Pemprov Jateng Diminta Cerdas Menghadapi Tantangan

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah terus mengakselerasi langkah menuju “Indonesia Emas 2045” dengan menekankan kebijakan pembangunan jangka panjang yang terintegrasi.

Melalui forum strategis bertajuk Arah Pembangunan Jawa Tengah 2025–2045, pemerintah menegaskan transformasi ekonomi, tata kelola, dan sosial sebagai tiga pilar utama pembangunan daerah.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah, Dr. Zulkifli, S.Pt., MM., CGAA, mengungkapkan urgensi menjaga ketahanan ekonomi dalam menghadapi kondisi global yang penuh gejolak.

“Kita hidup di masa ‘sableng’, situasi global yang tak menentu. Maka, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Harus ada transformasi menyeluruh, dari tata kelola hingga ekosistem sosial dan lingkungan,” tegas Zulkifli, dalam Diskusi Interaktif bertajuk Ketahanan Ekonomi Jateng di Masa Sableng, di Aula Lantai 10 Gedung Merah Putih Semarang, Rabu (16/7).

Ketahanan pangan

Dalam diskusi yang dihelat Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng (FWPJT) Bersama Bank Jateng itu, Zulkifli menegaskan, Jawa Tengah akan menjadi pusat ketahanan pangan dan rantai industri nasional, memanfaatkan posisinya yang strategis antara Jakarta dan Surabaya.

BACA JUGA  Bumdes Harus Jadi Motor Penggerak Ekonomi Desa

Tiga arah transformasi utama yang diusung adalah Jateng Sigap (tata kelola adaptif), Jateng Makmur (penguatan sektor ekonomi unggulan), dan Jateng Nyaman (transformasi sosial).

Target hingga 2029 antara lain mencakup pertumbuhan ekonomi 7–8%, penurunan kemiskinan menjadi 7,13%, serta peningkatan PDRB per kapita hingga Rp78,4 juta.

Ekonomi berkelanjutan

Sementara itu, Akhmad Syakir Kurnia, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, menyampaikan bahwa pembangunan Jawa Tengah harus dilandasi oleh ketahanan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

“Pertumbuhan ekonomi itu seperti berlari. Tapi seberapa kuat kita berlari, dan apakah kita punya ‘mesin’ yang cukup untuk melakukannya terus-menerus?” ujarnya.

Kurnia menekankan tiga kapasitas utama ketahanan ekonomi: menyerap guncangan (shock absorbing), beradaptasi, dan mentransformasi struktur ekonomi. Ia menyoroti isu struktural seperti serapan anggaran yang rendah – pada September 2024, serapan belanja modal Jateng hanya 37,17%.

BACA JUGA  Modifikasi Cuaca Digelar di Jepara, Kudus, dan Pati 15-20 Januari

“Ini bukan soal anggaran lebih, tapi lemahnya eksekusi. Surplus APBD justru menunjukkan belum optimalnya pembangunan,” jelasnya.

Tidak bisa sendiri

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jateng, Zulkifli Gayo, mengemukakan membangun Jateng tidak bisa sendiri, tetapi harus menggandeng seluruh stakeholder.

Misalnya yang telah dilakukan bersama dunia akademik, melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik, seperti penanganan stunting dan lainnya.

Selain itu, penguatan sektor UMKM dan ekonomi kreatif juga harus terus dilakukan mengingat keduanya menjadi potensi terbesar bagi perekonomian Jawa Tengah.

Harus beradaptasi

Sementara anggota Komisi B DPRD Jateng, Ferry Wawan Cahyono, mengemukakan situasi ekonomi menghadapi banyak kendala bagi Pemda untuk mewujudkan program kerjanya.

Pemerintah harus mampu beradaptasi untuk merespons memburuknya perekonomian global yang berpengaruh terhadap melambatnya pelaksanaan program pembangunan.

“Dibutuhkan kemampuan adaptasi Pemda terhadap situasi global yang sedang krisis. Hal itu untuk mengurangi kerugian yang mungkin timbul,” tambah Ferry Wawan Cahyono.

BACA JUGA  Gunung Slamet Diusulkan Sebagai Taman Nasional

Lebih lanjut dia membahas situasi global yang diwarnai perang di wilayah teluk dan Persia, tekanan ekonomi AS yang mendorong munculnya kebijakan pajak, telah mengganggu ekonomi global.

Tingkatkan SDM

Bagi Indonesia hal itu mengakibatkan putusnya rantai pasok produk ekspor, sehingga harus mencari pasar baru. “Untuk Jateng, kini juga menghadapi indikator baru terutama indeks kemiskinan dan ekonomi antara wilayah Jateng selatan dan utara,” tukasnya.

Ferry menjelaskan, ketimpangan yang perlu diatasi adalah menaikkan indeks sumber daya manusia di Jateng selatan agar mampu meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian.

Narasumber lainnya di antaranya Ketum BPD HIPMI Jateng, Teddy Agung Tirtayafi, Ketum TPPD Jateng, Zulkifli Gayo, Akademisi Undip Semarang Prof Akhmad Syakir Kurni dengan moderator Doni Asyar. (Htm/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Pencarian Lansia Hilang di Hutan Selorejo belum juga Berhasil

TIM SAR Gabungan belum juga berhasil menemukan lansia yang dilaporkan hilang di kawasan Hutan Selorejo, Kalurahan Sodo, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul hingga Jumat (26/6). Kepala Kantor SAR Yogyakarta, Rio Banupanitis,…

Lantik 23 Pejabat, Bupati Taput Ingatkan Soal Tanggung Jawab

BUPATI Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si., melantik 23 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Jumat, 26/6//2026). Pelantikan dilaksanakan saat kunjungan kerja di Lapangan Sepakbola Desa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Rektor UGM Dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa dari University of Dundee

  • June 28, 2026
Rektor UGM Dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa dari University of Dundee

Aljazair dan Austria Susul Argentina ke Babak 32 Besar

  • June 28, 2026
Aljazair dan Austria Susul Argentina ke Babak 32 Besar

Kolombia, Portugal, dan Kongo Lolos ke 32 Besar dari Grup K

  • June 28, 2026
Kolombia, Portugal, dan Kongo Lolos ke 32 Besar dari Grup K

Inggris Juara Grup, Kroasia Jadi Runner-up

  • June 28, 2026
Inggris Juara Grup, Kroasia Jadi Runner-up

Gebuk India, Timnas Voli Indonesia Melenggang ke Final AVC Cup

  • June 28, 2026
Gebuk India, Timnas Voli Indonesia Melenggang ke Final AVC Cup

AS dan Iran Kembali Saling Serang meski Sudah Berdamai

  • June 27, 2026
AS dan Iran Kembali Saling Serang meski Sudah Berdamai