
PULUHAN warga menggelar aksi di pintu keluar (exit tol) Banyurejo di Kapanewon Tempel, Sleman, Minggu. Warga yang tergabung dalam Forum Warga Terdampak Exit Tol Banyurejo tersebut memprotes rencana pemasangan pagar besi di sisi kiri dan kanan ruas jalan keluar jalan tol Yogyakarta – Bawen ini.
Dengan membawa poster dan spanduk, warga mempertanyakan kebijakan pemasangan pagar tersebut karena sebelumnya terdapat harapan agar masyarakat terdampak pembangunan tol tetap dapat memanfaatkan lahan yang menghadap jalan provinsi untuk kegiatan usaha.
Koordinator Forum Warga Terdampak Exit Tol Banyurejo, Agus Wintolo, mengungkapkan adanya pagar besi di ruas jalan provinsi Tempel-Exit Tol Banyurejo dinilai tidak menguntungkan bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi dan akan mempersulit para petani dan warga sekitar Exit Tol Banyurejo.
Tak sesuai harapan

Dikatakan kebijakan pemasangan pagar tersebut sama sekali tidak sesuai dengan harapan yang sebelumnya disampaikan pemangku kebijakan di DIY yang terkait keberlangsungan usaha masyarakat terdampak pembangunan jalan tol.
“Ngarso Dalem HB X menyatakan sikap bahwa jalan di DIY jangan mematikan UMKM, jalan tol wajib menyediakan lokasi untuk UMKM dan gratis,” terang Agus dalam orasi demonya.
Pemasangan pagar, katanya, akan mematikan akses dan ruang berusaha bagi warga setempat. Karena, tidak mungkin pengguna jalan tol yang keluar melalui exit tol ini akan berhenti dan mendekat ke tempat UMKM. Warga berharap pembangunan infrastruktur tetap memberikan ruang bagi kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, khususnya pelaku UMKM.
Ia menyebut hal tersebut sebelumnya juga telah ditegaskan oleh Kepala Dinas Tata Ruang. “Hal itu juga ditegaskan oleh Kepala Dinas Tata Ruang bahwa nanti masyarakat yang tanah digunakan untuk tol yang menghadap jalan provinsi dapat menjadi tempat usaha dan menjadi lahan kuning,” ujarnya.
Tidak ada tanggapan
Lebih lanjut Agus Wintolo menjelaskan, dengan pemasanan pagar, warga juga akan mengalami kesulitan untuk keluar masuk lahan pertanian dan permukiman mereka.
Meski disediakan jalan, namun jalan yang dibangun tersebut sangat sempit sehingga tidak memungkinkan mobil berpapasan. Menurut Agus, sebelumnya sebagian warga sudah berusaha melakukan pendekatan, namun ternyata tidak mendapat tanggapan.
Karena itu, warga kemudian turun ke jalan untuk menggelar aksi protes pemasangan pagar besi yang akan menyulitkan aktivitas warga. Hingga saat ini, operator pembangunan Jalan Tol Yogya – Bawen belum memberikan tanggapan terhadap keberatan warga tersebut. (AGT/N-01)






