
INDONESIA dipastikan akan segera berhenti mengimpor solar setelah penerapan kebijakan mandatori biodiesel B50. Penegasan itu dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Kamis.
“Tentu saja dengan implementasi B50, kita tidak lagi melakukan impor produk solar. Awalnya, kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun,” ujar Bahlil dalam peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Bahlil memaparkan total konsumsi solar dalam negeri berada di kisaran 38 juta sampai dengan 40 juta kiloliter solar per tahun. Karena itu sebelumnya mereka harus impor. Namun dengan penerapan B50, impor itu tidak diperlukan lagi.
Masa transisi
Lebih lanjut Bahlil menyampaikan sebanyak 57,6 persen stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sudah menyalurkan biodiesel B50. Badan usaha yang masih memiliki persediaan B40 diberi kesempatan untuk menyalurkan bahan bakar tersebut sampai 30 September mendatang.
“Nanti setelah transisi, semuanya sudah pakai B50,” ujar Bahlil.
Aman untuk mesin
Bahlil juga menjamin kualitas biodiesel B50 aman untuk mesin mobil Asia dan Eropa. Sebab mereka sudah melakukan uji B50 sebelumnya selama kurang lebih enam bulan.
“Tidak hanya dites di Toyota, di Mercedes pun oke. Jadi, ini dari Asia sampai Eropa semua kita bikin,” ujar Bahlil.
Penilaian tersebut berdasarkan penggantian filter yang dilakukan saat uji jalan. Pada biodiesel B40, kata dia, filter diganti pada penggunaan 10 ribu-20 ribu km. Sementara itu, pada masa uji jalan B50, Bahlil mengungkapkan terdapat kendaraan yang belum mengganti filter meski telah menempuh 40 ribu km.
“Kami memaknai arahan dan perintah Bapak Presiden tidak hanya persoalan B50-nya, tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa untuk bisa kita menghasilkan energi dari negara kita sendiri,” ujar Bahlil. (*/N-01)







