
PEMERINTAH Provinsi Papua Barat memastikan Kabupaten Manokwari aman dan tidak lagi berstatus waspada potensi terjadinya tsunami pascagempa di Kamchatka, Rusia. Hal tersebut diungkapkan Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani di Manokwari, Rabu (30/7) malam WIT.
“Situasi bisa dikatakan normal setelah dua jam dari waktu yang perkirakan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” kata Lakotani.
Dia menyebut pemerintah daerah telah mengeluarkan imbauan sebelum pukul 16.18 WIT, seluruh warga di kawasan pesisir pantai segera mencari lokasi yang lebih tinggi untuk mengantisipasi tsunami.
Peringatan dini tersebut merupakan upaya pemerintah dalam memitigasi risiko tsunami, sekaligus memberikan waktu bagi masyarakat setempat melakukan evakuasi secara mandiri.
“Sekarang sudah kondusif, jadi kami minta masyarakat bisa kembali ke rumah masing-masing,” ujar Lakotani.
Kenaikan air laut
Pada bagian lain, meski tidak terjadi tsunami, BMKG menyebut adanya kenaikan permukaan air laut di perairan wilayah Indonesia Timur sebagai imbas gempar 8,7 di Rusia. BMKG mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah lokasi antara lain, Jayapura (0,2 m), Sorong (0,2 m), dan Sarmi (0,2 m).
“Meski ketinggiannya relatif kecil, kami tetap menetapkan status waspada untuk sejumlah wilayah pesisir. Artinya daerah-daerah itu berpotensi terdampak gelombang tsunami setinggi di bawah 0,5 meter. Masyarakat kami imbau untuk menjauhi area pantai dan tetap waspada,” ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam siaran persnya.
Pasalnya, kata dia, bentuk pantai seperti teluk atau ceruk sempit dapat memperkuat gelombang tsunami, sehingga harus diwaspadai. BMKG sendiri melakukan pemantauan secara intensif melalui sistem monitoring tsunami nasional dan internasional. (BMKG/N-01)







