
PERBEDAAN latar belakang agama tidak menjadi penghalang bagi Romo Adrianus Fani untuk menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Justru keberagaman yang ia temukan selama menjadi mahasiswa menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan akademiknya.
Romo Adrianus Fani merupakan salah satu wisudawan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026, Rabu (12/8/2026).
Berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pernah berkarya sebagai pastor di Jepang, Romo Adrianus memilih UIN Sunan Kalijaga sebagai ruang untuk memperdalam kajian Islam.
Beragam keyakinan
Sejak September 2024, ia menempuh pendidikan magister di Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai seorang imam Katolik, keputusan untuk belajar di perguruan tinggi Islam tersebut menjadi pengalaman yang mempertemukan dirinya dengan lingkungan akademik yang beragam.
“Pengalaman saya ketika berada di sini hemat saya luar biasa karena UIN Sunan Kalijaga itu menerima mahasiswa non-Muslim untuk belajar di sini. Ada romo, ada suster, ada teman yang beragama Hindu, dan itu kami belajar sama-sama dengan teman-teman Muslim di tempat itu. Itu satu hal yang luar biasa dan sangat menarik bagi saya,” ungkap Romo Adrianus.
Bagi Romo Adrianus, keberagaman yang ia temui di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bukan sekadar keberadaan mahasiswa dengan latar belakang agama yang berbeda.
Lebih dari itu, keberagaman menjadi pengalaman belajar bersama yang membentuk cara pandangnya terhadap relasi antarumat beragama.
Dukung satu sama lain
Selama menjalani studi, ia merasakan bagaimana mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda dapat saling belajar dan memberikan dukungan satu sama lain.
“Dengan adanya keberagaman seperti ini, saya yang adalah seorang romo Katolik juga belajar banyak hal dari teman-teman Muslim. Bahwa kita saling menghargai satu sama lain, kita saling mendukung satu sama lain dalam perjalanan akademik maupun dalam perjalanan di luar akademik,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang akademik dapat menjadi tempat penting untuk membangun perjumpaan lintas iman.
Perbedaan tidak ditempatkan sebagai sekat, tetapi menjadi kesempatan untuk mengenal perspektif yang berbeda sekaligus membangun hubungan yang saling menghargai.
Keterbukaan dan keberagaman
Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pengalaman Romo Adrianus menjadi salah satu gambaran bagaimana keterbukaan dan keberagaman dapat hadir dalam kehidupan kampus.
Lingkungan akademik menjadi ruang bersama bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar, berdiskusi, dan berkembang.
Pengalaman positif selama menempuh pendidikan membuat Romo Adrianus berharap keterbukaan tersebut terus dipertahankan UIN Sunan Kalijaga.
Ia berharap UIN Sunan Kalijaga terus memberikan ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk memperoleh pendidikan dan berkembang bersama.
“Pesan saya untuk UIN Sunan Kalijaga: tetaplah terbuka untuk mahasiswa-mahasiswa non-Muslim seperti saya atau juga teman-teman yang lain sehingga mereka juga ketika melamar untuk bersekolah di tempat ini diterima dan mereka belajar dengan penuh semangat, dan akhirnya bisa menamatkan diri sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,” pesannya.
Belajar satu sama lain
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas pengalaman Romo Adrianus selama menjalani pendidikan.
Bagi dirinya, keterbukaan kampus bukan hanya memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan yang memungkinkan mahasiswa belajar dari satu sama lain.
Perjalanan akademik Romo Adrianus juga menjadi bagian dari pengalaman hidupnya yang melintasi berbagai ruang. Berasal dari NTT dan pernah berkarya di Jepang, ia kemudian melanjutkan perjalanan intelektualnya di Yogyakarta dengan mempelajari Islam.
Pengalaman tersebut mempertemukan berbagai perspektif tentang agama, budaya, dan kehidupan masyarakat dalam satu perjalanan akademik.
Beri dukungan
Kisah kelulusan Romo Adrianus di UIN Sunan Kalijaga juga memiliki cerita personal yang menghangatkan. Di tengah momentum wisuda, seorang rekannya dari Jepang, Miss. Sumiko, hadir langsung ke Yogyakarta untuk ikut merayakan keberhasilan Romo Adrianus menyelesaikan pendidikan magisternya.
Sumiko mengenal Romo Adrianus sejak 2020 ketika ia berkarya di Kichijoji Catholic Church, Jepang. Selama sekitar lima hingga enam tahun, keduanya mengenal dan berinteraksi dalam lingkungan pelayanan di Jepang.
Kehadiran Sumiko di Yogyakarta menjadi bentuk dukungan personal atas perjalanan panjang Romo Adrianus menyelesaikan studinya.
“I’m here to celebrate Father Adri. And then I’m so happy to know that Adri is completing the Master’s program. And then I keep looking forward to seeing his study success in the PhD program,” ujar Sumiko.
Memberi makna khusus
Ia mengaku mengenal Romo Adrianus sejak 2020 dan melihat langsung bagaimana Romo Adrianus menjalani karya pastoral sekaligus melanjutkan pendidikan.
“I met Andi 2020. Since then, he was a father in the Kichijoji Catholic Church about 5-6 years. I know him very well, and he was working very hard. And then he’s really happy to be here to study Islamic studies,” ungkapnya.
Sumiko juga menyampaikan bahwa dirinya berusaha terus memberikan dukungan hingga Romo Adrianus dapat melanjutkan perjalanan akademiknya.
“I try to keep giving him support, and then until he complete his PhD program,” katanya.
Kehadiran Sumiko dari Jepang menambah makna tersendiri bagi hari kelulusan Romo Adrianus. Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga dirayakan oleh orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Lanjut program doktoral
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, perjalanan akademik Romo Adrianus tampaknya belum akan berhenti. Ia menyampaikan rencana untuk melanjutkan pendidikan doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Keinginan tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektual yang telah ia bangun selama berada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Setelah memperdalam kajian Islam pada jenjang magister, ia ingin kembali melanjutkan proses belajar di lingkungan akademik yang telah memberinya pengalaman tentang ilmu sekaligus keberagaman.
Kisah Romo Adrianus menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan yang melampaui perbedaan. Seorang pastor Katolik dari NTT yang pernah berkarya di Jepang, kemudian memilih belajar Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menemukan pengalaman belajar bersama mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah jenjang pendidikan. Ada pengalaman tentang belajar bersama, saling menghargai, saling mendukung, dan menemukan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan dalam perjalanan akademik maupun kehidupan.
Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kisah Romo Adrianus menjadi salah satu cermin bahwa keterbukaan terhadap keberagaman dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih luas, ruang di mana setiap orang dapat datang dengan latar belakangnya masing-masing, kemudian tumbuh bersama melalui ilmu dan perjumpaan. (AGT/N-01)







