
PEMBUKAAN Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (12/9) memadukan syiar, budaya, hiburan, dan semangat persaudaraan.
Kemeriahan itu pun menuai pujian dari peserta. Sejumlah peserta menilai penyelenggaraan MTQ Nasional di Jawa Tengah kali ini memiliki atmosfer berbeda.
Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Blitar, Muhlasin, menjadi salah satu peserta yang mengapresiasi penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI. Menurut dia, pelaksanaan di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan dibanding penyelenggaraan sebelumnya, terutama dari sisi fasilitas dan lokasi kegiatan.
“Kegiatan MTQ di Jawa Tengah ini saya kira lebih meriah daripada yang sebelumnya. Fasilitasnya juga begitu luas. Audionya juga bagus,” ujar Muhlasin.
Strategis dan nyaman
Menurutnya, Lapangan Simpang Lima menjadi lokasi yang strategis dan nyaman untuk menggelar acara berskala nasional. Area yang luas dan panggung berukuran besar membuat rangkaian pembukaan dapat dinikmati masyarakat.
“Tempatnya strategis dan begitu nyaman. Tempatnya begitu luas, panggungnya juga lebar. Jadi, saya kira ini lebih bagus daripada tahun-tahun yang lalu,” katanya.
Muhlasin berharap penyelenggaraan MTQ pada masa mendatang dapat terus berkembang dan menghadirkan kemeriahan yang lebih besar.
“MTQ yang ke depan mudah-mudahan lebih meriah lagi dan lebih sukses daripada tahun-tahun dulu,” ujarnya.
Sambutan hangat masyarakat
Kesan mendalam juga dirasakan Pelatih dan Pembina MTQ Cabang Maluku Utara, Drs H Umar Mukhtar. Bagi Umar, pengalaman mengikuti MTQ Nasional di Jawa Tengah tidak hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana para kafilah diterima.
“Kita lihat kondisi masyarakatnya begitu menyatu. Dan menyatu dengan masyarakat itu hal yang sangat menggembirakan kami. Mulai dari sopir dan sebagainya itu sudah sangat menggembirakan kami ketika tiba di bandara,” katanya.
Ia juga mengaku terkesan dengan kuatnya nuansa keagamaan yang dirasakan selama berada di Jawa Tengah.
“Dalam perjalanan kita lihat suasana, nilai Islamnya sangat tinggi sekali. Itu sangat-sangat luar biasa,” ujar Umar.
Aktivitas keagamaan dan kuliner
Banyaknya masjid dan aktivitas keagamaan yang ditemui sepanjang perjalanan, kata dia, turut memberikan kesan tersendiri.
“Kita lihat masjidnya begitu banyak dan di mana-mana. Ketika kedengaran selawat atau suara azan itu sudah menggembirakan,” tuturnya.
Tak hanya suasana religius, keragaman kuliner di Semarang dan Jawa Tengah juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi Umar.
“Dari sisi kulinernya itu sangat luar biasa sekali. Tidak beda jauh dengan Ternate. Itu membuat kami ingat terus Ternate,” katanya.
Bangun persaudaraan
Sementara itu, Pimpinan Kafilah Lampung, Haji Makmur, menyoroti tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut para peserta MTQ Nasional XXXI.
Namun, bagi Makmur, kemeriahan bukanlah tujuan utama MTQ. Di balik kompetisi antarkafilah, terdapat pesan yang lebih besar, yakni membangun persaudaraan dan menumbuhkan sportivitas.
“Setiap provinsi mengirim utusan ke sini untuk berlomba. Berlombalah yang sportif. Juara memang diharapkan oleh semua provinsi, tetapi itu bukan satu-satunya,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran tidak berhenti di panggung perlombaan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan para qari dan qariah.
“Persaudaraan, kompetisi yang baik itu yang kita harapkan, sehingga nilai-nilai Alquran itu bisa terjawantahkan dalam kehidupan para qari dan qariah itu sendiri,” ujar Makmur.
Pembinaan berkelanjutan
Makmur juga menyambut baik gagasan agar MTQ Nasional digelar setiap tahun. Menurut dia, penyelenggaraan tahunan dapat membuat persaingan antardaerah semakin kompetitif sekaligus mendorong pembinaan qari dan qariah secara berkelanjutan.
“Kalau mau dilakukan MTQ setiap tahun sekali itu justru lebih bagus. Karena akan menjadi lebih kompetitifnpersaingan di antara (provinsi),” katanya.
“Alquran itu, qari dan qariah akan bertumbuh kembang di setiap provinsi,” imbuhnya.
Kesan serupa datang dari warga, terutama generasi muda. Puji, perantau asal Lampung yang telah dua tahun tinggal di Semarang, mengaku baru kali ini menyaksikan pembukaan acara sebesar MTQ dengan konsep semeriah tersebut.
Perpaduan syiar agama dan seni budaya
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti agar kedatangan rombongan kafilah dari 37 provinsi disambut sebaik mungkin.
“Alhamdulillah, pembukaan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah berlangsung sangat meriah dan megah. Kita ingin menunjukkan bahwa MTQ bukan hanya milik para kafilah, tetapi juga milik seluruh masyarakat,” ungkap Ahmad Luthfi didampingi Taj Yasin.
Acara pembukaan dikemas dengan perpaduan syiar Alquran, seni budaya, dan kreativitas, sehingga masyarakat bisa ikut merasakan kegembiraan dan kemeriahan MTQ ini.
Di beberapa sudut Lapangan Simpang Lima dipasang videotron berukuran besar. Masyarakat yang memadati lapangan bisa melihat dengan jelas dan nyaman.
Bersatu padu
Masyarakat bahkan sampai memenuhi jalan raya di seputaran Simpang Lima. Mereka rela menggelar alas dan duduk di jalan.
“Mudah-mudahan dari Jawa Tengah, MTQ Nasional ini tidak hanya sukses penyelenggaraannya, tetapi juga memancarkan kedamaian dan kebersamaan untuk Indonesia,” ungkap Ahmad Luthfi.
Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima diawali dengan defile kafilah dari 37 provinsi. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan rangkaian seremoni pembukaan.
Kemasan acara semakin semarak dengan atraksi tari Rato Jaroeh yang dibawakan SMAN 4 Semarang. Ratusan penari juga tampil dalam tari kolosal Kisah Tanah Jawi yang membawa kisah budaya Jawa ke tengah panggung MTQ Nasional.
Ruang persaudaraan
Kemeriahan ditutup dengan lantunan lagu-lagu religi dari penyanyi Opick yang turut menghibur masyarakat dan para kafilah.
Perpaduan antara syiar agama, seni budaya, hiburan, dan keterlibatan masyarakat tersebut membuat pembukaan MTQ Nasional XXXI tidak hanya menjadi seremoni pembuka kompetisi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai daerah dalam suasana persaudaraan. (Htm/A-01)







