
DAYA beli masyarakat turun menjelang Ramadan dikeluhkan oleh pedagang di Pasar Gede Solo saat mengadu kepada Komisi 4 DPR RI saat kunker.
Hal itu sangat berdampak pada omset penjualan barang dagangan mereka. Padahal ketersediaan bahan pokok sangat cukup dan harga stabil.
Para pedagang itu mengeluhkan dihadapan rombongan Komisi 4 DPR RI yang sedang meninjau di Pasar Gede Solo, bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rabu (19/2).
Wakil Ketua Komisi 4, Abdul Kharis Almasyari yang memimpin rombongan kunker awalnya menanyakan ketersediaan bahan pokok pangan.
“Padahal harga relatif stabil seperti beras, daging ayam, daging sapi. Pedagang bilang daya beli terus melemah, stok banyak tetapi terus dikurangi,” kata politikus PKS Dapil Jateng 5 ini.
“Namun itu pun tidak habis. Mereka juga menjelaskan santan kemasan menghilang dari pasaran,” kata politikus PKS asal Dapil Jateng 5 ini.
Karenal itu, Komisi 4 DPR RI sepulang dari kunker spesifik masa sidang II tahun sidang 2024-2025 akan mengundang counterpart mereka.
Daya beli masyarakat harus tumbuh
Bagaimana mencari solusi dan menumbuhkan daya beli masyarakat yang melemah menjelang Ramadan ini.
Kharis heran karena mekanisme pasar dilihat cukup baik, namun ternyata terjadi pelemahan daya beli.
Kondisi yang ada di Pasar Gede Solo ini diyakini menjadi gambaran pasar lain di Indonesia.
Komisi 4 DPR RI dan Bapanas dalam peninjauan di Pasar Gede mengecek komoditas,beras yang tersedia sebagian besar adalah beras premium dijual dengan harga Rp72 ribu per kg.
Sementara beras SPHP sudah tidak ada lagi sejak awal Februari.Kharis mendorong Bulog untuk memikirkan beras SPHP yang dicari masyarakat saat daya beli melemah.
Beras SPHP adalah beras Penugasan Stabilisasi Pasoan dan Harga Pangan.
Sebab dari sisi harga memang sangat terjangkau masyarakat. Bulog sudah menarik beras SPHP sejak 6 November 2024.
Sementara daging ayam mendekati Ramadan Rp32 ribu per kg, daging sapi Rp120 ribu-Rp 40 ribu kg.
Harga itu relatif stabil sejak Covid 19, bawang merah turun, dan bawang putih naik sedikit.
“Karena itu sekali lagi, untuk antisipasi menghadapi Ramadan, daya beli harus ditumbuhkan mengingat pasokan dari produsen aman dan harga relatif stabil,” ujar Kharis.
“Yang terjadi di pasar yang ada di Solo ini gambaran kecil dari pasar pasar di Indonesia,” imbuhnya.
Sementara itu Wakil Pimpinan Bulog Surakarta,Dicki Yusfarino menjamin ketersediaan beras untuk Solo Raya menghadapi Ramadan dan Idul Fitri aman hingga akhir tahun 2025.
Menurut dia, dengan dimulainya masa panen MT I yang sudah berjalan hingga pertengahan Februari, beras yang masuk ke gudang Bulog Surakarta sudah mencapai 35 ribu ton.
Sementara target serap gabah atau beras panenan petani tahun 2025 di Solo Raya meliputi enam kabupaten dan satu kota sebesar 96 ribu ton.
Beras SPHP menghilang
Diyakini pada masa panen raya, hingga 30 April nanti estimasi serap atau pengadaan Bulog Surakarta akan mencapai 120 ribu ton setara beras.
Pada bagian lain ketika disinggung beras SPHP yang menghilang di pasar, Dicki mengatakan memang sudah ditarik sejak 6 Februari bersamaan dimulainya masa panen tahun ini.
Beras SPHP bisa dilepas bersamaan dengan terpenuhi target serap gabah nasional sebesar 3 juta ton, sebagai stimulus bantuan pangan yang menjadi kewenangan Bapanas.
“Saat ini kami terus menyerap sebanyak banyaknya gabah petani. Dan 95 persen PSO, sisanya komersial,” kata Dicki.
“Soal bantuan pangan, memang dihold, hingga target serap terpenuhi. Saat itu mungkin saja stimulus bantuan pangan bisa dilakukan kembali,” lanjutnya.
Ketika disinggung bahan pokok minyak dan gula, Bulog saat ini sedang memupuk sebanyak banyak, dengan tetap memenuhi atura HET. (WID/S-01)







