
MENTERI Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan minta ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah dilakukan secara langsung ke negara pembeli, tanpa harus melalui negara perantara. Tujuannya agar indonesiq memperoleh nilai jual yang lebih tinggi.
Zulkifli menilai selama ini pola perdagangan sejumlah komoditas strategis Indonesia, seperti kelapa sawit, nikel, dan timah, masih belum memberikan keuntungan optimal. Hal itu lantaran sebagian ekspor Indonesia dilakukan melalui negara tetangga.
“Kita ingin menjadi negara maju, berdaulat. Saya kadang kesal juga. Indonesia produksi CPO terbesar, nikel, timah terbesar, tapi ekspornya lewat negara tetangga,” kata Zulkifli dikutip antaranews di Batam, Rabu.
Ia mencontohkan perdagangan CPO yang menurutnya memiliki selisih harga cukup besar antara harga jual Indonesia kepada negara tetangga dan harga di pasar tujuan.
“Harga CPO Rp27.000, kita jual ke tetangga Rp15.000. Berarti kita rugi Rp13.000. Bertahun-tahun. Kita tidak mau lagi masa bodoh terus. Kita ingin ekspor langsung,” tegasnya.
Rantai distribusi
Menurut Zulkifli, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut perdagangan, tetapi juga kemampuan Indonesia mengendalikan rantai distribusi dan memperoleh nilai tambah dari kekayaan alam sendiri.
Ia juga menyinggung sejumlah persoalan yang dinilai memperlihatkan posisi Indonesia kerap dirugikan, mulai dari isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antrean BBM di Bali, hingga tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Kalau ada apa-apa, kita Indonesia, yang rugi,” katanya. (*/M-01)








