yang tidak ringan bagi masyarakat sekitar kawasan wisata.
“Ruang ini memang dipandang sebagai peluang positif, tetapi tantangannya nyata karena muncul kemacetan, interaksi sosial yang semakin padat, serta risiko lingkungan yang perlu dipikirkan bersama,” ujar Arie, Rabu (31/12).
Uji daya tahan kota saat libur Nataru
Dampak kepadatan paling dirasakan oleh warga lokal yang menjalani aktivitas harian di tengah lonjakan mobilitas wisatawan. Kemacetan dan meningkatnya waktu tempuh menjadi pengalaman berulang setiap musim liburan, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan padat.
“Bagi warga sendiri, kepadatan ini membuat aktivitas keluar rumah terasa tidak nyaman karena kemacetan muncul di hampir semua titik,” katanya.
Tekanan juga terjadi pada ruang publik yang kerap menjadi titik temu warga dan wisatawan. Ruang terbuka semakin terbatas fungsinya ketika dipenuhi aktivitas wisata secara bersamaan. Persoalan sampah pun muncul sebagai konsekuensi serius dari meningkatnya jumlah pengunjung.
“Kemampuan mengelola sampah dan membangun budaya menjaga kebersihan menjadi keharusan, karena pariwisata tidak cukup dilihat dari sisi pemasukan ekonomi semata,” lanjut Arie.
Menggerakkan UMKM
Dari sisi ekonomi, ia menilai manfaat pariwisata memang terasa luas, namun distribusinya perlu mendapat perhatian. Aktivitas wisata menggerakkan UMKM, homestay, dan sektor jasa lainnya, tetapi potensi ketimpangan tetap mengintai jika keuntungan terkonsentrasi pada pelaku bermodal besar.
“Pengusaha besar sebaiknya turut memberdayakan pelaku usaha lokal agar pemerataan terjadi dan tidak memicu kecemburuan sosial,” pesannya.
Arie menegaskan peran pemerintah menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kualitas hidup warga. Perencanaan kota perlu memandang kepadatan wisata sebagai isu jangka menengah dan panjang, bukan sekadar fenomena musiman.
Kerja sama antara kota dan kabupaten di sekitar Yogyakarta juga dinilai penting untuk mengatur tata ruang dan mobilitas secara lebih adil.
“Desain kebijakan di level provinsi dan kerja sama lintas wilayah dibutuhkan agar kota berkembang dengan visi yang ramah lingkungan dan humanis,” ujarnya.
Jika lonjakan wisata seperti libur Nataru terus berulang, Arie mengingatkan pentingnya antisipasi risiko sosial sejak dini. Ketegangan antara warga lokal dan pendatang berpotensi muncul jika kepadatan tidak dikelola dengan baik.
“Menjaga kenyamanan kota membutuhkan kedisiplinan kolektif dan kepedulian bersama terhadap ruang hidup. Yogyakarta yang nyaman, aman, dan humanis adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (*/S-01)







