
BAGI masyarakat Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, air bukanlah sesuatu yang langka atau sulit dicari.
Jaringan air pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) telah mengalir ke seluruh rumah dan gemercik air masih dapat ditemukan dengan mudah di ladang dan sela-sela lahan pertanian yang membentang di kaki Gunung Merbabu.
Meskipun demikian, musim kemarau selalu membuat masyarakat khawatir. Sebab sumber air pamsimas yang diandalkan warga ternyata tidak berasal dari titik yang cukup tinggi.
Sehingga ketika musim kemarau dan sumber air tersebut mulai mengalami kekeringan, debit air yang mengalir ke pamsimas pun ikut menyusut.
Mengandung belerang
Warga yang sepenuhnya bergantung pada air pamsimas untuk keperluan rumah tangga mulai kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sejatinya terdapat sumber air lain yang masih bisa dimanfaatkan.
Masyarakat menyebutnya sebagai ‘air Merbabu’. Sumber ini berasal dari titik yang lebih tinggi sehingga jarang mengalami kekeringan ketika musim kemarau.
Masalahnya adalah air dari sumber ini mengandung belerang. Selama bertahun-tahun, masyarakat banyak memanfaatkan air ini hanya untuk pertanian dan perkebunan.
Air ini jarang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan konsumsi karena kandungan belerang di dalamnya.
Filter air
Melihat kondisi ini, Tim KKN UGM Ngablak Akara bersama dengan warga Dusun Deles menginisiasi program pengadaan filter air. Gagasan dari program ini adalah untuk memanfaatkan air Merbabu yang berlimpah agar layak dikonsumsi melalui proses penyaringan.
Hasil penyaringan ini diharapkan dapat menjadi cadangan dan tambahan pasokan air, terutama di musim kemarau. Pemasangan filter air ini dilakukan tepat di dekat bak pamsimas yang sudah ada.
Pemilihan lokasi ini dilakukan supaya hasil filter air dapat terintegrasi langsung dengan sistem pengaliran pamsimas.
Air hasil penyaringan dapat langsung disalurkan ke rumah-rumah melalui infrastruktur distribusi yang sudah ada tanpa harus membangun dari nol.
Uji laboratorium
Tim KKN juga melakukan uji laboratorium terhadap sampel air sebelum dan sesudah penyaringan. Pengujian yang dilakukan di Labkesmas Kesehatan Lingkungan Salatiga meliputi uji E.coli, uji Coliform, uji fisika air, dan uji kimia air.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa air hasil penyaringan benar-benar sudah layak dikonsumsi, bukan hanya terlihat bersih secara kasat mata saja.
Yang membuat program ini istimewa bukan hanya mengenai teknis dari inovasi yang dihadirkan, tetapi juga proses dibaliknya.
Pengadaan filter air ini berhasil dilakukan melalui kerja samaberbagai pihak, yakni masyarakat Dusun Deles, pengurus pamsimas, dan pemerintah Desa Jogonayan.Masyarakat Dusun Deles secara bergotong royong turun langsung dalam proses pemasangan.
Pemanfaatan sains dan teknologi
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN, Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., mengapresiasi tinggi dedikasi mahasiswa serta partisipasi aktif seluruh elemen desa.
“Program KKN-PPM UGM ini merupakan bentuk nyata pemanfaatan sains dan teknologi tepat guna untuk menjawab permasalahan esensial masyarakat secara berkelanjutan. Sinergi yang terjalin antara mahasiswa, warga, dan pemerintah desa menjadi bukti bahwa sains hadir memberikan solusi nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Nada optimisme juga disampaikan oleh Tumarno, Kepala Desa Jogonayan, yang mengungkapkan rasa syukur atas solusi inovatif yang kini menjadi cadangan air bersih andalan warga saat kemarau. Bagi masyarakat Dusun Deles, inovasi filter air Merbabu ini adalah sebuah harapan baru yang sangat dinanti-nantikan.
“Kami tidak pernah terpikirkan bahwa air belerang ini dapat diolah dengan cara tertentu sehingga bermanfaat untuk rumah tangga. Kami sangat bersyukur,” ucap Tumarno.
Teknologi tepat guna
Melalui program ini, air yang selama ini hanya dianggap sebagai ‘air pertanian’ mendapatkan kesempatan untuk dapat menjadi lebih bermanfaat.
Program ini juga menjadi pengingat bahwa ketahanan air tidak melulu tentang bagaimana mencari sumber baru, tetapi mengenai bagaimana memanfaatkan secara lebih bijak dengan menggunakan teknologi tepat guna. (AGT/M-01)






