
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jabar mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara month to month, pada Juli 2026. Dengan tingkat inflasi tahun kalender year to date, mencapai 1,64 persen dan inflasi tahunan year on year, berada pada angka 2,72 persen.
“Deflasi Juli 2026 dipengaruhi oleh pasokan bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit yang melimpah seiring adanya panen raya di sejumlah wilayah produsen seperti Kabupaten Bandung dan Garut,” ungkap Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati pada Senin (3/8).
“Penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga terjadi akibat berkurangnya permintaan selama masa libur sekolah karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan,” lanjutnya.
Menurut Ari, secara spasial, dari 10 kabupaten/kota, IHK di Jabar, 8 wilayah mengalami deflasi dengan deflasi terdalam terjadi di Kota Bekasi 0,14 persen. Sementara 2 wilayah mengalami inflasi, yakni Kota Depok 0,13 persen dan Kabupaten Subang 0,08 persen.
Penyumbang deflasi

Komoditas yang menyumbang andil deflasi tertinggi yaitu bawang merah sebesar 0,09 persen, cabai merah sebesar 0,07 persen. Emas perhiasan 0,07 persen, cabai rawit sebesar 0,05 persen, dan telur ayam ras sebesar 0,04 persen.
Secara year on year, Jabar pada Juli 2026 mengalami inflasi 2,72 persen. Kota Bekasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 2,87 persen, sedangkan Kota Cirebon mengalami inflasi terendah sebesar 2,28 persen.
“Secara umum deflasi pada Juli 2026 disebabkan turunnya komoditas hortikultura, daging ayam ras dan telur ayam ras. Adanya penurunan permintaan dari dapur MBG juga menjadi salah satu faktor turunnya harga. Selain itu penurunan harga BBM non subsidi juga mempengaruhi deflasi di Jabar,” terangnya.
Padi dan palawija
Ari menambahkan, untuk Nilai Tukar Petani (NTP), pada Juli 2026 tercatat sebesar 119,04, atau naik tipis 0,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,02 persen dan penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,04 persen. Komoditas yang mendorong kenaikan Indeks harga yang diterima petani yaitu gabah, ketimun, mangga, buncis.
Sedangkan komoditas yang mendorong turunnya indeks harga dibayar petani yaitu telur ayam ras, bawang merah, cabai rawit dan daging ayam ras. Dari sisi subsektornya, kenaikan NTP hanya terjadi pada subsektor tanaman pangan dengan kenaikan sebesar 0,60 persen. Kenaikan ini dipicu oleh naiknya komoditas padi dan palawija.
Kesejahteraan peternak
Sebaliknya, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) mengalami penurunan sebesar 0,07 persen menjadi 123,69 akibat biaya produksi dan penambahan barang modal yang mengalami kenaikan 0,09 persen.
Komoditas yang dominan mempengaruhi kenikan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal adalah naiknya upah membajak, naiknya harga pupuk TSP/SP36, naiknya harga bibit bawang daun.
“Pada NTUP subsektor peternakan angkanya mendekati 100 yang artinya daya tukar peternak hampir mendekati tahun dasar 2018=100. Sehingga perlu upaya meningkatkan kesejahteraan peternak di Jabar,” paparnya.
Sektor Pariwisata Fluktuatif
Sementara itu sebut Ari, kunjungan wisman yang masuk secara langsung melalui Bandara Internasional Kertajati pada Juni 2026 tercatat sebanyak 477 kunjungan, melonjak 97,93 persen dibanding Mei 2026.
Wisatawan asal Singapura mendominasi proporsi kedatangan sebesar 54,09 persen. Tren kunjungan sejak 2024 hingga 2026 masih dipengaruhi oleh dinamika rute dan jumlah penerbangan Internasional yang masih aktif di Bandara Kertajati. Sedangkan kedatangan WNA yang menggunakan WHOOSH sepanjang Juni 2026, tercatat 17.877.
Stasiun Padalarang menjadi pintu kedatangan utama WNA dengan kontribusi mencapai 86,46 persen, diikuti Stasiun Tegalluar sebesar 12,05 persen dan Statisun Karawang sebesar 1,48 persen. Jadi selama periode Januari – Juni 2026 jumlah kunjungan WNA menggunakan WHOOSH ke Jabar mencapai 87.751 kunjungan.
“Data lainnya untuk wisatawan nusantara (wisnus), perjalanan wisnus pada Juni 2026 mencapai 18,67 juta perjalanan atau turun 4,37 persen dibandingkan bukan sebelumnya.”
Pariwisata
“Secara akumulatif (Januari–Juni 2026), total perjalanan wisnus menyentuh 112,12 juta perjalanan naik 4,69 persen, dibandingkan periode yang sama tahun 2025.”
“Kawasan Bodebek dan Bandung Raya menjadi destinasi utama dengan pangsa pasar mencapai 52,15 persen,” bebernya.
Meskipun terjadi penurunan pada perjalanan wisnus lanjut Ari, namun Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel justru mengalami kenaikan. TPK hotel berbintang pada Juni 2026 mencapai 51,05 persen atau naik 2,85 poin secara m-to-m, dengan TPK tertinggi berada di Kabupaten Karawang sebesar 72,11%, diikuti Kota Tasikmalaya sebesar 63,22 persen, dan Kabupaten Purwakarta sebesar 62,48 persen.
Sedangkan untuk hotel non bintang, TPK Juni 2026 tercatat sebesar 25,56 persen atau turun 0,63 poin secara m-to-m namun secara y-on-y naik 2,42 poin.
Penumpang Kereta Masih Dominan
Ari menyatakan, untuk jumlah penumpang pada penerbangan domestik yang berangkat melalui angkutan udara komersial dari Jabar tercatat sebanyak 394 orang atau turun 3,67 persen secara m to m.
Hal yang sama terjadi pada penerbangan internasional yang turun sebesar 93,94 persen secara m to m, atau hanya sebanyak 765 orang akibat berakhirnya keberangkatan Jemaah haji dari Bandara Kertajati.
Namun demikian, penumpang yang menggunakan kereta api mengalami kenaikan 1,80 persen secara m-to-m atau mencapai 2,43 juta orang. Sama halnya dengan penumpang Whoosh yang tercatat sebanyak 267 ribu orang atau naik 3,73 persen secara m-to-m.
“Secara kumulatif penumpang angkutan kereta api tumbuh 9,57 persen sepanjang tahun 2026, sedangkan penumpang Whoosh tumbuh 0,61 persen,” imbuhnya (zahra/M-01)






