Siamang; si Penjaga Ekosistem Rimba Sumatera yang Terancam Punah

SIAMANG (Symphalangus syndactylus) adalah primata endemik Sumatera. Ia terkenal dengan suara khasnya yang punya daya jangkau jauh sehingga dapat terdengar di seluruh penjuru hutan Sumatera.

Sayangnya, keberadaan Siamang kini semakin terancam akibat perburuan dan hilangnya habitat mereka karena alih fungsi lahan. Primata yang memiliki berat sekitar 10 hingga 15 kilogram itu dikenal lihai mengayunkan tubuhnya di alam liar.

Ia juga disebut sebagai penyeimbang ekosistem hutan hujan tropis di Sumatera. Habitat siamang membentang di sepanjang pegunungan Bukit Barisan, mulai dari Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Leuser, hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Meskipun begitu, krisis ekologis serta ancaman terhadap hutan yang dihadapi di sepanjang pulau Sumatera menjadikan eksistensi siamang sebagai sebuah kekhawatiran.

50 persen

Bahkan meski telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi, statusnya tergolong endangered atau terancam punah.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) memperkirakan habitat siamang telah berkurang hingga 50 persen dalam beberapa dekade terakhir, dengan populasi tersisa sekitar 22.390 individu.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc.,, mengatakan ancaman ekologis yang dihadapi di hutan, seperti deforestasi dan alih fungsi lahan, merupakan sebuah ancaman terbesar bagi keberadaan siamang.

Pasalnya, siamang merupakan primata arboreal atau kelompok primata yang mayoritas aktivitasnya bergantung pada pohon, mulai dari mencari makan hingga beristirahat.

“Ancaman deforestasi dan alih fungsi lahan merupakan ancaman terbesar dan utama bagi keberadaan siamang terutama penurunan populasi. Mengapa bisa begitu? Karena siamang adalah primata arboreal artinya mereka sepenuhnya hidup di pepohonan,” katanya, Kamis (5/11).

Pepohonan tinggi

Ia menambahkan jika siamang sangat bergantung pada pepohonan yang menjulang tinggi untuk mencari makan, bersosialisasi, hingga bergerak dan mengayun.

Tak hanya itu, lantaran bentuk tubuh siamang yang sudah berevolusi untuk hidup di atas pohon yang tinggi, ancaman ekologis terhadap hutan akan menjadi salah satu sumber utama bagi potensi kepunahan siamang.

BACA JUGA  Walhi Sumut Ungkap Potensi Kerugian Rp132 M akibat Konflik Tenurial

“Siamang membutuhkan tajuk hutan untuk hidupnya, terutama untuk mencari makan, bersosialisasi dan pergerakan dengan berayun di antara cabang dan batang pohon.”

“Selain itu, bentuk tubuh siamang terutama bagian tungkai depan teradaptasi untuk hidup di atas pohon (tajuk), jadi jika tidak ada hutan dengan pepohonan tinggi menjulang, maka populasi siamang jelas akan turun dan punah,” tambahnya.

Primata frugivora

Selain kehilangan suaranya yang khas, kepunahan siamang juga dapat menghambat perkecambahan tumbuhan. Hal ini dikarenakan siamang merupakan primata frugivora yang menelan buah secara utuh dan mengeluarkan biji buah tersebut melalui fesesnya ke berbagai penjuru hutan. Dan itu tak hanya berpatokan pada tempat ia memakan.

Berdasarkan penelitian, kata Donan, siamang memakan dan menyebarkan biji dari sekitar 22 spesies tumbuhan berbeda dan 233 meter lebih jauh serta acak dari pohon utama.

Meskipun siamang tergolong primata frugivora, beberapa spesies tumbuhan berbiji juga membutuhkan siamang untuk penyebaran bijinya.

Simbiosa mutualisma

Dengan begitu, tumbuh sebuah simbiosa mutualisma antara siamang dan pohon berbiji dalam keseimbangan ekosistem hutan.

“Berdasarkan beberapa penelitian, siamang dapat menyebarkan biji dari buah yang dimakannya rata-rata 223 meter dari pohon utama. Siamang menyebarkan biji tersebut secara acak tidak mengelompok, sehingga mengurangi resiko persaingan tumbuh antar bibit pohon.”

“Selain itu, dari hasil penelitian juga menyebutkan bahwa siamang dapat memakan dan menyebarkan biji vegetasi hutan sekitar 22 spesies tumbuhan berbeda, jumlah yang sangat banyak.”

“Beberapa spesies pohon berbiji bergantung pada primata untuk penyebarannya, jadi antara pohon dan primata terutama siamang saling membutuhkan.” ujar Donan.

Tanpa siamang regenerasi tumbuhan bisa gagal

Menurut Donan, tumbuhan yang tidak mendapatkan bantuan dari hewan primata untuk menyebarkan bijinya akan mengalami keterbatasan akses ke lokasi lain dalam regenerasi spesies.

Biji tumbuhan yang jatuh di dekat pohon induknya menyebabkan persaingan antara kecambah dan induknya sehingga menyebabkan kegagalan generasi.

BACA JUGA  Sinkhole di Sumbar Dampak dari Siklon Senyar

“Biji tumbuhan tersebut akan jatuh dekat di pohon induknya, hal tersebut menyebabkan persaingan kecambah dengan induknya, sehingga kecambah akan kalah dan mati sehingga tidak terjadi regenerasi,” tuturnya.

Kepunahan siamang, ujarnya akan merubah komposisi spesies penyusun hutan. Awalnya, hutan memiliki pohon tajuk, berkayu padat, dan berbiji besar.

Karbon menipis

Namun, ketika terjadi kegagalan regenerasi, hutan akan didominasi oleh tumbuhan berbiji kecil yang penyebaran perkecambahan dan bijinya dibantu oleh angin.  Pada aspek komposisi tanah, hilangnya siamang sebagai penyebar biji hutan mengakibatkan penyimpanan karbon ikut menipis.

Jika karbon tidak tersimpan di dalam pohon, imbuh Donan, akan terjadi pelepasan gas rumah kaca atau CO2 yang biasanya tersimpan di dalam batang, daun, akar pohon, dan tanah, terlepas kembali ke atmosfer.

Konsekuensinya, suhu bumi akan meningkat dan cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, turut hadir acapkali di dalam ekosistem. Menurut dia lagi fragmentasi habitat yang disebabkan oleh ancaman ekologis turut mengancam eksistensi siamang.

Jika hutan terfragmentasi, Donan mengatakan bahwa siamang terpaksa akan turun ke permukaan tanah. Di permukaan tanah,  tubuh siamang tidak dapat beradaptasi secara sempurna sehingga pergerakannya terbatas dan mendapatkan ancaman dari predator sekitar.

Terfragmentasinya hutan jadi ancaman

Lalu, hutan yang terfragmentasi mengakibatkan siamang kesulitan untuk berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya dan menempatkannya pada posisi tertekan serta kelaparan.

“Fragmentasi habitat juga membatasi sumber makanan siamang, jika pada satu sisi hutan sedang tidak musim berbuah, maka siamang akan pindah ke sisi lain hutan yang sedang musim berbuah, tetapi jika hutan terfragmentasi, siamang akan kesulitan pindah ke sisi hutan lain yang terpisah. Hal tersebut menyebabkan siamang mengalami tekanan dan kelaparan,” kata Donan.

Dari segi genetik dan populasi, ketika hutan terfragmentasi maka populasi siamang akan terpisah satu sama lain. Peristiwa tersebut mengakibatkan siamang muda kesulitan berpindah untuk mencari pasangan yang  tidak memiliki hubungan kekerabatan.

BACA JUGA  27 Spesies Burung Terancam Punah Melintasi Indonesia

Isolasi paksa tersebut, ujar Donan, menghantarkan siamang pada perkawinan sedarah yang seiring waktu akan mengurangi keragaman genetik.

Rentan penyakit genetik

Akibatnya, populasi siamang akan rentan terhadap penyakit genetik, penurunan kesuburan, dan kematian massal akibat penyakit. Donan menyampaikan pula beberapa faktor yang menyebabkan tergerusnya populasi siamang di hutan Sumatera.

Pertama, tentu penebangan hutan yang masif akan menghilangkan habitat asli siamang dan memaksanya untuk hidup di dalam keadaan yang tidak seharusnya, seperti di permukaan tanah, dan mengancam populasinya karena predator yang berkeliaran.

Kedua, fragmentasi habitat yang ekstrim akibat pembangunan mega infrastruktur di Sumatera, seperti Jalan Tol Trans-Sumatera, serta ekstraksi kayu komersial, dan konversi lahan menjadi perkebunan sawit menjadikan kelompok siamang terisolasi.

Dengan begitu, mereka akan menghadapi penyempitan genetik (genetic bottleneck) dan kerentanan terhadap peristiwa acak. Ketiga, kehilangan sumber diet pada buah-buahan di hutan menyebabkan rendahnya tingkat kelangsungan hidup bayi dan anakan siamang akibat hilangnya nutrisi utama.

Reproduksi rendah

Terkait dengan tingkat reproduksi siamang yang rendah turut berkontribusi dalam ancaman kepunahan siamang. Berdasarkan sudut pandang biologis, siamang memiliki karakteristik riwayat hidup yang sangat lambat.

Mereka menerapkan sistem berpasangan monogami, memiliki masa kehamilan yang panjang, tingkat kelahiran yang rendah, serta memerlukan pengasuhan yang lama bagi anak-anaknya.

Dengan begitu, ketika populasi lokal mengalami penurunan akibat beberapa faktor ekologis lainnya, kemampuan alami siamang akan berlangsung sangat lambat.

“Begitu populasi lokal mengalami penurunan, kemampuan alaminya untuk pulih atau bangkit kembali dari gangguan akan berlangsung sangat lambat,” pungkas Donan. (AGT/A-01)

Admin

Related Posts

Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan

SEKOLAH sejatinya bukan sekadar tempat anak belajar membaca, berhitung, dan mengejar nilai akademis. Di sekolah, anak juga belajar mengenali diri, membangun pertemanan, menghargai perbedaan, serta mengelola emosi. Namun, proses tersebut…

Dorong Pelestarian Genetik, Fapet UGM Gelar Kontes Kuda Lokal

FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada, menggelar Kontes Kuda Lokal 2026 di Gadjah Mada Equastrian Center, Minggu. Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Dies Natalis ke-57 Fakultas Peternakan ini mengusung tema “Kuda…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Karantina Jateng Gagalkan Pengiriman 3.287 Burung tanpa Dokumen

  • November 5, 2026
Karantina Jateng Gagalkan Pengiriman 3.287 Burung tanpa Dokumen

Siamang; si Penjaga Ekosistem Rimba Sumatera yang Terancam Punah

  • November 5, 2026
Siamang; si Penjaga Ekosistem Rimba Sumatera yang Terancam Punah

Pesta Gol ke Gawang Lens, Como Cetak Sejarah di Liga Champions

  • November 5, 2026
Pesta Gol ke Gawang Lens,  Como Cetak Sejarah di Liga Champions

TP-PKK Sergai Raih Dua Penghargaan Jambore Kader PKK Tingkat Provinsi

  • November 5, 2026
TP-PKK Sergai Raih Dua Penghargaan Jambore Kader PKK Tingkat Provinsi

Nekat Bobol Rumah Temannya, Remaja ini Gondol Emas dan Laptop

  • November 4, 2026
Nekat Bobol Rumah Temannya, Remaja ini Gondol Emas dan Laptop

Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan

  • November 4, 2026
Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan