Qolby, Maba Termuda UNY yang tak Menyerah Mengejar Impian Belajar Bahasa Jerman

  • Story
  • August 18, 2026
  • 0 Comments

USIANYA baru 16 tahun, tetapi langkah Qolby Kadya Rizky menuju perguruan tinggi sudah dimulai. Lahir di Kebumen pada 27 Juli 2010, Qolby tercatat sebagai mahasiswa baru termuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2026.

Ia diterima melalui jalur CBT Domisili pada Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya.

Menjadi mahasiswa termuda bukanlah sesuatu yang sejak awal dibayangkan Qolby. Perjalanannya menuju UNY pun tidak selalu mudah.

Beberapa kali mengalami penolakan dalam proses penerimaan mahasiswa baru sempat membuatnya ragu untuk kembali mencoba.

Sempat ingin pindah jurusan

Namun, keinginan untuk melanjutkan pendidikan dan belajar bahasa Jerman membuatnya memilih bangkit dan mencari kesempatan lain.

“Awalnya ragu dan takut daftar karena tidak yakin bisa diterima. Alhamdulillah, semuanya dapat berjalan lancar walau hal itu tidak mudah,” tuturnya.

Sebelumnya, Qolby sempat memiliki keinginan berkuliah di Politeknik Kesehatan. Namun, ketertarikannya terhadap bahasa Jerman membuatnya mempertimbangkan pilihan lain.

Ketika mengetahui UNY memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, keinginannya untuk mempelajari bahasa tersebut semakin kuat.

BACA JUGA  UNY Terima Mahasiswa Baru dari Tiga Jalur

Lokasi UNY yang relatif dekat dengan domisilinya juga menjadi salah satu pertimbangannya memilih jalur CBT Domisili.

Sosok ibu selalu membantu

Di balik keberanian Qolby untuk kembali mencoba, ada sosok ibu yang terus memberikan dukungan. Meski beberapa kali mengalami penolakan, sang ibu tidak berhenti menyemangatinya.

Dukungan tersebut menjadi salah satu kekuatan Qolby hingga akhirnya berhasil mendapatkan tempat di perguruan tinggi yang diinginkannya.

“Yang paling mendukung itu ibu. Walaupun sudah ditolak beberapa kali, ibu tetap memberikan semangat,” ungkapnya.

Perjalanan pendidikan Qolby juga diwarnai pengalaman berpindah tempat tinggal dan sekolah. Saat kelas satu sekolah dasar, ia sempat tinggal dan bersekolah di Medan sebelum kembali ke Kebumen mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Profil singkat

Ketika memasuki kelas 10, ia kembali berpindah sekolah ke SMA Negeri 1 Petanahan. Berbagai perpindahan tersebut membuatnya terbiasa beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk ketika mempersiapkan diri menghadapi seleksi perguruan tinggi.

BACA JUGA  Mahasiswa UNY Ciptakan Pakan Unggas Berbasis Maggot dan Ekstrak Daun Meniran

Sempat berharap diterima melalui jalur SNBP, Qolby akhirnya mencoba jalur lain setelah harapannya belum terwujud. Ia kemudian berhasil diterima melalui CBT Domisili UNY.

Menariknya, kecintaannya terhadap bahasa Jerman selama ini dibangun secara mandiri. Ia belajar secara otodidak tanpa mengikuti les khusus. Baginya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti belajar.

Memasuki dunia perkuliahan di usia yang lebih muda dibandingkan mahasiswa lainnya, Qolby sempat merasa khawatir. Ia bahkan mengaku masih merasa seperti anak SMA yang tiba-tiba harus menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Siap ikut organisasi mahasiswa

Meski demikian, ia memilih menerima keadaan tersebut dan yakin dapat beradaptasi.Qolby juga telah membulatkan tekad untuk tidak mengambil gap year. Ia ingin langsung melanjutkan pendidikan dan mulai membangun pengalaman baru di kampus.

Selain fokus pada perkuliahan, ia berencana aktif mengikuti organisasi mahasiswa, termasuk Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, untuk memperluas pengalaman dan relasi. Bagi Qolby, usia bukan alasan untuk menunda impian.

BACA JUGA  7.671 Mahasiswa Baru ITB Siap Mengikuti Perkuliahan

Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa muda tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Mahasiswa yang masih muda juga bisa kuliah dan tidak ketinggalan dengan yang lain,” ujarnya.

Jangan mudah menyerah

Kepada mahasiswa lainnya, Qolby berpesan agar tidak mudah menyerah dan tidak menjadikan perbedaan usia sebagai alasan untuk merasa minder maupun lebih unggul.

“Pokoknya jangan pernah menyerah. Kita satu angkatan, jadi kita berlari dari garis start yang sama dan pasti bisa,” pesannya.

Kini, Qolby memulai babak baru sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UNY. Dari perjalanan yang diwarnai keraguan dan penolakan, ia belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir.

Dengan dukungan keluarga, semangat belajar, dan tekad yang kuat, Qolby siap melangkah membuktikan bahwa untuk mengejar masa depan, seseorang tidak harus menunggu menjadi lebih tua. (AGT/M-01)

Related Posts

Ketika Ilmu Pengetahuan Melintasi Sekat Iman dan Keyakinan

PERBEDAAN latar belakang agama tidak menjadi penghalang bagi Romo Adrianus Fani untuk menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Justru keberagaman yang ia temukan selama menjadi mahasiswa menjadi salah satu…

MetLife Jadi Panggung Tarian Awal dan Terakhir Neymar

BINTANG sepak bola Brasil, Neymar resmi mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional. Pengumuman itu dilakukan Neymar tidak lama berselang setelah Selecao disingkirkan Norwegia 1-2 di babak 16 besar Piala Dunia…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

OJK Bekali Pramuka Literasi dan Inklusi Keuangan

  • August 18, 2026
OJK Bekali Pramuka Literasi dan Inklusi Keuangan

20.500 Warga Binaan di Jabar Dapat Remisi HUT RI

  • August 18, 2026
20.500 Warga Binaan di Jabar Dapat Remisi HUT RI

Sri Sultan Ajak Kajati Baru Ciptakan Koordinasi Terbaik

  • August 18, 2026
Sri Sultan Ajak Kajati Baru Ciptakan Koordinasi Terbaik

UNY Sambut 18.850 Mahasiswa Baru

  • August 18, 2026
UNY Sambut 18.850 Mahasiswa Baru

Lawan Bali United, Persib Siap Turunkan Pemain yang Baru Bergabung

  • August 18, 2026
Lawan Bali United, Persib Siap Turunkan Pemain yang Baru Bergabung

Qolby, Maba Termuda UNY yang tak Menyerah Mengejar Impian Belajar Bahasa Jerman

  • August 18, 2026
Qolby, Maba Termuda UNY yang tak Menyerah Mengejar Impian Belajar Bahasa Jerman